Brain Rot: Ancaman Baru Bagi Kualitas Masyarakat Digital

Anthropology I Jurnalisme. Jurnalis. Eks Antropologi Budaya ISI Padang Panjang.
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Atthoriq Chairul Hakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Adanya perkembangan pada teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari cara mereka mendapatkan informasi, berkomunikasi, juga memanfaatkannya untuk bekerja dan belajar. Hadirnya media sosial dengan algoritmanya mampu menyajikan konten secara cepat, namun jika tidak digunakan dengan baik merupakan tantangan baru bagi masyarakat. Mengiringi berbagai manfaatnya, muncul fenomena yang sering diperbincangkan yaitu brain rot. Istilah ini menggambarkan turunnya kualitas berpikir akibat terlalu sering mengonsumsi konten digital dangkal, repetitif dan minim nilai edukatif secara terus-menerus. Bahkan, brain rot ditetapkan Word of the year 2024 oleh Oxford University Press, mencerminkan meningkatnya perhatian dunia terhadap budaya digital serta dampaknya atas kemampuan berpikir manusia.

Fenomena brain rot bukan sekadar tren istilah medsos atau ruang publik semata, melainkan jawaban (refleksi) atas perubahan pola konsumsi informasi masyarakat digital. Budaya menggulir layar (doomscrolling atau endless scrolling), kebiasaan menonton video berdurasi pendek untuk mengejar hiburan semata berpotensi mengurangi rentang perhatian (attention span), menurunkan daya pikir kritis hingga menyebabkan kelelahan mental. Meskipun ini belum dikategorikan diagnosis medis, berbagai kajian menunjukkan bahwa penggunaan media digital secara berlebihan dapat mempengaruhi fungsi kognitif, produktivitas, serta kualitas dalam mengambil keputusan.
Konteks Indonesia, fenomena ini perlu menjadi perhatian karena masyarakat berada pada fase perubahan digital, dimana arus informasi sangat pesat. Jika tidak disertai dengan literasi digital memadai serta kemampuan menyaring informasi secara kritis, budaya konsumsi konten instan jika dibiasakan, berdampak menurunnya kualitas sumber daya manusia di masa depan. Memahami brain rot bukan berarti menolak kemajuan teknologi, melainkan upaya membangun kesadaran bersama agar masyarakat mampu menggunakan produk digital dengan sehat, produktif disertai kode etiknya. Artikel ini akan membahas konsep brain rot, penyebab kemunculannya, dampaknya terhadap kualitas masyarakat digital, serta upaya yang dapat dilakukan untuk mencegahnya.
Mengenal Brain Rot: Ketika Konsumsi Konten Digital Mengikis Kualitas Berpikir
Istilah brain rot semakin hangat diperbincangkan beriringan dengan meningkatnya penggunaan media digital dalam keseharian. Fenomena dapat didefenisikan kondisi menurunnya kemampuan berpikir kritis, memahami informasi dengan baik yang disebabkan sering mengonsumsi konten dangkal, hiburan semata, serta dilakukan secara berulang-ulang, hal ini dapat diperparah jika tidak adanya pemahaman lebih lanjut mengenai informasi tersebut. Sederhananya, brain rot bukanlah labeling medis, namun digunakan untuk menggambarkan dampak negatif untuk menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial terutama konten singkat, lebih mengutamakan hiburan dibandingkan edukasi.
Popularitas istilah brain rot meningkat tajam setelah Oxford University Press menetapkannya sebagai Word of the Year 2024. Penetapan ini menimbulkan ke khawatiran masyarakat global terhadap perubahan pola konsumsi informasi di era digital. Hal itu didasarkan pada faktor kemudahan dalam mengkases informasi instan, cepat, dan dalam durasi singkat. Dampaknya, otak lebih sering memperoleh informasi sekilas dibandingkan mendalam, menyebabkan bekurangnya kemampuan berpikir kritis dan praktis serta merefleksikan suatu persoalan.
Faktor utama mendorong munculnya brain rot adalah munculnya konten berformat pendek (short form conten) di platform digital. Video berdurasi pendek disertai gambar bergerak untuk menarik perhatian serta mempengaruhi pengguna mencari dopamin instan dapat memunculkan dopamin kebahagiaan sesaat. Ini pun dipengaruhi oleh algoritma media sosial kemudian disesuaikan preferensi pengguna dan mendorong untuk melakukan scrolling tanpa henti (endless scrolling). Pola konsumsi seperti ini mengurangi kemampuan seseorang untuk mempertahankan fokus aktivitas jangka waktu lama seperti membaca buku, belajar atau menyelesaikan pekerjaan kompleks (Ahmad, 65: 2025)
Berikutnya, selain dipengaruhi karakteristik media digital, faktor psikologis berpengaruh dalam berkembangnya brain rot. Fenomena ini diperkuat kebutuhan manusia akan digitalisasi seperti rasa takut tertinggal informasi (fear of missing out atau FOMO), kebutuhan hiburan instan serta kebutuhan validasi medsos mendorong individu untuk terus terhubung perangkat digital. Tidak sedikit pengguna secara refleks membuka medsos setiap kali merasa bosan atau memiliki waktu luang. Kebiasaan tersebut menimbulkan ketergantungan terhadap ransangan digital, sehingga aktivitas yang memerlukan kesabaran, pemikiran mendalam juga konsentrasi tinggi sulit dilakukan.
