Review - 'Satu Suro' Is A Repetitive, Toothless Horror

The Shonet adalah platform lifestyle untuk perempuan dan millenials di Indonesia. Yuk kenal lebih dekat di theshonet.com
Tulisan dari The Shonet tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Satu Suro—yang tidak berkaitan dengan Malam Satu Suro (1988) yang dibintangi Suzzanna—dibuat bak hanya berdasarkan satu-dua gagasan adegan menarik. Jika diibaratkan, layaknya arsitek yang memiliki beberapa perabotan berharga, kemudian ingin membangun rumah untuk menyimpannya, namun tak mampu mendesain pondasi memadahi. Rumah tersebut pun runtuh, mengubur perabotan berharga sang arsitek yang akhirnya terbuang sia-sia.
Saya cukup mengagumi sekelumit ide yang sesekali mengisi. Salah satunya saat Adinda (Citra Kirana) muntah beberapa kali, dan benda-benda yang keluar dari mulutnya semakin berbahaya dan aneh, sebelum memuncak pada sebuah pemandangan over-the-top sekaligus disturbing , tapi memuaskan. Begitu pula selipan gore, yang sayangnya hanya bertahan di paruh awal. Saya yakin ada lebih banyak lagi, tapi terpaksa dihapus atas nama sensor (tulisan “REV” terpampang di bumper sensor filmnya).
Selain segelintir daya tarik di atas, Satu Suro tak menawarkan hal apa pun, termasuk plot yang seolah lenyap di alam gaib. Alkisah, sepasang suami istri, Bayu (Nino Fernandez) dan Adinda baru saja pindah ke desa terpencil di daerah pegunungan demi mencari ketenangan. Bayu membutuhkannya untuk menulis buku terbaru, sementara Adinda mesti menjaga kondisi jelang kelahiran bayi pertama mereka. Betapa sial, hari kelahiran yang dinanti justru tiba tepat di malam satu suro yang banyak dipercaya sebagai “lebarannya para setan”.
Begitu proses persalinan mendekat, Bayu membawa Adinda ke rumah sakit, yang lewat adegan pembukanya, kita ketahui telah terbakar habis. Mereka tidak tahu bahwa dokter serta suster yang menyambut sejatinya adalah arwah-arwah yang bangkit pada malam satu suro guna mengincar si jabang bayi. That's it. Sepanjang bergulir selama 94 menit, praktis Satu Suro cuma menampilkan dua orang mondar-mandir dalam ruangan (rumah atau rumah sakit). Tapi daripada jalan keluar, malah deretan hantu yang muncul.
Padahal sungguh keras usaha Bayu dan Adinda untuk saling menemukan. Begitu keras, keduanya menghabiskan nyaris sepanjang film meneriakkan nama satu sama lain. Kalau anda memainkan drinking game, dan minum setiap mereka saling memanggil, anda akan mabuk bahkan sebelum filmnya usai. Paling tidak, serupa di Asih, Citra Kirana melakukan usaha terbaiknya sebagai wanita yang mengalami teror bertubi-tubi, tatala Nino Fernandez tampak kebingungan harus memasang ekspresi seperti apa.
Naskah buatan Anggy Umbara (3, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!) dan Syamsul Hadi (Pencarian Terakhir, Demi Cinta) gemar menerapkan repetisi sebagai trik pengisi durasi. Hal sama terjadi berulang-ulang dalam tempo yang pergerakannya bagai diseret selama mungkin. Ketimbang memperlambat demi membangun ketegangan, penanganan Anggy bagai hanya bertujuan mengulur waktu. Dampaknya, kengerian pun sukar ditemukan. Saat Lastri (Alexandra Gottardo) si hantu antagonis utama kemunculannya meninggalkan kesan mengesalkan alih-alih mengerikan akibat efek teriakan yang cukup mengancam kewarasan telinga penonton, pujian patut diberikan kepada beberapa hasil kerja tim tata rias, khususnya untuk sebuah hantu (atau monster?) yang mengingatkan saya pada makhluk dari Resident Evil atau Left 4 Dead.
Dibuka oleh narasi perihal satu suro, eksplorasi mitologi film ini tidak pernah lebih dalam dari deskripsi “hari rayanya makhluk halus”, karena kembali, Satu Suro nyaris tanpa plot. Hal terdekat dengan plot yang filmnya miliki adalah kehadiran twist, yang menggiring Satu Suro menuju ranah yang sudah terlalu banyak dijelajahi suguhan horor lokal selepas Pengabdi Setan dua tahun lalu. Elemen familiar nan sederhana, yang penuturannya sangat berbelit karena seperti biasa, Anggy terobsesi mengejutkan penonton. Upaya tersebut gagal akibat: (1) Klise dan mudah ditebak, (2) Tidak dibarengi plot layak agar penonton mempedulikan karakternya.
Satu Suro turut memaksakan diri menyelipkan sentuhan religi berupa proses seorang skeptis menemukan lagi keimanan, namun tidak terdapat cukup stimulus guna memancing respon perubahan tersebut. Mengalami peristiwa mistis bukan berarti serta merta membuat seseorang menjadi religius. Kecuali, ia melihat bagaimana kekuatan Tuhan berjasa memberi jalan keluar. Sedangkan di sini, hantu-hantu ditumpas menggunakan “metode dukun”.
RATING: 2/5
Artikel ini telah dipublikasikan di: https://movfreak.blogspot.com/2019/02/satu-suro-2019.html
