Konten dari Pengguna

Idul Adha di Uzbekistan: Tradisi, Amal, dan Semangat Kebersamaan

Adkhamjon Janobiddinov

Adkhamjon Janobiddinov

Adkhamjon adalah seorang peneliti dan jurnalis dari Uzbekistan, yang berfokus pada hubungan luar negeri, ekonomi, dan pariwisata Uzbekistan. Melalui artikelnya di Kumparan.com, ia ingin mempererat hubungan antara masyarakat Uzbekistan dan Indonesia.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adkhamjon Janobiddinov tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Idul Adha, yang juga dikenal sebagai Kurban Hayiti di Uzbekistan, merupakan salah satu hari raya keagamaan terpenting di negara tersebut. Perayaan ini mencerminkan nilai-nilai yang sangat mengakar dalam masyarakat Uzbekistan, termasuk belas kasih, kedermawanan, rasa syukur, persatuan keluarga, serta kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan. Di berbagai kota, mahalla, dan desa, masyarakat menghadiri salat, berkumpul bersama kerabat, serta berbagi makanan dengan tetangga dan keluarga yang kurang mampu, sehingga mengubah hari raya ini menjadi wujud kedermawanan dan dukungan komunitas di seluruh negeri.

Kompleks Khast Imam di Tashkent. Foto: Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Kompleks Khast Imam di Tashkent. Foto: Wikimedia Commons

Sejak merdeka, Uzbekistan secara bertahap memulihkan tradisi publik dan keagamaan yang terkait dengan hari raya Islam. Kurban Hayiti secara resmi menjadi hari libur nasional pada tahun-tahun awal kemerdekaan, ketika negara mengakui pentingnya melestarikan warisan spiritual dan budaya negara. Selama beberapa dekade terakhir, perayaan ini telah berkembang menjadi acara keagamaan dan sosial, menggabungkan tradisi berabad-abad dengan inisiatif amal berskala besar.

Menjelang perayaan tahun 2026, Presiden Shavkat Mirziyoyev menandatangani dekrit berjudul “Tentang dukungan negara bagi masyarakat dan penyelenggaraan yang efektif atas acara kebaikan dan kepedulian sehubungan dengan Kurban Hayit yang suci.” Dokumen tersebut menguraikan paket dukungan sosial yang luas yang bertujuan untuk membantu kelompok-kelompok rentan selama periode liburan.

Dalam ucapan selamat perayaannya, presiden menggambarkan Kurban Hayiti sebagai perayaan yang mencerminkan belas kasih, kemanusiaan, kedermawanan, dan saling menghormati. Ia juga menekankan pentingnya mendukung keluarga yang membutuhkan, memperkuat solidaritas sosial, serta melestarikan tradisi spiritual negara.

Masjid Bibi Khanum di Samarkand, Foto: Wikimedia Commons

Keputusan presiden tersebut memberikan penekanan khusus pada bantuan kesehatan dan dukungan keuangan yang ditargetkan. Menurut dokumen tersebut, pemerintah akan membiayai operasi bedah bagi 10.000 anak yang menderita penyakit parah yang berpotensi menyebabkan kecacatan. Selain itu, lebih dari 2.300 pasien yang didiagnosis menderita penyakit onkologi dan hematologi akan menerima dana untuk pemeriksaan medis, pengobatan, dan operasi. Program ini juga mencakup dukungan untuk setidaknya 350 operasi transplantasi hati dan ginjal.

Bagian lain dari keputusan tersebut berfokus pada anak-anak yang membutuhkan perlindungan sosial. Anak yatim piatu, anak-anak tanpa pengasuhan orang tua, anak-anak yang tinggal di SOS Children’s Villages, serta anak-anak yang orang tuanya meninggal saat membela negara, akan menerima bantuan keuangan yang ditransfer ke rekening mereka.