Aspek lain, rendahnya literasi digital turut memperbesar risiko terjadinya brain rot. Banyak pengguna belum mampu menggunakan gawai dengan bijaksana baik dalam mengelola waktu, filterirasi informasi berkualitas maupun pemilihan konten bermanfaat dalam pengembangan pengetahuan dan keterampilan. Pada sebagian kasus, ruang digital dimanfaatkan untuk rekreasi semata dibandingkan pembelajaran serta pengembangan diri. Oleh itu, memahami brain rot menjadi sangat penting, karena ini langkah awal untuk membangun kesadaran masyarakat agar mampu menggunakan teknologi digital lebih sehat, seimbang juga bertanggung jawab, tanpa mengurangi manfaat dari teknologi digital.
Dampak Brain Rot terhadap Kualitas Masyarakat Digital
Terjadinya fenomena brain rot tidak hanya memengaruhi pada tingkatan individu, namun memberikan dampak luas terhadap kualitas masyarakat digital. Ketika paparan konten instan ditambah konsumsi berlebihan berdampak terhadap komunikasi, belajar hingga berpartisipasi dalam kehidupan sosial. Jangka panjangnya, situasi ini memengaruhi sumber daya manusia sebagai modal utama menghadapi tantangan digital dalam persaingan global.
Lalung lalang informasi dengan jumlah sangat besar, kemampuan berpikir kritis, memilah informasi juga mengambil keputusan berdasarkan data merupakan bentuk komptensi sangat penting. Apa bila masyarakat gemar mengonsumsi konten bersifat dangkal dari pada mendalam, maka kemampuan tersebut akan menurun. Memahami berbagai dampak brain rot merupakan langkah penting untuk menyadari bahwa era digital bukan hanya kemudahan dalam mengakses informasi, tetapi bagaimana teknologi berdampak pada kualitas kognitif, perilaku, dan budaya masyarakat holistik.
Meskipun belum diklasifikasikan ke dalam gangguan medis, beberapa penelitian menunjukkan pola konsumsi media digital berlebihan berpengaruh terhadap fungsi kognitif, kesehatan mental, serta perilaku individu. Dampak tersebut tidak muncul tiba-tiba, namun berkembang dari cara individu atau kelompok mengakses, menggunakan serta merespons informasi. Dari dasar itu pentingnya memahami konsekuensi brain rot, untuk merumuskan upaya pencegahan diikuti penguatan literasi digital di tengah signifikannya arus teknologi dan informasi.
Terjadinya fenomena brain rot juga mengalami perkembangan bertahap, hal ini merupakan akibat mengonsumsi konten digital berlebihan terus-menerus. Dampaknya tidak muncul dalam waktu singkat, melainkan terdampak dari cara menggunakan serta mengolah informasi yang dapat mempengaruhi cara berpikir. Dalam beberapa kajian ilmiah, sebagian peneliti menyatakan bahwa brain rot dapat ditanggulangi melalui restrukturisasi kognitif, pembentukan kebiasaan digital lebih sehat serta peningkatan literasi digital. Terdapat pandangan menilai bahwa paparan digital dalam jangka waktu panjang dan berpotensi menurunkan fungsi kognitif lebih sulit dipulihkan. Perbedaan itu menunjukkan ini merupakan isu multidimensional, perlu dipahami secara komprehensif (Romadhon dkk, 284-285: 2025).
Berikut, didukung akan transformasi digital mendukung dalam pemajuan kecerdasan buatan seperti AI menghadirkan perubahan besar pada berbagai aspek kehidupan. Beragam platform digital kini hadir serta dirancang sesuai kebutuhan pengguna. Satu sisi inovasi ini memberikan kemudahan dalam pekerjaan begitupun aktivitas lainnya, dampak lainnya membuat pengguna lebih banyak menghabiskan waktu di ruang digital. Keadaan ini memperkuat kebiasaan endless scrolling, hal ini dapat mengurangi kemampuan fokus dalam waktu lama, serta lebih berorientasikan informasi ringkas dibandingkan analisis mendalam.
Dampakbya terasa pada generasi yang lahir beriringan dengan berkembangnya teknologi khususnya Generasi Alpha, hal ini disebabkan karena mereka memiliki akses lebih luas serta menerima informasi sejak dini. Kemudahan tersebut memberikan kemudahan dalam berkreativitas dan belajar mandiri, namun jika tidak diimbangi pendampingan keluarga maka berpengaruh terhadap berkembangnya daya pikir kritis, konsentrasi, kesehatan mental diserta bagaimana interaksi dengan lingkungan sosialnya. Saat ini yang seharusnya dipermasalahkan bukan kehadiran teknologi itu sendiri, melainkan bagaimana ia digunakan dengan bijaksana dan bertanggung jawab.
