ICANTESIMO, Bergaya Seni Era 90an dari Sebastian Gunawan Couture 2020

The Shonet adalah platform lifestyle untuk perempuan dan millenials di Indonesia. Yuk kenal lebih dekat di theshonet.com
Tulisan dari The Shonet tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ICANTESIMO, Bergaya Seni Era 90an dari Sebastian Gunawan Couture 2020
Hi Shonet Babes,
Desainer kondang tanah air Sebastian Gunawan kembali menggelar fashion show tunggal dengan tema "ICANTESIMO". Ya, tema ini diambil dari bahasa Italia yang mengandung arti "Tentang Rasa" terkesan secara tersirat dalam fashion tersebut.
Kali ini Sebastian Gunawan berkolaborasi dengan Cristina Panarese, yang merupakan istrinya sendiri. Kolaborasi ini terjadi karena Sebastian Gunawan terinspirasi dari evolusi gaya hidup pada era 1900 hingga 1930-an. Karena pada saat itu, evolusi terjadi dibidang arsitektur dan seni. Nah, semangat evolusi itulah yang coba disuguhkan dengan menghadirkan dengan dekorasi glasshouse dome di atas panggung, sebagai representasi perubahan arsitektur pada masa itu.
Dalam press conference-nya Cristina Panarese menambahkan bahwa, "pada masa itu adanya kontaminasi berbagai budaya mulai dari Rusia, Paris, sampai Maroko. Orang-orang mulai belajar budaya yang lain dan itu terbawa kemana-mana".
Fashion show kali ini lebih dari 80 gaya busana dipamerkan. Ya, desainer yang akrab dengan sebutan Seba ini, tetap mempertahankan kesan feminim dalam karyanya. Ini tampak pada gaun sebagai siluet yang dominan baik itu body con dress, midi dress, long dress, A line dress, serta slit dress. Walaupun begitu sang desainer tetap menyematkan celana panajang pada beberapa gaya.
Dalam suatu pergelaran busana Saba tak banyak bermain dengan aksesori, ia hanya cukup memadukan busananya dengan head piece karya desainer aksesori yakni Rinaldy Yunardy. Permainan bahan yang apik justru terlihat semarak dan glamour ketika di runaway.
Oh, iya! bahan yang digunakan untuk membuat busana ini banyak ragamnya, mulai dari ulle, brokat, payet, taftan, damas, beludru, lace, komplet. Kami suka variasi, enggak cuma siluet, material juga, menurut wawancara yang dilakukan oleh tim cnnindonesia.com dengan Cristina Panarese setelah pertunjukkan di Ballroom Hotel Mulia Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (1/10).
Tak hanya keren dengan warna-warna yang dihadirkan lewat busananya, sang desainer juga jago mengambil inspirasi dari karya seniman dan desainer kostum Leon Bakst. Bahan tulle yang dibuat ber-volume atau di-pleats berhasil menciptakan efek konstruktif, baik pada gaun berpotongan selutut atau menyentuh lantai.
Material sequence atau ornamen metalik direka ulang menjadi jumpsuit atau dress yang gemerlap. Tidak hanya motif geometris "ICANTESIMO", juga banyak bermain dengan motif floral melalui aplikasi embroidery atau aksentuasi dengan feathers yang solid. Keceh!
Terakhir, pergelaran ditutup dengan beberapa gaun pernikahan. Hadirnya gaun pernikahan di koleksi "ICANTESIMO" menjadikan alternatif gaun pernikahan yang berbeda dari gaun pengantin yang "kebanyakan". Tengolah pada saat gaun pengantin yang dikenakan oleh model tampak anggun, selain itu pada gaun tersebut adanya bentukan yang didesain seperti tumpukan ruffles putih. Keren, ya!
Semangat yang dihadirkan oleh Sebastian Gunawan dan Cristina Panarese lewat koleksi "ICANTESIMO" banyak memberikan kesan WOW dan warna baru dalam industri fashion di Indonesia. Congratulation !
Gambar Cover by (jtdapper's Instagram)
