Logika Penulisan Peringatan Kemerdekaan: India dan Indonesia

Tulisan dari Thirdi Canggi Cahayanu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tanggal 15 Agustus bagi India setara dengan 17 Agustus bagi Indonesia. Itulah tanggal ketika India secara resmi terlepas dari belenggu jajahan Inggris dan menjadi negara yang merdeka. Tepat pada tanggal 15 Agustus tahun 1947, India menjadi negara berdaulat. Artinya, India merdeka 2 (dua) tahun lebih belakangan dibanding Republik Indonesia, atau dengan kata lain, India lebih muda 2 tahun dari Indonesia.
Sebagaimana kita semua mafhum, tahun ini merupakan perayaan 17-an ke-72 bagi kita bangsa Indonesia. Logo peringatan kemerdekaan RI yang terlihat rada cupu estetis itu pun telah cukup membahana. Angka tujuh puluh dua warna merah dengan tulisan Indonesia Kerja Bersama di bawahnya sudah sering berseliweran di media.

Lebih muda 2 tahun dari RI, India tahun ini ‘seharusnya’ memperingati kemerdekaannya yang ke-70, bukan? Salah. Silakan cek di sini, tahun ini India memperingati kemerdekaannya yang ke-71!
Tunggu, bagaimana bisa? Ini mungkin isu remeh temeh. Tapi rasanya hal ini bisa jadi alternatif bahasan setelah mendiskusikan ‘arti kemerdekaan’, maupun ‘sudah merdekakah kita?’ terasa makin basi.
Mari coba berhitung. Indonesia merdeka tahun 1945. Saat ini tahun 2017. Usia RI saat ini semestinya 2017-1945 = 72 tahun. India merdeka tahun 1947. Saat ini tahun 2017. Peringatan kemerdekaan India tahun ini seharusnya: 2015-1947 = 70, bukan?
Rupanya bukan seperti itu logika India. Angka 71 ini didapat karena peringatan pertama kemerdekaan India dihitung dari tahun 1947 itu sendiri, bukan setahun setelahnya. Jadi, bila peringatan kemerdekaan pertama tahun 1947, tahun kedua pada 1948, ketiga pada 1949, dan seterusnya sampai ketujuh puluh satu pada tahun 2017. Sebenarnya ini cukup masuk akal, bukan? Jika disebut berapa usia resmi India sejak merdeka, maka 70 tahun jawabnya. Sama dengan jika seorang lahir tahun 1947, tahun ini kita tidak menyebut seorang tersebut berumur 71 melainkan 70.
Akan tetapi jika ditanyakan sudah berapa kali tanggal kemerdekaan dirayakan, India sepertinya lebih suka untuk menghitung lebih dini, yaitu tahun 1947 sebagai perayaan perdana kemerdekaan mereka. Lalu jika hitungan a la India lebih tepat, apakah berarti hitungan kita salah selama ini? Tidak begitu juga. Karena yang kita peringati adalah usia kemerdekaan, bukan berapa kali kita memperingati peristiwa proklamasi.

Tapi biarlah, India yang saat ini memiliki SDM unggul di kancah internasional seperti Satya Nadella (CEO Microsoft) dan Sundar Pichai (CEO Google) mungkin memang mempunyai logika yang berbeda saja dengan kita. Sementara kita, masih berjibaku dengan salah kaprah penulisan ‘Dirgahayu RI ke-70’, atau ‘HUT RI ke-70’. Secara logika, struktur penulisan kalimat tersebut kurang tepat. Menyebut RI ke-70 artinya seolah ada varian RI lain, yang ke-2, ke-3 dan seterusnya. Padahal RI hanya ada satu.
Khusus penulisan ‘Dirgahayu RI ke-72’ dosanya menjadi ganda. Kata ‘dirgahayu’ berasal dari Bahasa Sanskerta, artinya lebih kurang ‘panjang umur’. Jika disebut ‘panjang umur’ semestinya tidak ada angka definitif yang mengikutinya. Ucapan ‘panjang umur Republik Indonesia yang ke-72’ terdengar ganjil, bukan? Yang lebih tepat: ‘Dirgahayu RI’, atau ‘HUT ke-72 RI’. Maaf, ujungnya jadi Grammar Nazi, padahal penulis sendiri masih sering terpeleset melanggar kaidah Bahasa Indonesia; dan adalah sangat mungkin bahwa artikel ini juga melabraknya.
Dirgahayu ya, Republik. Ekonomi sedang memburuk, politik masih awut-awutan, yang lain-lain (risalah hati, sebagai contoh) juga belum kunjung membaik. Tapi tak usah berkecil hati, yang sudah-sudah, kita bangsa yang tahan banting. Teruslah berjuang dan bergulir, di jalur kita masing-masing.
Seorang pernah berkata kepada saya, lebih kurangnya: kita bangsa yang terbiasa otonom, asal lampu lalu-lintas masih nyala, hidup bisa terus berjalan. Bahwa penguasa tidak berpihak kepada kita, memang sudah lagu lama. Toh ketika Pemilu tiba, kita tak berhenti memilih mereka jua dengan gegap gempita. Meminjam kaosnya Koil, band rock industrial asal Kota Kembang, beginilah hidup di ‘negara bodoh yang masih saja kita bela’!
Thirdi Canggi
[Anggota klub masyarakat, meski merasa tak pernah mendaftar]
