Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.0
12 Ramadhan 1446 HRabu, 12 Maret 2025
Jakarta
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45
Konten dari Pengguna
Kesedihan Anak-Anak Gaza dalam Film Born in Gaza
13 Oktober 2023 10:52 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari Muhammad Thaufan Arifuddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Konflik ini tak memiliki ujung. Hanya menyisakan korban yang tak terkira, terutama anak-anak yang tak berdosa dan seharusnya tak mewarisi kebencian dua negara dan bangsa yang bertikai ini demi supremasi agama dan politik.
Film ini memotret pengepungan Gaza pada tahun 2014 yang mengakibatkan 507 anak tewas dan 3. 598 terluka. Film ini mencoba mendalami psikologi sekelompok anak-anak Palestina di wilayah Gaza yang tumbuh di zona perang. Film ini tentang perasaan dan cita-cita sederhana anak-anak untuk hidup damai dan bisa melihat masa depan yang cerah.
Namun, dalam tatapan bola mata mereka yang redup, anak-anak ini merasa tak punya harapan di balik perang yang tiba-tiba bisa terjadi kapan saja. Mohamed yang berusia 13 tahun dalam film ini berkata bahwa ia sering berpikir tentang situasi perang ini dan berharap segera berakhir.
ADVERTISEMENT
Anak-anak yang ditampilkan dalam film dokumenter ini benar-benar secara psikologis harus dewasa sebelum waktunya. Mereka dipaksa oleh keadaan untuk memahami keadaan yang terjadi.
Mereka harus menikmati masa kanak-akan mereka tanpa makanan yang cukup dan ruang bermain yang aman karena sektor ekonomi Palestina dimatikan oleh Israel dan wilayah Gaza berada dalam zona perang yang berbahaya.
Dalam film ini, seorang anak di Gaza terpaksa mencari uang dengan mengumpulkan sampah plastik bersama kuda kesayangannya. Ada anak yang kesal tak punya lagi lahan untuk berkebun dan menanam sayur.
Ada juga yang ingin sekadar menjadi nelayan yang baik. Namun, anak-anak Gaza ini secara psikologis terlihat trauma karena perang dan bahkan ada yang terluka karena berada di dekat lokasi ledakan bom dan rudal Israel.
Anak-anak Gaza dalam film dokumenter ini seolah tak punya rasa takut lagi dan tetap merasa bebas dalam wilayah yang dikepung oleh Israel. Mereka telah terbiasa mendengar suara senjata dan bom.
ADVERTISEMENT
Mereka juga tetap bermain dalam wilayah terbatas di darat maupun di laut. Di darat, mereka hanya bisa bermain di lokasi-lokasi tertentu. Sedangkan di laut, mereka hanya bisa mencari ikan bersama keluarganya hanya jarak sejauh 6 mil dari pantai.
Perang memang hanya menyisakan darah dan air mata. Film dokumenter ini mencatat bahwa hanya dalam satu bulan dari Agustus ke September pada tahun 2014 terdapat 1500-an lebih korban berjatuhan di Palestina. Korban ini didominasi oleh anak-anak dan perempuan.
Alhasil, perang selalu mengorbankan masa depan anak-anak. Politik, negara, militer dan senjata telah merampas kehidupan mereka. Mereka tak ingin mewarisi kebencian dari elite politik dan generasi tua sebelum mereka. Namun, kebencian ini masih tetap diwariskan oleh kedua belah pihak baik Israel maupun Palestina dengan berbagai alasan politik dan agama.
ADVERTISEMENT
Nasib anak-anak Palestina di Gaza benar-benar tragis. Entah berapa banyak sudah, nyawa anak-anak melayang. Dan, entah berapa banyak lagi anak-anak yang akan menjadi korban sebelum kedua belah pihak benar-benar berdamai dan menghapus kebencian di hati dan benak mereka.