Puasa Sejati Menurut Abdul Qadir Al-Jailani

Pengamat Media dan Politik. Penggiat Kajian Filsafat, Mistisisme Timur dan Cultural Studies. Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Muhammad Thaufan Arifuddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Siapa yang tidak mengenal Abdul Qadir Al-Jailani. Beliau dikenal sebagai sufi agung dan pendiri thariqat Qadiriyah yang ternyata nasabnya bersambung kepada Rasulullah SAW baik dari pihak ayah maupun ibunya.
Beliau mengajarkan banyak hal yang sangat mendalam dan penuh kasih sayang terkait ajaran Islam. Inti ajaran sufistik Abdul Qadir Al-Jailani seperti tersirat dalam ajaran thariqat Qadiriyah adalah kelembutan, kerendahhatian, ketabahan dan kesyukuran. Hal yang lazim kita temui dalam karakter masyarakat Indonesia.
Salah satu hal yang diajarkan oleh Abdul Qadir Al-Jailani adalah puasa yang sejati. Karena puasa tidaklah mudah dan bukan sekadar fisik semata. Nabi bersabda bahwa banyak yang berpuasa, tetapi sesungguhnya tidak benar-benar tiba pada makna puasa karena sekadar lapar dan dahaga.
Puasa adalah ibadah yang sangat sakral dan indah di mata Tuhan karena firman-Nya dalam hadis Qudsi bahwa puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya. Orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu ketika berbuka dan ketika melihat keindahan-Ku.
Dalam kitab Sirrul Asrarnya (2023), Abdul Qadir Al-Jailani menjelaskan bahwa puasa sejati (puasa tarekat) berbeda dari puasa yang bersifat ragawi (puasa syariat). Puasa yang sejati adalah laku jiwa menahan diri dari penyakit jiwa dan mencintai selain Allah. Puasa yang sejati berbuka saat di surga dengan memakan semua kenikmatan-Nya dan bahkan bertemu dengan Allah SWT.
Alhasil, puasa dapat bersifat ragawi berbasis syariat dan juga dapat menjadi laku tarekat. Puasa syariat adalah menahan diri dari makan, minum dan hubungan seksual pada siang hari, sedangkan puasa tarekat adalah menahan seluruh anggota tubuh dari segala perbuatan yang diharamkan, yang dilarang dan sifat-sifat tercela seperti ujub, sombong, kikir dan lainnya secara lahir batin dan siang dan malam.
Puasa syariat terbatas waktu, sedang puasa tarekat sepanjang waktu dan usia. Di ujung Ramadhan tahun 2024 ini, marilah kita berdoa dengan cinta yang paling dalam, semoga kiranya puasa kita di Ramadhan kali ini bukan sekadar puasa syariat, tetapi lebih dalam masuk ke dalam hakikat puasa tarekat sehingga diberi ganjaran yang sangat mulia di sisi Allah SWT.
