Pamer vs Sambat: Dualisme Gen Z di Instagram

Halo! Saya Theresa Artika Sari, mahasiswa aktif di UNSIA.
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Theresa Artika Sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi Generasi Z dan kalangan mahasiswa hari ini, berinteraksi di ruang siber telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari eksistensi harian. Namun, ada satu fenomena unik sekaligus problematis yang mencerminkan dinamika psikologis manusia modern di platform Instagram, yaitu praktik pemisahan identitas digital. Di satu sisi, panggung utama kita dihiasi oleh main account yang terkurasi dengan sangat presisi. Halaman feed tersebut menyajikan kompilasi momen terbaik, mulai dari pencapaian akademik, momen wisuda, liburan estetik, hingga gaya hidup kekinian. Panggung ini dirancang secara sadar untuk menembus algoritma, meraup puluhan likes, dan memanen validasi sosial dari publik. Sebaliknya, tepat di balik tirai kesempurnaan semu tersebut, hadir fenomena second account atau pemanfaatan fitur close friends. Ruang ini beroperasi menyerupai ruang bawah tanah yang terkunci rapat dari jangkauan publik luas. Di akun sekunder inilah, pemiliknya merasa bebas untuk merobek topeng kesempurnaannya dengan meluapkan rasa lelah, mengunggah meme absurd, menangisi kegagalan, hingga sambat atau mengeluh tanpa filter bahasa yang baku. Secara pribadi, saya kerap merasakan sendiri kontras ini, memilah satu foto untuk main account bisa memakan waktu berjam-jam demi memilih filter dan caption yang sempurna, sedangkan luapan kekesalan di second account bisa terunggah hanya dalam hitungan detik tanpa keraguan sedikit pun. Kontras tajam antara main account untuk pamer dan second account untuk sambat memunculkan pertanyaan reflektif tentang alasan manusia modern merasa harus membelah dirinya hanya untuk merasa diterima. Dilihat dari kacamata psikologi, fenomena dualisme akun ini membeberkan indikasi keretakan pada konsep diri (fragmented self-concept). Self-concept merujuk pada konstruksi mental tentang bagaimana seorang individu memahami, menilai, dan memandang eksistensi dirinya secara utuh. Ketika seseorang memisahkan panggung hidupnya secara ekstrem, terjadi kondisi ketidakselarasan yang parah antara ideal self dan real self. Alih-alih membentuk pribadi yang matang, dikotomi akun ini justru memperuncing krisis identitas di kalangan generasi muda. Jika dibedah melalui pilar MKU Estetika Humanisme, fenomena
second account menggarisbawahi krisis autentisitas yang kian mengkhawatirkan di era digital. Konsep human literacy mengajarkan bahwa keindahan sejati seorang manusia tidak bersumber dari citra visual yang simetris di layar ponsel, melainkan dari keutuhan, kejujuran, dan pemaknaan atas harkat eksistensinya. Maraknya tren pembelahan akun ini secara tidak langsung membuktikan bahwa ruang publik digital kita telah bertransformasi menjadi lingkungan yang sarat akan judgment dan toxic positivity. Manusia modern merasa tidak lagi aman untuk menampilkan sisi manusianya yang tidak sempurna di panggung umum. Dampak psikologis dari pembelahan identitas ini tidak boleh diremehkan. Ketika seseorang membiasakan diri untuk memakai topeng kebahagiaan di main account demi mengejar engagement, ia secara tidak sadar sedang diajarkan untuk merendahkan dan membenci ketidaksempurnaannya sendiri. Kejujuran emosional, daya tahan mental, serta keindahan empati antarmanusia terdegradasi oleh nilai-nilai estetika semu yang didikte oleh algoritma media sosial. Akibatnya, alih-alih memperoleh kedamaian, mahasiswa sering kali terjebak dalam social media fatigue dan rasa terasing dari jiwanya sendiri. Perspektif psikologi humanistik menegaskan bahwa kesehatan mental hanya bisa dicapai ketika manusia mampu mencapai penerimaan diri secara penuh. Tidak dapat dimungkiri,
second account memang memiliki fungsi katarsis atau pelampiasan emosional sementara bagi mahasiswa yang mengalami kelelahan mental. Namun, menggantungkan kejujuran diri hanya pada akun cadangan yang terkunci bukanlah solusi jangka panjang. Memelihara dua kepribadian yang bertolak belakang secara terus-menerus justru menguras energi psikologis dan memelihara stigma bahwa kerapuhan manusia adalah sebuah keaiban yang wajib disembunyikan. Oleh karena itu, diperlukan rekonstruksi mendasar terhadap cara kita memahami self-concept di era digital. Melalui pemaknaan Estetika Humanisme, mahasiswa diajak untuk berani merobek batas-batas semu antara main account dan
second account. Menjadi manusia yang utuh berarti memiliki keberanian untuk merayakan seluruh spektrum kehidupan, termasuk kegagalan, rasa lelah, dan ketidaksempurnaannya, tanpa harus merasa bersalah atau mengemis validasi dari jumlah likes. Keindahan seorang manusia justru terpancar ketika ia berani bersikap jujur dan tampil autentik terhadap realitas dirinya maupun lingkungan sekitarnya. Pada akhirnya, panggung media sosial hanyalah alat, bukan penentu self-esteem kita sebagai manusia. Keindahan nilai-nilai kemanusiaan tidak akan pernah bisa diukur dari seberapa estetik atau sempurnanya tampilan feeds Instagram milik kita, melainkan dari seberapa berani kita melangkah keluar dari layar ponsel dan menjadi pribadi yang jujur, utuh, serta memanusiakan diri sendiri di dunia nyata.
