Konten dari Pengguna

Sejarah Mercusuar Cikoneng, Ikon Kawasan Pantai Anyer

Az-zahra Nurfadhila

Az-zahra Nurfadhila

Mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Az-zahra Nurfadhila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Mercusuar Raja Willem atau yang akrab disebut Mercusuar Cikoneng adalah salah satu bangunan arkeologis yang berada di Jalan Raya Bandulu, Anyer, Cikoneng, Kecamatan Anyar, Kabupaten Serang, Banten. Mercusuar Cikoneng ini menjadi bangunan bersejarah yang menjadi saksi dari kolonialisme dan imperialisme Belanda di Banten.

Selain menjadi saksi dari kolonialisme Belanda, Menara Suar Cikoneng ini menjadi bagian dari titik awal atau titik nol dari dibangunnya Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan. Mercusuar Cikoneng dibuat dari jenis konstruksi baja tertutup dengan memiliki tinggi 60 meter dan 18 lantai dengan 286 tangga. Mercusuar Cikoneng yang saat ini berada di Anyer merupakan mercusuar yang baru, sebab mercusuar yang pertama telah runtuh akibat letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883. Namun, bekas reruntuhan mercusuar yang lama masih dapat dijumpai di dekat Mercusuar Cikoneng yang baru.

Mercusuar Cikoneng dibangun pada tahun 1885 dengan bantuan dari L. j. Enthoven & Co, yang merupakan sebuah perusahaan konstruksi menara suar di Gravenhage, Belanda. Mercusuar Cikoneng ini disebut juga sebagai Mercusuar Raja Willem dikarenakan pada masa kolonialme Belanda, Raja Willem III membangun banyak menara suar yang terpencar di penjuru wilayah Nusantara.

Pada bagian atas pintu Mercusuar Cikoneng, terdapat tulisan dalam Bahasa Belanda yang kurang lebih berarti sebaga berikut “Di bawah pemerintahan Z. M. Willem III Raja Belanda, DLL. DLL. DLL. Dibuat untuk Yast Light Ukuran 25. Untuk menggantikan menara mercusuar batu yang hancur pada tahun 1883 akibat bencana Krakatau. 1885.”

Dahulu, Mercusuar Cikoneng berfungsi sebagai menara pengawasan dan pemantauan terhadap pelayaran di Selat Sunda. Terlebih pada masa aktif beroperasinya, kawasan Pantai Anyer cukup ramai dengan aktivitas perdagangan Namun kini, Mercusuar Cikoneng menjadi tempat wisata sejarah yang dapat dikunjungi.