Dokumen tersebut juga mengalokasikan dana untuk pembangunan, rekonstruksi, dan renovasi fasilitas taharat di 500 masjid di seluruh negeri, serta pekerjaan perbaikan di pemakaman dan tempat-tempat ziarah. Langkah-langkah tersebut akan dibiayai melalui dana negara dan sumber-sumber amal melalui yayasan amal publik “Vaqf,” dengan total dana sebesar 690 miliar soums Uzbekistan.

Masjid Hazrat Khizr di Samarkand, Foto: Wikimedia Commons

Pemerintah daerah, komite mahalla, dan lembaga keagamaan juga didorong untuk menyelenggarakan kampanye pembersihan sukarela oleh masyarakat, yang dikenal sebagai hashar, di masjid, situs suci, dan pemakaman. Acara makan bersama dan udhiyah (qurbani) untuk keluarga yang rentan secara sosial diperkirakan akan berlangsung di seluruh negeri selama periode liburan.

Musim Idul Adha tahun ini juga bertepatan dengan ibadah haji, di mana ribuan jemaah haji Uzbekistan berangkat ke Arab Saudi untuk menunaikan salah satu kewajiban utama dalam Islam. Otoritas Uzbekistan telah menyelenggarakan penerbangan khusus, bantuan medis, dan layanan dukungan bagi para jemaah haji selama musim haji. Keluarga di seluruh negeri secara tradisional mendoakan agar kerabat yang menunaikan haji dapat kembali dengan selamat.

Di Uzbekistan, Idul Adha secara tradisional dimulai dengan salat subuh di masjid-masjid. Jalan-jalan di sekitar masjid mulai ramai sebelum matahari terbit saat jemaah berkumpul untuk salat Idul Adha. Banyak keluarga menyiapkan hidangan tradisional pada malam sebelumnya, sementara toko roti dan pasar lokal menjadi sangat ramai beberapa hari menjelang perayaan.

Setelah salat, keluarga mengunjungi kerabat, tetangga, dan orang-orang yang lebih tua. Rasa hormat kepada generasi yang lebih tua tetap menjadi salah satu unsur utama perayaan ini. Di banyak daerah, orang-orang juga mengunjungi pemakaman untuk menghormati anggota keluarga yang telah meninggal dan melantunkan doa untuk mengenang mereka. Tradisi ini mencerminkan hubungan yang kuat antara nilai-nilai keluarga, pengingatan, dan spiritualitas dalam budaya Uzbekistan.

Masjid Kalon di Bukhara, Foto: Wikimedia Commons

Salah satu unsur utama Idul Adha adalah ritual penyembelihan, atau udhiyah. Daging dari hewan yang disembelih secara tradisional dibagi menjadi tiga bagian: satu untuk keluarga, satu untuk kerabat dan tetangga, serta satu untuk orang-orang yang membutuhkan. Di Uzbekistan, tradisi ini memiliki makna sosial yang kuat, terutama di komunitas mahalla di mana para tetangga sering berbagi makanan dan saling mendukung selama hari raya.

Keramahan juga memainkan peran penting dalam perayaan ini. Meja-meja dipenuhi dengan plov, samsa, roti segar, buah-buahan kering, dan manisan saat keluarga menyambut tamu sepanjang hari. Terutama di daerah pedesaan, Idul Adha sering menjadi kesempatan untuk pertemuan besar yang mempertemukan keluarga besar lintas generasi.

Dalam beberapa tahun terakhir, Kurban Hayiti di Uzbekistan semakin mencerminkan tradisi keagamaan dan upaya dukungan sosial yang lebih luas. Pejabat dan pemimpin agama sering menggambarkan hari raya ini sebagai kesempatan untuk memperkuat rasa belas kasih, membantu keluarga yang menghadapi kesulitan, dan mempererat ikatan komunitas.

Seiring berlanjutnya persiapan di seluruh Uzbekistan, Idul Adha 2026 diperkirakan akan sekali lagi menyatukan tradisi keagamaan, nilai-nilai keluarga, dan inisiatif amal berskala besar. Bagi banyak warga Uzbekistan, hari raya ini tetap menjadi cerminan penting dari kedermawanan, tanggung jawab sosial, dan kepedulian timbal balik.