Menyikapi fenomena itu, adaptasi teknologi digital tidaklah membatasinya secara mutlak, melainkan didorong melalui penguatan budaya literasi digital serta prinsip digital well being. Membangun hubungan sehat dengan teknologi berdampak terhadap individu maupun kelompok lebih luasnya, maka perlu penyeimbangan aktivitas digital dalam memilih informasi kredibel. Demikian pun pemahaman lebih lanjut dalam memanfaatkan teknologi untuk kebutuhan agar tidak mengorbankan aspek-aspek penting pada tubuh masyarakat.
Membangun Masyarakat Melek Literasi Digital
Peningkatan risiko brain rot menunjukkan dengan adanya kemajuan teknologi perlu diimbangi kemampuan masyarakat dalam memanfaatkannya secara bijaksana. Persoalannya bukan terletak di keberadaan teknologinya, namun bagaimana cara menggunakannya dengan baik. Oleh itu, perlunya penguatan literasi digital sebagai strategi untuk membangun masyarakat tidak hanya mahir menggunakan teknologi, tetapi mampu menggunakan rasionalitas di tengah derasnya arus informasi.
Literasi digital bukan hanya kemampuan dalam mengoperasikan perangkat elektronik berbasis internet. Konsep ini mencakup keahlian lebih luas yaitu researching dan mengevaluasi, memahami etika diserta keamanan data pribadi hingga menggunakan teknologi dengan produktif juga bertanggung jawab. Memperkuat hal tersebut maka perlunya pemahaman serta penguatan mengenai literasi digital agar penggunaannya bersifat nihil.
Mewujudkan masyarakat melek literasi digital membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Keluarga membentuk kebiasaan penggunaan teknologi digital sejak dini, lembaga pendidikan bertanggung jawab mengembangan sifat berpikir kritis dan etika, juga pemerintah serta komunitas membentuk eksositem digital yang sehat. Sinergi ini menjadi kunci menimalkan dampak brain rot sekaligus mempersiapkan masyarakat adaptif teknologi tanpa menghilang kemampuan alamiah seperti pada kemampuan berpikir.
Literasi kritis dipandang sebagai salah satu pendekatan kritis dalam meminimalisir dampak brain rot era digital. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi kritis tidak hanya kemampuan dalam memahami informasi namun juga mempertahankan fungsi kognitif. Melalui kemampuan metakognitif, individu terdorong untuk memanajemen cara berpikir. Adanya literasi kritis dapat meningkatkan kemampuan seseorang dalam memilah informasi relevan dan kredibel, sehingga individu tidak mudah terdistraksi derasnya arus informasi. Begitupun kebiasaan menghubungkan informasi dengan pengetahuan, mampu memperkuat memori kerja serta pola pikir analitis. Lain dari itu jika diterapkan literasi kritis sebagai bentuk cognitive reconditioning dapat membentuk kembali cara berpikir sehat setelah terpapar konsumsi digital secara berlebihan (Quraisyin dkk, 312-313: 2026).
Berangkat dari itu, literasi kritis bukan hanya berfungsi preventif, namun strategi rehabilitatif terhadap dampak brain rot. Sisi upaya pencegahan, literasi kritis dapat membantu individu untuk mengenali cara kerja algoritma media sosial, konsekuensi konsumsi konten digital berlebihan. Dengan adanya literasi kritis ini dapat membentuk masyarakat lebih selektif dalam hubungan terhadap media digital. Masuk ke konsep rehabilitasi dapat membantu menciptakan kognitif berkualitas, membiasakan membaca secara mendalam juga mengimbangi pola konsumsi digital berlebihan dijadikan seimbang. Pendekatan ini dapat memperluas makna literasi digital bukan hanya sekadar keterampilan teknis, namun menjadi sebuah proses untuk menjaga kesehatan kognitif serta pengambilan keputusan era digital.
Keberlanjutannya, literasi digital diterapkan tidak hanya mahir menggunakan teknologi, tetapi memiliki ketahanan kognitif (cognitive resilience) dalam menghadapi derasnya arus informasi. Pengembangan literasi digital kritis tidak hanya berfokus akan kemampuan pengoperasian perangkatnya, namun pemahaman objektivitas berpikir kritis, memverifikasi informasi, kesadaran terhadap mekanisme algoritma serta kecerdasan buatan (Artifical Inteligence), hingga manajemen waktu digital. Pesatnya perkembangan teknologi membuat informasi disebarkan secara cepat dan masif, maka dari itu masyarakat dituntut jadi pengguna aktif, reflektif dan bertanggung jawab. Diperkuatnya literasi digital komprehensif diharapkan dapat menekan risiko brain rot, atas pertimbangan itu dengan adanya teknologi digital mampu menggenjot sumber daya manusia, produktivitas hingga daya saing masa mendatang.
