Menilik Logo HUT RI ke-80 Lewat Mata Rakyat: Sebuah catatan Etnografi Visual

Anthropology I Jurnalisme. Jurnalis. Eks Antropologi Budaya ISI Padang Panjang.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Atthoriq Chairul Hakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap tahun, logo resmi Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia dirancang dan diluncurkan oleh pemerintah. Tahun ini, memasuki usia 80 tahun Indonesia hadir dalam format khas: angka besar "80" yang saling melingkar membentuk simbol tak terhingga (infinity), lengkap dengan warna merah putih dominan dan sentuhan digital modern. Logo ini diluncurkan Presiden Prabowo pada 23 Juli 2025, dengan tema "Bersatu, Berdaulat Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju."

Namun, jikakita hanya berhenti pada pengumuman resmi atau panduan visual dari kementerian, maka kita kehilangan satu aspek penting: bagaimana logo ini hadir atau tidak hadir-dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Di sinilah etnografi visual memberi cara pandang yang berbeda: bukan hanya melihat apa yang tampak, tetapi bagaimana sesuatu dilihat, dipakai, dimaknai, atau bahkan diabaikan oleh orang-orang di berbagai tempat.
Simbol Nasional yang Jauh dari Sentuhan Rakyat
Dalam konsep etnografi visual, simbol seperti logo bukan sekadar gambar. Ia adalah bagian dari kehidupan sosial. Kita bisa bertanya: siapa yang bisa melihat logo ini? Siapa yang menggunakannya? Dan apakah ia memberi makna tertentu?
Dari pengamatan awal terhadap unggahan media sosial komunitas warga di berbagai daerah, serta dokumentasi lapangan visual seperti spanduk, mural atau baliho, tampak bahwa logo HUT RI ke-80 memang tersebar-namun tidak merata. Di kota-kota besar, terutama di lingkungan pemerintahan dan skala formal, logo ini dicetak rapi dalam bentuk backdrop acara, banner digital, hingga video promosi. Tapi di desa-desa atau lingkungan pinggiran kota, logo ini justru sering digantikan oleh kreasi masyarakat sendiri: cat dengan tripleks, tulisan angka 80mdengan gaya bebas, atau hiasan kampung yang tak melibatkan simbol resmi sama sekali.
Mengapa ini terjadi? Salah satu jawabannya adalah soal jarak antara desain resmi dan pengalaman hidup sehari-hari. Logo HUT RI ke-80 dirancang dengan bahasa visual yang sangat modern: garis bersih, bentuk geometris, kontras warna tinggi-semuanya khas gaya desain digital masa kini. Tapi kehidupan masyarakat Indonesia sangat beragam, tidak selalu akrab dengan estetika macam itu. Di sinilah muncul kesenjangan antara simbol negara dan imajinasi rakyat.
Nasionalisme yang Dikemas, estetika yang Dimonopoli Logo ini jelas menyampaikan pesan kemerdekaan yang terus berlanjut (simbol tak hingga), persatuan, kemajuan. Tapi secara visual, desain seperti ini juga menyiratkan bahwa nasionalisme harus tampil "rapi", "teknologis", dan "seragam." Semua aspek desain terasa dikemas dengan gaya korporat-mirip logo perusahaan besar ketimbang simbol budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Di sinilah etnografi visual memberi kritik: ketika desain nasional hanya dibuat dari atas (top down), tanpa ruang partisipasi dari bawah, maka ia kehilangan relasi sosialnya. Logo bisa jadi indah, tapi tidak hidup. Padahal, di banyak tempat, kemerdekaan justru dirayakan dalam bentuk yang lebih organik: lomba-lomba rakyat, parade anak-anak sekolah, tumpeng syukuran di pos ronda. Semua ini adalah bentuk ekspresi yang tidak memerlukan simbol resmi-karena makna kemerdekaan sudah mereka rasakan dan rayakan dengan caranya sendiri.
Logo sebagai Representasi: Siapa yang Diwakili?
Pertanyaan mendasar yang patut kita ajukan adalah siapa yang sebenarnya diwakili oleh logo ini ?. Apakah logo HUT RI ke-80 benar-benar mencerminkan keberagaman wajah Indonesia? atau hanya memiliki satu sisi yaitu negara dengan segala protokol formalnya?
Dalam berbagai dokumentasi visual lapangan yang saya amati, justru lebih sering muncul simbol-simbol alternatif yang lebih membumi: gambar burung garuda dari papan kayu buatan warga, poster anak-anak dengan tulisan tangan "Merdeka 80 Tahun," hingga desain spontan dari pemuda karang taruna. Semuanya menunjukan bahwa rakyat punya cara sendiri dalam membayangkan Indonesia.
Logo resmi-sebagai bagian dari wajah negara-tampak tidak memberikan ruang cukup bagi interpretasi kreatif dari rakyat. Ia hadir sebagai paket jadi: ada pedoman warna, bentuk, layout, hingga contoh penggunaanya. Ini menunjukkan upaya mengatur pandangan publik lewat kontrol visual. Dalam studi visual, dikenal sebagai upaya sentralisasi estetika, di mana negara menjadi satu-satunya produsen sah dari simbol nasional.
Makna tersirat tapi nyata, justru dari apa yang tidak tampak kita bisa membaca lebih banyak. Pada ruang publik, logo ini tidak terlihat, tapi bukan berarti mereka tidak merayakan kemerdekaan. Sebaliknya, mereka merayakan dengan penuh semangat, dengan cat seadanya, ide spontan, dan semangat gotong royong. Etnografi visual tidak hanya melihat gambar, tetapi juga melihat konteks: ruang, tubuh, ekspresi, suara, dan gerakan yang membentuk makna bersama.
ketidakhadiran logo resmi justru memperlihatkan suatu hal penting: simbol negara belum tentu menjadi simbol yang hidup di hati masyarakat.
Penutup: Menuju Rupa Nasional yang Partisipatif
Logo HUT RI ke0 80 adalah cermin bagaimana negara ingin dilihat, tapi belum tentu mencerminkan bagaimana rakyat melihat dirinya. Dalam konteks ini, etnografi visual mengingatkan kita bahwa rupa nasionalisme seharusnya lahir dari bawah, dari suara, warna, bentuk yang tumbuh di kampung-kampung, di ruan sekolah, di gang-gang kecil kota, di komunitas marjinal.
Simbol nasional yang baik bukan hanya dipakai, tapi dihayati. Dan untuk itu, ia harus membuka ruang: agar rakyat tidak hanya menjadi penonton dari desain yang sudah jadi, tapi juga menjadi bagian dari proses penciptaannya.
Karena sejatinya, merdeka bukan hanya tentang angka dan warna, akan tetapi tentang siapa yang boleh ikut menggambarkan wajah Indonesia.
