Konten dari Pengguna

Pedofilia: Kejahatan atau Gangguan Mental?

Thesa Kezia

Thesa Kezia

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya

Tulisan dari Thesa Kezia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(sumber: shutterstock.com)
zoom-in-whitePerbesar
(sumber: shutterstock.com)

Anak-anak diharapkan dapat menjadi masa depan bangsa. Oleh karena itu, sudah sepatutnya mereka dilindungi, disayangi, dan dituntun dengan penuh kasih. Hanya saja, anak-anak tidak pernah aman dari bahaya. Salah satu bahaya yang mengintai mereka adalah pelaku pelecehan seksual. Pelecehan seksual pada anak sering kita dengar dengan istilah pedofilia. Sebenarnya apa itu pedofilia? Mengapa seseorang bisa menderita pedofilia? Bagaimana pola pikir penderita pedofilia? Dan kenapa anak-anak yang harus menjadi korban? Mari kita simak penjelasan berikut!

Apa itu Pedofilia?

Pedofilia berasal dari bahasa Yunani yaitu “Pais” yang berarti anak-anak dan “Filia” yang berarti cinta yang bersahabat. Pedofilia merupakan ketertarikan seksual orang dewasa kepada anak-anak prapubertas yang berusia 13 tahun ke bawah. Pelaku pedofilia dikenal dengan sebutan pedofil. Biasanya pedofilia ini terjadi di usia minimal 16 tahun dan korbannya anak dengan perbedaan usia minimal 5 tahun. Pedofilia ini umumnya terjadi pada laki-laki, namun tidak menutup kemungkinan bahwa perempuan juga bisa mengidap pedofilia. Preferensi seksual pedofilia bisa terjadi dalam bentuk homogen ataupun heterogen yang artinya ada kemungkinan laki-laki dewasa memiliki ketertarikan pada anak laki-laki ataupun anak perempuan.

Apa yang menyebabkan seseorang menjadi pedofilia?

Dilansir dari YouTube Halo Sehat, ada beberapa hal yang menajdi faktor penyebab pedofilia, diantaranya yaitu awalnya pedofilia terjadi pada orang yang memiliki preferensi seksual pada orang dewasa, hanya saja ketika orang tersebut mengalami stress atau frustasi akibat tidak dapat mencapai hubungan seksual yang diharapkan pada orang dewasa, maka ia akan beralih kepada anak-anak.

Beberapa orang akan menganggap bahwa pedofilia terjadi karena gangguan mental seseorang dan terjadi karena adanya gangguan saraf yang terjadi di jaringan otak. Benarkan hal tersebut?

Pada penelitian didapatkan bahwa terjadi penurunan neurotransmitter serotonin pada otak orang dengan pedofilia, yakni saraf pembawa pesan atau isyarat dari otak ke bagian tubuh yang lain terganggu. Para ahli juga menduga bahwa otak pedofil memiliki perbedaan pada lobus frontal dan temporalnya yang fungsinya mengatur perilaku seksual dan memproses emosi. Penelitian dalam Archives of Sexual Behavior (2015) juga menyebut bahwa materi putih (white matter) pada orang pedofil cenderung lebih sedikit dan tidak berfungsi dengan baik.

Selain itu, pedofilia juga dapat terjadi karena adanya gangguan perkembangan saraf. Dilansir dari jurnal Acta Psychiatrica Scandinavica (2021), pedofilia berkaitan dengan gangguan perkembangan saraf, seperti autisme dan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Dalam penelitian tersebut juga dijelaskan bahwa orang dengan gangguan pedofilia mempunyai kecerdasan intelektual (IQ) yang lebih rendah daripada orang lain.

Selain pengaruh dari gangguan saraf, pedofilia juga dapat diakibatkan karena trauma masa kecil, misalnya orang tersebut perah mengalami pelecehan saat masa kanak-kanak, namun tidak semua orang yang mengalami pelecehan akan menjadi pedofil. Faktor genetik dan hormonal juga merupakan salah satu faktor penyebab seseorang mengalami gangguan pedofilia.

Bagaimana penanganan pedofilia?

Umumnya pedofilia tidak dapat disembuhan. Namun dengan melakukan pengobatan akan mengubah perilaku dan mencegah terjadinya tindakan kriminal dalam jangka panjang. Cara untuk penanganan pedofilia yaitu dengan melakukan psikoterapi kognitif perilaku (CBT) yang bertujuan untuk mengubah pola pikir dan perilaku seorang pedofil terhadap anak-anak.

Ahli psikologi akan meningkatkan empati orang tersebut dengan mengambil sudut pandang dari anak-anak sebagai korban kekerasan seksual sehingga diharapkan mampu mengurangi dorongan dalam melakukan tindakan serupa. Orang tersebut juga akan berlatih cara melakukan tindakan yang positif alih-alih memikirkan ketertarikan seksual pada anak-anak.

Dokter atau psikiater menganjurkan pasien untuk mengonsumsi obat-obatan, seperti medroxyprogesterone acetate (MPA) dan cyproterone acetate (CPA) yang akan membantu menurunkan tingkat sirkulasi testosteron dalam tubuh sehingga berpotensi mengurangi gairah seksual. Bagi pedofil yang juga memiliki kecanduan minuman keras dan obat terlarang, sangat disarankan untuk melakukan terapi rehabilitasi.

Reference

Christoph Abé, R. A. (2020, Desember 23). Brain structure and clinical profile point to neurodevelopmental factors involved in pedophilic disorder. Retrieved from Acta Psychiatrica Scandinavica: https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1111/acps.13273

Purwoko, S. A. (2023, November 13). Pedofilia, Ketertarikan Seksual Tak Wajar pada Anak-Anak. Retrieved from Hello Sehat: https://hellosehat.com/mental/mental-lainnya/pedofilia/

Ridonah, F. (2022, November 24). Pedofilia: Kelainan Mental atau Kelainan Saraf Otak? Retrieved from Kompasiana: Pedofilia: Kelainan Mental atau Kelainan Saraf Otak? Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Pedofilia: Kelainan Mental atau Kelainan Saraf Otak?", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/firliana230903/637e5a1d08a8b5133e62b2b2/pedofil

Halosehat. (2018, November 29). Waspada Pedofilia! Ini Gejala dan Cirinya! [Video]. Youtube. https://youtu.be/j4aag6oHNH0?si=QWJuBWxE-Xt8-U5U

Thesa Kezia

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya