Trump Sebut Penolak Data Center AI Bakal Jadi Terbelakang dan Miskin

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerang gerakan penolakan pembangunan pusat data (data center) kecerdasan buatan (AI) di AS. Ia memperingatkan masyarakat yang menentang kehadiran infrastruktur teknologi tersebut akan berakhir terbelakang dan miskin, sekaligus memberi keuntungan besar bagi kompetitor utama mereka, China.
Isu pembangunan data center AI kini memicu polemik panas menjelang pemilu sela AS akibat keluhan warga atas lonjakan tarif listrik dan polusi suara. Mengutip AFP, hasil survei Fox News menunjukkan 70 persen responden menolak proyek fasilitas komputasi di lingkungan mereka.
Kendati demikian, Trump mendesak percepatan infrastruktur digital demi memenangkan perlombaan teknologi global melawan Beijing.
"Satu-satunya alasan komunitas di seluruh AS tidak menginginkan data center adalah jika mereka ingin berakhir terbelakang dan miskin (backwards and poor)," tegas Trump melalui unggahan di akun Truth Social miliknya.
Perdebatan ini turut membelah para politisi di AS. Menanggapi keresahan warga terkait kapasitas energi, Wakil Presiden AS JD Vance memilih mengambil posisi yang lebih moderat saat berkampanye di Michigan.
Menurut Vance, mayoritas reaksi negatif soal isu pembangunan terhadap pusat data berasal dari daerah yang mana pembangunan pusat data membuat penggunaan listrik yang lebih tinggi.
Saat Rakyat AS Menolak, China Kembangkan Pusat Data di Pedesaan
Langkah defensif di AS sangat kontras dengan agresivitas China. Melalui strategi nasional "Eastern Data Western Computing", pemerintah Beijing justru mengalihkan pembangunan pusat data AI ke kawasan pedesaan barat yang berhawa sejuk dan kaya energi terbarukan, seperti Provinsi Guizhou yang kini menjadi lokasi fasilitas komputasi terbesar milik Huawei.
Penampilan infrastruktur data center mereka pun dibuat hingga menyerupai bentuk sebuah kota di Eropa. Bangunannya dibangun dengan gaya arsitektur khas benua biru.
Warga lokal di Guizhou pun menyambut hangat ekspansi digital tersebut karena terbukti menggerakkan ekonomi kawasan terpencil dan membuka lapangan kerja. Sejak munculnya fasilitas pusat data, ada juga dua kampus yang turut dibangun di sana.
"Semua warga desa di lingkungan kami sekarang mendapatkan pekerjaan di sekitar sini, tidak seperti dulu ketika mereka harus merantau ke tempat lain," ungkap salah satu warga lokal, Li Xixiu, kepada AFP.
Kontras, laporan Research Institute for Democracy, Society and Emerging Technology (DSET) yang berbasis di Taiwan menyebut, dampak pembangunan pusat data terhadap peningkatan pendapatan per kapita bagi masyarakat sekitar Guizhou tetap terbatas.
Meski demikian, China tetap memacu target pelipatgandaan kapasitas pusat data dalam lima tahun ke depan demi mempertahankan supremasi AI dunia.
