Deklarasi Perang Militer Yaman Melawan Israel Menjadi Game Changer di Kawasan

Pengamat Media dan Politik. Penggiat Kajian Filsafat, Mistisisme Timur dan Cultural Studies. Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas
Tulisan dari Muhammad Thaufan Arifuddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Juru bicara militer Houthi di Yaman, Yahya Saree, baru saja pada Selasa kemarin (31/Oktober 2023) mengumumkan sikap militer Houthi Yaman untuk membela Gaza Palestina dari penindasan dan kezaliman rezim Israel.
Militer Houthi di Yaman mewakili sikap politik yang paling revolusioner dan terbuka di Kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah untuk berhadapan langsung dengan Israel.
Video pernyataan Yahya Saree mewakili militer Houthi Yaman dapat disaksikan di video singkat yang disebarkan melalui platform Instagram di bawah ini (https://www.instagram.com/p/CzETmrjJaLa/).
Yahya Saree adalah perwakilan dari gerakan perlawan dan militer Houthi yang sejak bulan September 2014 berhasil merebut ibu kota Yaman, Sanaa, dan menggulingkan pemerintahan Abdur Rabbuh Mansur Hadi yang didukung oleh Barat dan sekutunya di Timur Tengah.
Yahya Saree dengan lantang mengatakan bahwa militer Houthi Yaman akan mengerahkan segala kemampuan, jaringan militer dan kekuatan persenjataanya untuk melawan penindasan Israel di Gaza Palestina yang telah memakan korban sipil kurang lebih 7000 orang.
Yahya Saree mengatakan bahwa militer Houthi Yaman akan meluncurkan sejumlah besar rudal balistik dan jelajah serta sejumlah besar drone ke berbagai sasaran musuh Zionis Israel di Wilayah Pendudukan Palestina.
Militer Houthi yang merepresentasikan kekuatan militer Yaman hari ini juga menegaskan bahwa operasi mereka merupakan operasi ketiga dalam mendukung saudara-saudara muslim yang tertindas di Gaza Palestina dan melanjutkan serangan yang lebih tepat dengan rudal dan drone kecuali agresi rezim Israel berhenti.
Posisi rakyat Yaman terhadap perjuangan Palestina adalah mendukung penuh rakyat Palestina karena mereka mempunyai hak penuh untuk membela diri dan menggunakan hak penuh mereka. Menurut Yahya Saree, invasi terhadap Gaza oleh Israel dilakukan dengan dukungan Amerika Serikat dan keterlibatan beberapa rezim.
Oleh karena itu, tanggung jawab militer Yaman di bawah komando militer Houthi Yaman untuk mendukung Gaza secara nyata dengan menembakkan rudal balistik dan jelajah ke arah pasukan militer Israel yang berada di wilayah pendudukan mereka di Palestina.
Bantuan konkret perlawanan dan militer Yaman yang diwakili oleh militer Houthi kepada Palestina potensial menjadi game changer dalam serangan genosida Israel di jalur Gaza. Sebab militer Houthi bukanlah kekuatan militer dan politik yang lemah karena ia mampu mendominasi kompleksnya persaingan politik militer dan perang sipil yang masih terlihat feodal di Yaman sejak tahun 2014.
Di sisi lain, teologi politik yang dikembangkan oleh militer Houthi adalah perlawanan terhadap kezaliman penguasa di internal Yaman dan perlawanan terhadap kekuatan luar yaitu aliansi Barat dan sekutunya di Timur Tengah yang berkepentingan secara ekonomi politik terhadap Yaman. Slogan militer Houthi adalah "Tuhan Maha Besar, Kematian untuk Amerika dan Israel, Kutukan untuk Yahudi dan Kemenangan untuk Islam."
Alhasil, keputusan militer Yaman untuk mendukung rakyat Gaza Palestina dalam melawan penindasan dan kebiadaban Israel tentu menjadi game changer di kawasan, tetapi sangat berbahaya bagi Yaman karena mendorong sekutu Israel yaitu Amerika dan Inggris untuk terlibat membantu kepentingan Israel.
Di sisi lain, ini adalah momen menyatukan kekuatan politik di internal Yaman dan bahkan bisa membangunkan Liga Arab dari tidur panjang untuk berani membela Palestina dan menekan Israel dan sekutunya di kawasan demi membela kepentingan ekonomi politik Arab yang lebih autentik dan otonom.
Namun, aspek lain yang luput dipahami oleh publik bahwa militer Houthi Yaman adalah militer yang digerakkan oleh doktrin spiritual Shiah Zaidiah yang menjadikan perlawanan politik mereka terhadap kezaliman adalah fondasi penting dalam kehidupan sosial politik mereka hingga kedatangan Imam Mahdi dan Nabi Isa yang dijanjikan oleh agama Ibrahimik baik Yahudi, Kristen dan Islam secara tersurat maupun tersirat.
