Konten dari Pengguna

Mengapa Musik Begitu Penting Bagi Generasi Digital?!

Atthoriq Chairul Hakim

Atthoriq Chairul Hakim

Anthropology I Jurnalisme. Jurnalis. Eks Antropologi Budaya ISI Padang Panjang.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Atthoriq Chairul Hakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Musik bukan hanya sekadar hiburan bagi generasi digital, melainkan cara memahami diri dan dunia di sekitarnya, penikmat musik dari berbagai platform masa sekarang mulai dari generasi muda hingga tua. Adanya globalisasi berdampak terhadap meningkatnya arus informasi begitu cepat, musik hadir sebagai ruang refleksi perasaan, pengalaman, bahkan kegelisahan dari individu ataupun hal-hal bersifat kolektivitas. Tidak heran jika anak muda sekarang merasa "terwakili" oleh lagu tertentu, seolah musik dapat berfungsi dalam menyampaikan atas apa yang mereka rasakan. Musik berfungsi medium identitas, membantu individu mengenali siapa dirinya serta posisinya dalam struktur sosial.

Sumber: ChatGPT (21/03/26)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: ChatGPT (21/03/26)

Perkembangan teknologi digital turut mengubah cara generasi muda untuk berinteraksi dengan musik, ini menyesuaikan dengan aktivitas sehari-hari seperti belajar, bekerja, dan bersosialisasi. Musik tidak lagi didengarkan secara pasif, tetapi diproduksi, dibagikan, serta dikurasi oleh aktornya. Fenomena ini menunjukkan bahwa musik telah bertransformasi menjadi praktik budaya digital dinamis, namun juga mencerminkan gaya hidup generasi saat ini.

Musik juga memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan emosional di tengah kehidupan modern. Bagi banyak orang, mendengarkan musik adalah cara sederhana untuk mengurangi stres, menenangkan pikiran, atau sekadar menemukan kenyamanan di tengah kesibukan. Di sisi lain, musik juga memperkuat rasa kebersamaan baik melalui konser, komunitas penggemar maupun interaksi di media sosial. Pentingnya musik bagi generasi digital tidak hanya terletak pada bunyinya, tetapi dapat dijadikan sebagai ruang ekspresi, koneksi, juga makna dalam mencapai harmonisasi.

Peran musik sebagai ruang ekspresi identitas generasi muda, kemajuan teknologi digital juga medsos membuka peluang pelestarian sekaligus regenerasi budaya. Platform seperti Youtube, TikTok, dan Instagram tidak hanya sekadar menjadi ruang hiburan, namun dapat jadi sarana ruang belajar serta berbagi pengetahuan. Berdasarkan observasi awal pada 7 juli 2025, ditemukan bahwa sejumlah konten menunjukkan bahwa musik tradisional dapat dihadirkan kembali dalam format digital, misalnya melalui akun @andre_perdana, serta kreator lain seperti @uswatulhakim dan @midunterkenal. Kehadiran mereka berdampak terhadap perkembangan musik tradisional Minangkabau, begitupun adaptasinya dengan musik kontemporer dalam menyusuri era digitalisasi (Vishal, 35: 2025).

Fenomena ini mempertegas argumen bahwa musik bukan hanya sekadar hiburan, melainkan menjadi bagian dari praktik budaya masyarakat yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan medsos telah mengubah cara pandang masyarakat dalam mengelola serta mengonsumsi musik. Menariknya di tengah perkembangan digitalisasi, justru muncul kecenderungan revitalisasi konten digital berbasis musik tradisional (budaya lokal), ini memungkinkan musik tradisi hadir dalam bentuk lebih fleksibel, kreatif, dan inovatif.

Kegemaran berbagai lapisan masyarakat dalam mendengarkan musik pun tidak dapat dilepaskan dalam kehidupan sehari-hari, hal ini mendorong para musisi serta aktor musik melakukan inovasi-inovasi dalam menghadapi perkembangan zaman serta memenuhi kebutuhan masyarakat dengan berbagai genre musik, dari konservatif (tradisional) hingga kontemporer. Begitupun, adanya digitalisasi adalah upaya dalam pengembangan musik agar lebih mudah dijangkau bagi para penikmatnya dan muncul dalam bentuk lebih terbaharukan, tanpa menghilangkan akar yang menjadi dasar kesenian ini.

Digitalisasi menjadi jembatan menghubungan antara tradisi dengan kontemporer, awalnya suatu karya musik hanya dihadirkan dalam bentuk fisik dengan adanya media digital, karya-karya ini dapat dinikmati dengan merata dari bebagai penjuru dunia (universal). Dengan itu para penikmat musik dapat merasakan serta menumbuhkan kesadaran terhadap pewarisan budaya lokal maupun global.

Terdapat beberapa persoalan perlu diamati dalam menghadapi digitalisasi, terutama pengelolaan musik dengan digitalisasi. Salah satunya masih rendahnya tingkat literasi digital bagi masyarakat penikmat musik. Dalam penelitian Krisnanik dkk. (2023) menunjukkan bahwa keterbatasan pemahaman teknologi menjadi hambatan utama dalam memanfaatkan platform digital secara optimal. Di sisi lain, generasi muda khususnya Generasi Z, memiliki karakter konsumsi informasi berbeda. Amelia dkk. (2024), dalam menikmati karya musik mereka cenderung menyukai konten cepat, visual, juga menarik, sehingga terciptanya strategi pengemasan budaya lebih kreatif dan adaptif. Keberhasilan digitalisasi musik dan budaya tidak hanya bergantung pada ketersediaan teknologi, tetapi kemampuan mengelola konten agar sesuai dengan karakter audiens yang beragam (Vishal dkk, 34-51: 2025).