Perubahan, Masalah dan Solusi Sosial-Budaya di Era Digital

Pengamat Media dan Politik. Penggiat Kajian Filsafat, Mistisisme Timur dan Cultural Studies. Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas
Tulisan dari Muhammad Thaufan Arifuddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Para ilmuwan sosial secara umum mendefinisikan perubahan sosial sebagai perubahan, modifikasi, atau transformasi signifikan dalam pengaturan aktivitas sosial dan hubungan manusia. Contoh perubahan sosial adalah industrialisasi yang terkait dengan globalisasi, rasionalisme, urbanisasi, ledakan informasi dan revolusi media sosial yang bersifat digital (Dillon, 2014; Lim, 2017).

Macionis (1987) lebih spesifik mendefinisikan perubahan sosial sebagai transformasi yang terjadi dalam organisasi masyarakat baik dalam pola pikir maupun perilaku pada waktu tertentu. Definisi ini relatif sama dengan padangan Ritzer dkk. (1987) yang mendefinsikan perubahan sosial secara umum mengacu kepada variasi hubungan antar-individu, kelompok, organisasi, kultur, dan masyarakat pada waktu tertentu. Dalam konteks ini, periode dan waktu tertentu dalam definisi perubahan sosial ini adalah era digital yang nyata dan memiliki dampak sosial hari ini.
Kajian perubahan sosial dalam wacana sosial politik tentu lebih fokus mengamati secara empiris segala perubahan yang telah terjadi, faktor-faktor yang mentrigger perubahan, dan konsekuensi konkret dari adanya perubahan sosial dan politik yang terjadi terutama di era digital dan media sosial hari ini (Lim, 2017).
Kajian perubahan sosial banyak dipengaruhi oleh teori sistem dan teori dinamika kehidupan sosial yang diarahkan untuk memahami karakter dan tipe proses sosial yang terjadi terutama dalam melihat bentuk proses sosial yang terjadi, hasil yang diakibatkan, kesadaran tentang proses sosial di kalangan anggota masyarakat, kekuatan yang menggerakan perubahan, tingkat proses perubahan sosial, dan jangka waktu berlangsungnya proses sosial (Jones, 2016).
Sejatinya, trigger perubahan sosial tidak tunggal dan membutuhkan analisis. Walaupun sulit untuk diidentifikasi, tetapi beberapa faktor bisa disebutkan misalnya inovasi teknologi, ide-ide transformatif-revolusioner, adanya konflik, target mengejar profit, dan faktor gerakan sosial (Ferranto, 2011; Koentjaranigrat, 1985).
Proses perubahan sosial dapat berdampak kepada perubahan yang revolusioner atau perubahan yang reformatif (Toyoda, 2012). Misalnya mobilisasi gerakan sosial dapat melahirkan kelompok, organisasi dan parpol baru, berkembangnya teknologi digital di era Copid 19, atau bahkan pergantian rezim politik di sebuah negara dari rezim otoriter ke rezim demokratis (Sztompka, 2004).
Perubahan sosial juga sangat terkait dengan perubahan budaya karena budaya berlangsung di arena sosial. Perubahan budaya menyasar perubahan pola pikir, sikap, perilaku dan produk budaya dalam masyarakat (Koentjaraningrat, 1990).
Perubahan budaya dalam masyarakat terjadi karena proses difusi, akulturasi dan asimilasi (Heider, 1997; Haviland, 1988). Proses difusi budaya kontemporer misalnya dari berbagai belahan dunia kini terjadi melalui media sosial yang bersifat digital. Setiap individu dan masyarakat terpapar oleh budaya digital hari ini.
Proses akulturasi kontemporer hari ini dapat disaksikan dalam adopsi budaya Korea (K-Pop) dan Jepang (Weibu) dalam kehidupan anak muda millenial dan Gen Z yang masih mengutamakan nasionalisme dan budaya Indonesia. Dan proses asimilasi kontemporer bisa dilihat dalam mindset rasionalisme-mistis di tengah masyarakat dalam dua dekade terakhir.
Tetapi yang harus diantisipasi dari perubahan sosial dan budaya adalah munculnya residu dan patologi masalah sosial budaya baik yang bersifat individual maupun sistemik. Menurut Soerjono Soekanto (2002), masalah sosial budaya sangat terkait nilai-nilai sosial dan moral. Masalah tersebut dianggap persoalan karena menyangkut tata kelakuan yang immoral, berlawanan dengan hukum dan bersifat merusak.
Paling tidak masalah sosial budaya diawali oleh keresahan moral sebagian orang melihat perilaku amoral dari individu atau kelompok tertentu dalam masyarakat, lalu perilaku amoral itu menjadi keresahan umum, lalu ada upaya bersama dari individu dan masyarakat dalam mengatasi masalah sosial budaya yang ada. Tetapi, masalah sosial budaya tentu kini berkembang semakin kompleks dan canggih karena melibatkan kemajuan teknologi digital dan media sosial.
Hal senada dikatakan oleh Rubington dan Weinberg (1989) yang melihat masalah sosial sebagai suatu kondisi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut oleh sebagian warga dan terdapat konsensus bahwa masyarakat harus bersatu untuk mengatasi kondisi tersebut.
Masalah sosial budaya akan senantiasa ada dalam masyarakat karena adanya faktor-faktor yang menfasilitasi terjadinya krisis dan konflik dalam masyarakat. Faktor-faktor yang mentrigger masalah sosial adalah faktor kemajemukan, kesenjangan ekonomi, primordialisme dan etnosentrisme, rasa sentimen, kurangnya pemahaman multikultur, kesenjangan sosial, permasalahan politik, rasa ketidakpercayaan pada pemimpin bangsa, dan atau pengaruh budaya luar. Tentu, faktor-faktor ini kini beroperasi di samping secara offline juga secara online digital.
Dampak lebih jauh dari masalah sosial budaya adalah meningkatnya jumlah kriminalitas, adanya kesenjangan antar kelas sosial, perpecahan kelompok, munculnya perilaku menyimpang, meningkatnya pengangguran dan berbagai hal yang dimungkinkan, apalagi teknologi digital dan media sosial semakin mempermudah.
Solusi dari masalah sosial budaya di era digital ini tentu sangat tergantung kepada konteks masing-masing misalnya menggencarkan dan menghidupkan kembali kearifan budaya lokal masyarakat, menanamkan mindset pluralisme dan multikulturalisme, memfilter kebudayaan yang masuk, menanamkan jiwa nasionalisme, dan bahkan mengurangi fanatisme melalui literasi politik, kampanye media digital dan gerakan media sosial.
Alhasil, perubahan sosial budaya di era digital hari ini semakin tak terhindarkan. Perubahan adalah hakikat paling fundamental dari kenyataan hidup ini. Tetapi setiap perubahan juga harus mengantisipasi lahirnya masalah sosial budaya yang semakin canggih seiring perubahan sosial budaya di era digital ini.
Modernitas dan kapitalisme tentu awalnya menjadi faktor perubahan sosial budaya masyarakat di seluruh dunia terutama di awal abad ke-20, tetapi hari ini, modernitas dan kapitalisme melahirkan masalah sosial budaya dan bahkan ekologis. Manajemen krisis, literasi politik, kampanye media digital dan gerakan sosial media sangat diperlukan untuk mengantisipasi berbagai dampak buruk dari perubahan sosial budaya dan bahkan ekologis di era digital hari ini.
