KKN Sensasi Liburan! 'Kabur' Sejenak ke Pulau Liwungan

The Shonet adalah platform lifestyle untuk perempuan dan millenials di Indonesia. Yuk kenal lebih dekat di theshonet.com
Tulisan dari The Shonet tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
KKN Sensasi Liburan! 'Kabur' Sejenak ke Pulau Liwungan
Kalau dengar KKN (Kuliah Kerja Nyata), apa sih, yang langsung terlintas? Berminggu-minggu ke tempat yang nggak pernah kita tahu, bahkan bisa jadi tempat itu sangat terpencil. Nggak kedeteksi keberadaannya, sampai sulit untuk dijangkau. Kita juga nggak tahu warga di sana bakal kayak apa. Dengar kanan-kiri, mungkin aja orang-orangnya terbiasa dengan ilmu hitam dan sejenisnya. Rumah yang bakal jadi tempat tinggal mungkin aja angker dan banyak 'penghuninya'. Ya, begitulah rumor yang beredar saat pertama kali aku dengar soal KKN. Bikin takut dan cemas.
Namun nyatanya aku berani bilang bahwa KKN adalah pengalaman terindah yang pernah aku alami. Gimana nggak? Aku sekelompok sama orang yang asik-asik banget, tinggal di rumah keluarga yang baik banget. Anak-anak SD gemes yang sering dateng ke rumah buat main. Ibu Nasi Uduk yang selalu dengan senang hati melayani kami dengan penuh senyuman, dan warga lainnya yang nggak bisa disebutin satu-satu. Pokoknya bersyukur banget bisa dapet tempat di sana.
Tepatnya waktu itu di tahun 2015. Kami tinggal di salah satu desa di kecamatan Cinangka, kabupaten Serang, provinsi Banten, selama 1 bulan. Dan beneran deh, rumor KKN yang selama ini sering beredar itu sama sekali nggak kualami. Bahkan KKN kami udah kayak liburan aja. Dari desa, cukup gampang buat pergi ke pantai, jadi kami lumayan sering ke pantai buat melepas penat atau iseng aja. Nggak sangat dekat, jadi kami tetep harus numpang mobil bak yang lewat kalau mau ke sana, dan tiap harinya ada aja mobil bak yang lewat. Dan mereka baik-baik banget, mau aja ditumpangin tanpa pamrih.
Tapi kami pada akhirnya bosan juga ke pantai yang itu-itu aja. Akhirnya tercetuslah sebuah ide untuk ke Pulau Liwungan, yang terletak di desa Citeureup, kecamatan Panimbang, kabupaten Pandeglang. Masih ada di daerah Tanjung Lesung. Kirain cuma wacana atau baru bakal dilakuin abis KKN. Ternyata kita beneran ke sana… SAAT MASIH KKN! What kind of madness?! Take my money, I'm in!
Kami ngediskusiin rencana ini sama Ibu dan Abah (pemilik rumah yang kami tinggali). Ibu dan Abah memperbolehkan kami dan mau bantu merahasiakan ini. Kami sebenarnya khawatir kalau sampai pihak kampus tahu soal rencana ini. Bisa jadi masalah besar buat kami, juga Ibu dan Abah. Tapi di satu sisi, kami juga takut kalau setelah KKN, kami bakal sulit buat ketemu lagi dan rencana itu nggak akan pernah terjadi. Ibu dan Abah meyakinkan kami kalau kami tidak perlu memikirkan soal itu. Mereka bilang yang penting hati-hati dan kami kembali ke desa dengan selamat.
Setelah semuanya diomongin sampai mateng banget, akhirnya kami berangkat di minggu ketiga yang mana minggu depannya KKN bakal usai. Dari desa, jarak tempuh ke Pulau Liwungan kira-kira masih 50-an km lagi. Terus pake apa berangkatnya? Ini salah satu yang tergokil, sih. Dua cowok di kelompokku ini pulang ke rumah mereka buat ngambil mobil. Yang satu ke Jakarta, yang satu ke Tangerang! Those mad lads…
Mereka pun balik lagi ke desa dengan mobil-mobil mereka. Besoknya kami 'kabur' ke Pulau Liwungan! Singkat cerita, setelah kami nginep semalam, besoknya dari homestay kami udah pakai pakaian santai dan pelampung. Abis itu kami nyebrang jalan raya, ke pantai, cus naik kapal. Dari pantai ke pulau Liwungan sekitar 30 menitan. Sebelum sampai ke pantai, kami snorkeling. Itu pertama kalinya aku snorkeling. Seneng banget bisa ngeliat isi lautan yang biasanya cuma bisa diliat dari layar elektronik walaupun sebentar doang. Karena arusnya lagi lumayan kenceng sedangkan aku nggak bisa berenang dan pada akhirnya malah ngerepotin, aku pun kembali ke kapal, huhuhu…
Sampai di pantai, kami pun berlari ke salah satu bibir pantai yang berupa segaris pasir putih. Bener-bener masih asri, kelihatan jarang dijajaki, berasa pulau pribadi. Kami pun puas-puasin di sana, cipak-cipuk di pantai, foto-foto yang banyak. Sebenernya mau banget juga menjelajahi hutan di sana, cuma karena nggak ada yang menyinggung soal hutan itu, waktu untuk kami ada di sana pun cukup terbatas, dan sadar kami lagi kabur dari KKN, jadi kuurungin niat itu, nggak mau cari masalah (lagi).
Entah berapa lama kami di sana, pas dibilang udah waktunya buat balik, rasanya sedih banget, nggak mau pulang. Nggak mau melepas pemandangan indah itu. Langitnya yang biru, airnya yang jernih, pasirnya yang putih… Mau pemandangan itu terus ada di mata. Ada juga kekhawatiran, kalau kelak Pulau Liwungan jadi tempat wisata yang populer, apa masih seasri itu?
Dengan berat akhirnya kami meninggalkan pulau itu. Sambil berdoa semoga kalau kelak Pulau Liwungan bakal diketahui banyak orang, semua yang datang ke sana adalah orang-orang bertanggung jawab yang menghargai keindahan alami pulau itu. Setelah itu kami pun kembali ke desa tempat kami menjalani KKN, menjadi mahasiswa sekaligus warga yang menyenangkan bagi penduduk setempat.
Pada dasarnya KKN itu bisa jadi sangat menyenangkan asalkan kita saling menghargai satu sama lain, antara sesama anggota kelompok, juga dengan warga setempat. Tetap ramah, nggak sombong, nggak banyak minta, nggak berbuat macem-macem, ikut kegiatan warga, gemar membantu, sadar kalau kita ke sana sedang bertamu. Bahkan kami sama sekali nggak nyangka, meninggalkan desa itu bakal jadi hal yang sangat berat, terutama saat kami lihat banyaknya warga yang berkumpul di hari kepulangan kami, juga terlibatnya air mata ketika kami pamit dan bus datang untuk mengangkut kami.
Apalagi setelah kami liburan ke Pulau Liwungan yang salah satu risiko terbesarnya akan sangat merepotkan keluarga di tempat tinggal kami. Terima kasih, Semua. Ku amat rindu…
Cerita Oleh: Aulia Suciati
