Konten dari Pengguna

Prinsip-prinsip Jalan Spiritual Menurut Jalaluddin Rumi

Muhammad Thaufan Arifuddin

Muhammad Thaufan Arifuddin

Pengamat Media dan Politik. Penggiat Kajian Filsafat, Mistisisme Timur dan Cultural Studies. Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Thaufan Arifuddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Prinsip pertama adalah mencari Tuhan harus dilakukan melalui guru spiritual. Dan tentu guru spiritual terbaik adalah Tuhan sendiri. Jika Tuhan telah menjadi mata dan telinga, maka kedekatan dengan Tuhan semakin baik.

Jalan spiritual sufi selalu dalam taufik Tuhan. Foto: https://www.pexels.com/
zoom-in-whitePerbesar
Jalan spiritual sufi selalu dalam taufik Tuhan. Foto: https://www.pexels.com/

Prinsip kedua adalah beribadah secara konstant kepada Tuhan melalui jalan zikir. Ingatan kepada Tuhan tak pernah terputus. Tuhan adalah puncak kesadaran dan ingatan kaum Sufi.

Prinsip ketiga adalah sufi dapat menggunakan musik sufi untuk membantu memperkuat zikir kepada Tuhan. Rumi menciptakan tarian Sufi yang diiringi musik sufi untuk menguatkan zikir dan ingatan.

Prinsip keempat adalah Tuhan berada dalam diri manusia. Manusia harus menaklukkan ego atau jiwa kebinatangannya untuk menyingkap Tuhan dalam diri.

Allah adalah tujuan dan Muhammad adalah teladan para sufi. Foto: https://www.pexels.com/

Prinsip kelima adalah pengalaman spiritual langsung lebih penting dari pengetahuan logis dan rasional. Pengalaman spiritual adalah pengalaman cinta yang melampaui nalar manusia.

Prinsip keenam adalah mengendalikan kemarahan, nafsu, dan keserakahan materialistik dimulai dari mengendalikan pikiran. Semua berawal dari pikiran. Tuhan berada dalam pikiran manusia seperti Hadis Qudsi bahwa Saya (Tuhan) aktual menurut prasangka hambaku.

Prinsip ketujuh adalah ibadah dan keimanan menjadi fondasi utama sufisme. Tanpa ibadah dan keimanan maka tak ada sufisme.

Prinsip kedelapan adalah saat memulai perjalanan spiritual sufisme maka penderitaan meningkat untuk membersihkan dosa. Setiap perjalanan spiritual memiliki tantangan dan ujian di setiap stasiun spirituali sufisme.

Prinsip kesembilan adalah makna baik dan buruk berbeda dalam perjalanan spiritual di setiap stasiun spiritual sufisme. Baik dan buruk adalah pengalaman spiritual.

Perjalanan spiritual dimulai dari berjalan menuju masjid. Foto: https://www.pexels.com/

Prinsip kesepuluh adalah dalam perjalanan spiritual akan berjalan sesuai hukum aksi reaksi dan sebab akibat. Pejalan yang naik lebih cepat dan tinggi akan cepat sampai dan jatuh lebih keras.

Prinsip kesebelas adalah kekuatan yang dimillik oleh pejalan spiritual adalah karunia dari Tuhan sebagai guru spiritual langsung. Tuhan akan mengajarkan langsung kepada makhluknya yang berpikir dan ikhlas.

Prinsip keduabelas adalah untuk menempuh perjalanan spiritual dan menjadi pecinta Tuhan maka dibutuhkan keberanian besar. Hal ini karena tak mudah menempuh perjalanan spiritual dalam sufisme. Stasiun spiritualnya panjang dan penuh ikhtiar.

Prinsip ketigabelas adalah setiap pejalan spiritual harus bisa mengalahkan nafsu hewaniahnya jika hendak menyelesaiakn perjalanan spiritualnya dan mencapai Tuhan.

Allah adalah Tuhan sejati yang menjadi tujuan Fana para sufi. Foto: https://www.pexels.com/

Alhasil, prinsip-prinsip jalan spiritual sufisme menurut Rumi harus fokus kepada aspek internal jiwa manusia seperti menyempurnakan ketulusan dan keikhlasan dalam beriman dan melawan ego atau nafus kebinatangan dalam diri.

Perjalanan seorang Sufi biasanya terdiri dari empat tahap yaitu pertama adalah penghapusan bertahap nafsu kebinatangan sehingga kualitas yang lebih tinggi muncul dalam diri. Kedua adalah menyucikan hati dan memenuhinya dengan cinta dan kasih hanya kepada Tuhan.

Ketiga adalah mengingat Tuhan secara konstan dan konsisten. Keempat adalah tahap terakhir yaitu adalah penyatuan bersama Tuhan. Hal ini dikenal oleh sufi sebagai Fana atau hilangnya diri dan hidup dan yang ada hanya realitas Tuhan.

Rumi berkata bahwa hati hanyalah lautan cahaya. Tempat Tuhan bersemayam. Tuhan ditemukan di dalam hati. Bahkan surga berada di dalam hati.

Fana terjadi melalui karunia Tuhan. Rumi berkata apa yang Tuhan telah katakan kepada bunga Mawar, dan membuatnya tertawa dengan keindahan yang sempurna. Tuhan juga telah mengatakannya kepada hatiku, dan membuatnya seratus kali lebih indah.

Alhasil, selamat mencoba prinsip-prinsip spiritual sufisme Jalaluddin Rumi. Semoga anda dikarunia untuk sampai kepada Tuhan. Semoga.