Konten dari Pengguna

Benarkah Mempelajari Filsafat Akan Menjadi Ateis?

Thesa Kezia

Thesa Kezia

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya

·waktu baca 4 menit

comment
10
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Thesa Kezia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(Sumber: shutterstock.com)
zoom-in-whitePerbesar
(Sumber: shutterstock.com)

Seringkali kita mendengar bahwa mempelajari filsafat akan membuat iman kepercayaan kita kepada Tuhan akan hilang dan berpotensi membuat kita menjadi ateis. Persepsi tersebut dipercayai oleh banyak orang sehingga tak jarang banyak orang tua yang melarang anaknya untuk mempelajari filsafat bahkan kuliah di jurusan filsafat. Benarkah hal tersebut? Mari simak pembahasannya.

Apa itu Filsafat?

Filsafat berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu “philos” yang berarti cinta atau kecintaan dan “sophia” yang berarti kebijaksanaan atau pengetahuan. Sehingga memiliki arti secara harfiah yaitu kecintaan terhadap kebijaksanaan. Filsafat adalah usaha untuk memahami atau mengerti dunia dalam hal makna dan nilai-nilainya. Filsafat cenderung dikaitkan dengan pertanyaan mengenai asal mula dan sifat dasar alam semesta tempat manusia hidup serta apa yang menjadi tujuan hidupnya.

Apa itu Ateis?

(Sumber: shutterstock.com)

Ateisme sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu "átheos" yang merujuk kepada orang-orang yang kepercayaannya bertentangan dengan agama yang sudah mapan di lingkungannya.

Orang pertama yang menganggap dirinya "ateis" muncul pada abad ke-18. Berawal dari menyebarnya pemikiran bebas, skeptisme ilmiah, serta kritik terhadap agama, sehingga istilah ateis mengacu pada orang-orang yang tidak percaya dengan keberadaan Tuhan karena kurangnya bukti empiris yang dapat menjelaskan hal tersebut. Menurut pandangan ateisme, keberadaan manusia di bumi tidak terjadi begitu saja, melainkan karena proses metafisika dan alamiah yang terjadi secara berkesinambungan dan merupakan bagian dari alam semesta. Ateis tidak percaya adanya kehidupan setelah kematian kerena menurutnya manusia atau makhluk yang mati berarti proses metafisika dan alamiah mereka telah selesai.

Bagaimana Persepsi Banyak Orang Mengenai Filsafat?

Sifat umum manusia yaitu selalu ingin untuk mengerti dunia sekitarnya, sehingga manusia akan mencoba berbagai cara. Hal inilah yang membuat banyak orang menciptakan pertanyaan untuk menyanggah apa yang tidak mereka pahami. Contoh nyatanya adalah agama yang dimana hal ini tidak bisa dipahami oleh akal manusia hanya saja harus diimani sehingga banyak orang yang menanyakan kebenaran dari agama dan apakah benar bahwa Tuhan itu ada. Filsafat tidak ada hubungannya dengan ateis atau ketidakpercayaan kepada Tuhan. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa ada beberapa filsuf yang pemikirannya mengarah kepada ateisme

Pembahasan Filsafat Mengenai Keberadaan Tuhan

Filsafat membahas tentang keberadaan Tuhan secara ontologis. Kata Ontologis berasal dari Bahasa Yunani yaitu “Ontos” yang berarti ada, serta “Logos” yang berarti ilmu. Sehingga ontologis memiliki arti yaitu ilmu yang mempelajari tentang segala sesuatu yang ada. Ontologis dapat digunakan untuk mempertanyakan mengenai keberadaan Tuhan.

Salah satu tokoh Filsafat yang membahas mengenai ontologis keberadaan Tuhan yaitu Anselmus dari Canterbury (1033-1109 M). Anselmus berargumen tentang definisi Tuhan yang digambarkan sebagai sebuah “wujud” yang tidak mungkin kita mampu memikirkan sesuatu yang lebih besar dari padanya. Hal ini berarti Tuhan adalah suatu objek yang paling tinggi yang dapat dipikirkan oleh manusia. Puncak dari pikiran manusia yang dapat adalah Tuhan itu sendiri, yang berarti, bahwa ketika manusia memikirkan sesuatu yang sangat besar, maka objek tersebut adalah Tuhan.

Tokoh Filsafat lainnya yang membahas mengenai ontologis keberadaan Tuhan yaitu René Descartes yang mendukung pernyataan dari Anselmus. Menurutnya, Tuhan merupakan “yang paling sempurna” di hadapan manusia dan semua makhluk yang tidak sempurna, sehingga dari sinilah dapat dibuktikan bahwa Tuhan itu ada. Kenapa bisa seperti itu? Karena jika ada yang tidak sempurna, maka harus ada yang sempurna agar tidak terjadi kontradiksi. Ontologis dari Descartes menggunakan penalaran dan logika sehingga dapat disimpulkan bahwa Tuhan itu ada.

Penalaran sendiri adalah menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan melalui proses berpikir dan penalaran pada setiap orang belum tentu sama, sehingga diperlukan logika untuk mengetahui apakah pemikirannya sudah logis atau belum. Dari penalaran yang bersifat subjektif harus dibantu oleh logika yang bersifat objektif untuk mencapai sebuah kebenaran.

Benarkah Mempelajari Filsafat Tidak Mempercayai Keberedaan Tuhan?

Tidak. Filsafat tidak akan menjauhkan seseorang dari kepercayaan terhadap Tuhan. Dari konsep filsafat mengenai keberadaan Tuhan telah dibahas bahwa sebenarnya beberapa tokoh filsafat meyakini adanya Tuhan, walaupun ada beberapa tokoh yang juga menentang hal tersebut. Terbentuknya seorang yang “ateis” sering disangkut pautkan dengan filsafat. Krisis kepercayan seperti adanya ateis merupakan hal yang wajar dialami oleh individu yang masih berproses dalam mempelajari ilmu filsafat. Ketika mulai untuk mempelajari filsafat banyak orang yang salah menganggap bahwa filsafat akan menjauhkan kita dari Tuhan sehingga terjadi ketidakseimbangan antara agama dan filsafat. Sebenarnya, mempelajari filsafat merupakan kesempatan bagi seseorang untuk mendalami dan memahami keyakinannya sendiri. Selain itu, melalui filsafat sesorang dapat lebih bijak dan taat pada keyakinannya.

Agama dan filsafat dapat diibaratkan sebagai pedang bermata dua karena sebenarnya kedua hal ini sangat membantu banyak orang jika dipahami dengan baik, namun akan memecahkan banyak orang akibat perbedaan penalaran setiap orang. Pernyataan bahwa filsafat membuat seseorang menjadi ateis bisa benar atau salah. Krisis identitas atau krisis iman, seperti menjadi seorang ateis, adalah hal yang wajar ketika seseorang mempelajari filsafat. Tetapi seiring waktu orang tersebut akan menemukan kebenaran. Berpikir adalah salah satu anugerah yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa kepada manusia, dan dengan berfilsafat manusia dapat menggunakan daya pikirnya untuk mengungkapkan kebenaran.

Thesa Kezia

Mahasiswi Psikologi, Universitas Brawijaya