Terus Merugi, Label Calvin Klein Pilih Mundur dari Industri Barang Mewah! Apa Rencana Selanjutnya?

The Shonet adalah platform lifestyle untuk perempuan dan millenials di Indonesia. Yuk kenal lebih dekat di theshonet.com
Tulisan dari The Shonet tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Terus merugi, label Calvin Klein pilih mundur dari industri barang mewah. Keputusan tersebut diumumkan oleh PVH Corp yang resmi akan menghentikan produksi lini premium Calvin Klein dan akan menutup flagship store label ini di Madison Avenue, New York seperti diberitakan oleh situs Reuters. “Kami meyakini bahwa ini adalah keputusan yang tepat untuk kemajuan jangka panjang label Calvin Klein dengan mundur dari bisnis barang mewah yang tidak cocok dengan konsumen loyal kami,” terang Emanuel Chirico selaku CEO dari PVH Group dikutip dari Reuters. Hal ini terbilang mengejutkan karena desainer Calvin Klein identik sebagai salah satu desainer yang mempopulerkan gaya minimalis di era '90-an dan turut andil membesarkan industri barang mewah Amerika. Apa penyebabnya? Adakah ini keputusan yang tepat? Berikut analisisnya.
1. Kegagalan Raf Simons
Keputusan Calvin Klein untuk tak akan berpartisipasi lagi di industri barang mewah, dimulai dengan kegagalan Raf Simons ketika masih menjabat Chief Creative Officer. Raf Simons mendirikan lini premium bernama Calvin Klein 205W39NY dan koleksinya kerap mendapat pujian dari para kritikus fashion. Namun penjualannya justru tidak terlalu menguntungkan. Emanuel Chirico kepada situs Women's Wear Daily pernah berujar bahwa investasi yang diberikan pada lini ini tidak sebanding dengan angka penjualan yang diharapkan. Apalagi Chirico pernah berujar bahwa ia mentargetkan kedepannya PVH Corp akan meraup untung hingga 10 miliar dolar Amerika.
2. Lini Jeans dan Underwear Lebih Menguntungkan
Meski nama Calvin Klein identik dengan desainer yang sukses mempopulerkan gaya minimalis dan seksi di era '90-an, namun kini dari segi bisnis Calvin Klein lebih banyak meraup untung dari penjualan underwear, jeans dan parfum. Kedepannya, PVH Corp juga melakukan kerja sama lisensi untuk pengembangan lini jeans dengan G-III Apparel Group Ltd.
3. Problematika Label-Label Besar Asal Amerika
Permasalahan yang dihadapi Calvin Klein kembali menampilkan problematika yang dihadapi label-label besar asal Amerika yang memiliki lini produk terjangkau. Ralph Lauren dengan jeans dan polo shirt, lalu Donna Karan dengan DKNY. Berbeda dengan label asal Eropa seperti Prada atau Lanvin yang tetap berfokus pada lini mewah demi menjaga citra eksklusif. Kalaupun memiliki lini sekunder seperti Prada yang menaungi Miu Miu, harga yang ditawarkan pun tidak terlalu jauh berbeda, perbedaan hanya terlihat dari segi artistik. Masyarakat luas tentu lebih akrab dengan nama Ralph Lauren sebagai label polo shirt ketimbang perancang yang menghadirkan gaun mewah dan menganut sistem see now buy now. Begitu juga dengan Calvin Klein dengan lini jeans, underwear dan parfumnya. Idealnya, lini barang mewah menjadi sumber pemasukan utama . Kini justru menjadi sekadar medium pemasaran untuk penjualan aksesori atau lini lainnya.
Baca juga: Kreativitas Versus Bisnis, 5 Alasan Raf Simons Gagal Mengembangkan Calvin Klein
4. Adakah Ini Keputusan yang Tepat Bagi Calvin Klein?
Industri fashion khususnya kategori premium kini telah sesak dan banyak pemain baru dengan desain produk yang beragam. Dari segi keberlangsungan bisnis, apa yang dilakukan PVH Corp terhadap Calvin Klein memang terbilang logis. Daripada repot-repot mencari desainer baru yang belum tentu menjamin akan memperbaiki penjualan, lebih baik mundur dan mengembangkan lini lain yang sudah pasti menguntungkan. Industri fashion Amerika dan dunia, kehilangan satu label legendaris di panggungnya. Kini legacy Calvin Klein di industri fashion hidup dalam celana jeans, underwear dan parfum.
