Satu Liter BBM, Sejauh Perjalanan Negara
Tulisan dari Thoriq Ramadani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bahan Bakar Minyak (BBM) menuju Krayan, sebuah kecamatan yang berbatasan dengan wilayah Sarawak, Malaysia, tidak datang dengan perjalanan biasa. Ada perjalanan menggunakan air tractor, sejenis pesawat terbang pengangkut BBM dari Bandara Juwata Tarakan ke Bandara Yuvai Semaring, Nunukan, kemudian dilanjutkan melalui jalur darat.
Sementara itu, saya sendiri menempuh perjalanan laut dari Tarakan menuju Bulungan sekitar satu jam dan dilanjutkan perjalanan darat sekitar tiga jam untuk melihat pendistribusian BBM Satu Harga bagi masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Mengutip laman bphmigas.go.id, pengiriman BBM menggunakan air tractor dilakukan maksimal tiga kali sehari. Dalam sekali perjalanan, armada ini dapat membawa hingga 3.000 liter Biosolar atau 4.000 liter Pertalite. Untuk satu kali pengiriman hingga kembali ke Bandara Juwata, air tractor membutuhkan waktu sekitar dua jam.
Upaya memenuhi kebutuhan BBM masyarakat di wilayah 3T dilakukan dengan berbagai moda transportasi, mulai dari angkutan darat, laut, hingga udara. Multimoda menjadi bagian dari perjalanan energi di Indonesia.
Mengapa negara harus serumit itu mengantarkan energi?
Indonesia bukan hanya Jakarta, Surabaya, atau kota besar lainnya. Ada masyarakat yang tinggal di wilayah dengan akses geografis yang jauh lebih sulit. Bagi masyarakat, baik di kota besar, maupun di daerah 3T, kehadiran energi adalah bentuk pelayanan negara.
Pasal 33 UUD 1945 mengamanatkan bahwa cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara serta bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Indonesia juga merupakan negara kepulauan dengan karakteristik geografis, sumber daya, dan infrastruktur yang berbeda-beda di setiap daerah. Karena itu, negara perlu hadir untuk memberikan akses masyarakat terhadap energi, khususnya BBM.
Gempa Manggarai
Saya baru saja tiba di Manggarai ketika gempa menyambut kedatangan kami. Perjalanan laut sekira empat jam dari Manggarai Barat sedikit memabukkan karena ombak cukup tinggi selama perjalanan dengan kapal cepat.
Saya meninjau Fuel Terminal (FT) Reo yang sebelumnya terdampak gempa. Setelah kembali beroperasi, FT Reo menjadi salah satu titik distribusi BBM subsidi dan nonsubsidi untuk wilayah Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur.
Mengutip laman bphmigas.go.id, dari terminal ini mobil tangki melayani 28 penyalur BBM dan 10 agen minyak tanah, dengan jarak distribusi terjauh mencapai sekitar 12 jam perjalanan.
Kehadiran negara untuk memenuhi kebutuhan BBM masyarakat tidak hanya dibutuhkan dalam kondisi normal, tetapi juga ketika bencana terjadi. Inovasi pelayanan publik tidak selalu harus berupa aplikasi baru. Menjaga stok dan distribusi BBM ketika kondisi tidak lagi normal juga merupakan bentuk inovasi yang tidak kalah penting.
BBM menjadi salah satu sumber penting dalam proses pemulihan, baik untuk kendaraan, kelistrikan darurat melalui genset, maupun alat berat yang digunakan untuk membantu penanganan pascabencana.
BBM untuk Kabupaten Muna Barat
Empat puluh menit di atas kapal penyeberangan dan tiga jam di jalan darat mungkin terlihat sebagai perjalanan biasa. Namun, perjalanan dari Baubau menuju Muna Barat, Sulawesi Tenggara, menjadi pengingat bagi saya bahwa sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), hadir bukan untuk menghapus jarak geografis, tetapi memastikan jarak tersebut tidak menjadi alasan pelayanan publik berhenti.
BBM adalah kebutuhan seluruh rakyat Indonesia. Karena itu, kehadiran BBM di daerah 3T perlu terus didorong agar masyarakat dapat memanfaatkan energi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus menggerakkan perekonomian daerah.
ASN dan Inovasi Kehadiran Energi
Perjalanan ke berbagai pelosok negeri membuat saya memahami bahwa tugas ASN tidak cukup hanya bekerja dari balik meja. ASN perlu hadir di lapangan, melihat kebutuhan masyarakat, memahami kesulitan yang mereka rasakan, termasuk persoalan akses terhadap BBM, kemudahan mendapatkannya, serta ketersediaan stok dan kelancaran distribusinya.
Penggunaan data dan teknologi juga menjadi bagian penting. Aduan masyarakat, pemberitaan media massa, hingga konten serta percakapan di media sosial dapat menjadi sumber informasi untuk membaca persoalan di lapangan. Pemetaan tersebut membantu menentukan prioritas dan mencari solusi yang sesuai dengan karakter masing-masing wilayah.
Di sisi lain, koordinasi antarkementerian, lembaga, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, akademisi, badan usaha, media massa, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi kunci untuk menyelesaikan tantangan di lapangan. Kebijakan tidak boleh berhenti hanya sebagai dokumen, tetapi harus diimplementasikan menjadi aksi nyata untuk menjawab berbagai tantangan yang dirasakan masyarakat.
Dari Tarakan di Kalimantan Utara, Manggarai di Nusa Tenggara Timur, hingga Muna Barat di Sulawesi Tenggara, saya melihat bahwa jarak geografis memang tidak selalu mudah ditaklukkan. Akan tetapi, pelayanan publik untuk menghadirkan BBM kepada rakyat Indonesia tidak boleh ikut berhenti karena jarak.
Lalu, seberapa jauh negara harus berjalan agar satu liter BBM sampai kepada masyarakat?
Jawabannya sederhana: sejauh masyarakat membutuhkan negara untuk hadir.

