Narasi Antipatriarki dalam Film Fair Play

Pengamat Media dan Politik. Penggiat Kajian Filsafat, Mistisisme Timur dan Cultural Studies. Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Thaufan Arifuddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fair play bukan idealisme dalam setiap event olahraga. Fair Play adalah film yang baru rilis di Netflix minggu ini di bulan Oktober 2023. Film ini disutradarai oleh Chloe Domont dan diperankan oleh Phoebe Dynevor sebagai Emily, Alden Ehrenreich sebagai Luke, Eddie Marsan sebagai Campbell, Rich Sommer sebagai Paul.
Film ini menampilkan peran antagonisme Luke yang merasa dikalahkan oleh pasangannya Emily yang secara mengejutkan dipromosikan ke level lebih tinggi oleh bosnya, Campbell. Ironisnya, Luke baru saja melamar Emily dan segera menikah. Luke juga yang terlihat lebih terobsesi untuk segera dipromosikan oleh Campbell.
Setelah Emily promosi, perasaan Luke seolah berubah. Luke seolah lebih terobsesi kepada pekerjaan daripada mencintai Emily. Emily pun mencoba memahami perasaan Luke dan berjanji membantu Luke untuk promosi. Tetapi Luke tidak berubah dan malah semakin dingin terhadap Emily.
Emily pun merasa tertekan karena kedua orang tuanya telah mengetahui informasi pertunangannya dan memintanya segera membuat pesta pertunangan.
Waktu berjalan, Luke tak juga bisa naik jabatan. Ada kesuksesan dan kegagalan Luke dalam moment mencari promosi baru. Emily juga berusaha membantu Luke dan mempertaruhkan reputasinya secara diam-diam.
Tetapi, Luke semakin impulsif dan memperlihatkan watak yang semakin buruk dan radikal ketika permintaannya untuk promosi ditolak mentah-mentah oleh Campbell.
Suatu ketika, Emily sedang memberikan presentasi di depan klien calon investor dari Rusia, tiba-tiba Luke membajak presentasi itu dan mempermalukan Emily. Luke menghilang dan tiba-tiba muncul di moment pesta pertunangan mereka yang telah dihadiri oleh orang tuan Emily.
Mereka berdua bertengkar hebat di pesta itu dan akhirnya berujung kepada proses seksualisme yang berujung kepada cacat estetika dari praktik seksualisme mereka berdua yang awalnya bersifat konsensual.
Dengan kata lain, Luke terlihat memperkosa tunangannya, Emily. Emily terpukul dan hubungan mereka berdua pun di ujung tanduk. Ketika Luke meminta izin untuk meninggalkan apartemen yang mereka tempati bersama, Emily pun menyesali sikap Luke yang hendak pergi tanpa merasa bersalah dan meminta maaf dari peristiwa seksualisme mereka yang minim estetika.
Emily pun mengambil pisau dan menusuk Luke hingga terluka. Di saat Luke meminta maaf dan merasa bersalah karena mengikuti obsesinya, Emily segera mendekati Luke dan mengatakan dengan tegas bahwa hubungan mereka berakhir. Di sinilah antipatriarki dan makna fair play yang dimainkan oleh Emily terhadap Luke yang mencoba mengalahkan dan merendahkannya berkali-kali.
Problem utama dalam film ini adalah prosesi seksualismenya telah mendominasi narasi anti-patriarki. Bahkan seksualisme menjadi bagian dari narasi dominan film ini yang membuatnya akan semakin sukses sebagai film komersil. Inilah kutukan film Barat. Film ini akhirnya hanya bisa ditonton oleh kalangan dewasa saja.
