Konten dari Pengguna

Forum Resmi Punya Agenda, Arisan Punya Kejujuran

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Thoufan Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto : Milik Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto : Milik Pribadi

Ruangan itu selalu punya bunyi yang sama: suara saya. Kursi berjajar rapi, materi disampaikan, dan begitu sesi tanya jawab dibuka, yang terdengar hanya dengungan kipas angin. Namun sepuluh menit setelah forum ditutup, di teras rumah warga, suara-suara itu justru pecah: soal KB (keluarga berencana) yang ingin dilanjutkan lagi, anak yang berat badannya sedang diupayakan naik, rumah tangga yang diam-diam mencari jalan pulih. Pertanyaan yang tadi tertahan di ruangan ternyata hanya bersembunyi, menunggu suasana yang tepat untuk lahir kembali.

Jika bukan warganya yang perlu diubah, lalu apa? Jawabannya: ruangnya. Ruang paling tepercaya di kampung bukan aula balai desa, melainkan arisan: ibu-ibu berkumpul bergiliran rumah, ngobrol, tertawa, sebelum kocokan dibuka, tanpa jarak, tanpa kecanggungan. Dari situ lahir gagasan Arisan Program, wadah lintas isu yang memuat seluruh program Kemendukbangga/BKKBN (Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional): KB, percepatan penurunan stunting (gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis), kesehatan reproduksi remaja, ketahanan keluarga, hingga lansia tangguh, dikemas dengan keakraban arisan kampung.

Sumber Foto : Milik Pribadi

Tapi benarkah ini persoalan nyata? Angka unmet need KB (kebutuhan ber-KB yang belum terpenuhi) nasional masih 11,5 persen (SKAP BKKBN, 2023), dengan ruang besar untuk terus didekatkan ke target 7,4 persen. Prevalensi stunting nasional 19,8 persen (SSGI Kemenkes, 2024), sudah menurun dari 21,5 persen, tren yang membuka jalan menjawab akar soal: orang tua yang masih belajar menerima bahwa pola asuhnya bisa diperbaiki, remaja yang membutuhkan ruang nyaman bicara kesehatan reproduksi, pasangan yang mencari tempat aman berbagi persoalan rumah tangganya. Angka ini biasa dibaca sebagai persoalan akses, padahal kuncinya ada pada kedekatan personal antara petugas dan warga yang bisa terus dibangun. Begitu suasana santai, keterbukaan muncul sendiri.

Cara kerjanya: setiap pertemuan dibuka undian topik dari gulungan kertas, sehingga peserta tak pernah tahu pasti apa yang dibahas, ketidakpastian yang justru jadi daya tarik. PKB/PLKB (Penyuluh Keluarga Berencana) dan Kader IMP (Institusi Masyarakat Perdesaan/Perkotaan) jadi fasilitator, warga jadi peserta aktif, mitra lain dilibatkan sesuai topik.

Sumber Foto : Milik Pribadi

Bedanya dari forum penyuluhan biasa ada di babak lanjutan: setelah suasana mencair, forum bergerak bebas ke persoalan nyata warga, sekalipun melenceng dari topik undian, komunikasi berbalik dari satu arah menjadi dua arah. Undian topik KB, misalnya, bisa berujung cerita seorang ibu tentang anaknya yang berat badannya sedang diupayakan naik, cerita yang tak pernah ia sampaikan di posyandu karena segan dianggap tidak becus mengurus anak. Kader bisa langsung menindaklanjuti, warga belajar tanpa digurui.

Apakah ini butuh anggaran besar? Justru di sinilah esensi inovasi pelayanan publik: bukan kecanggihan sistem, melainkan kesediaan menjangkau warga lewat jalur yang sudah mereka percayai, dan bergantung pada konsistensi, bukan dana besar. Saat Intervensi Serentak Pencegahan Stunting digelar Juni 2024, partisipasi pengukuran balita lewat EPPGBM sempat menembus 96 persen dari 17 juta balita terdata (Kemenko PMK, 2024), bukti keberhasilan program lebih ditentukan peran aktif kader ketimbang besarnya dana.

Sumber Foto : Milik Pribadi

Tapi apakah gagasan ini sudah sempurna? Selalu ada ruang untuk disempurnakan. Peluangnya ada pada penyatuan jadwal PKB/PLKB, Kader IMP, warga, dan mitra yang masing-masing aktif, apalagi di wilayah bermata pencaharian musiman. Solusinya: jadwal berdasar kesepakatan bersama, disesuaikan hari pasar atau waktu senggang, plus pembekalan singkat teknik fasilitasi partisipatif. Karena kerangkanya sejak awal lintas topik, model ini mudah direplikasi tanpa dibangun ulang untuk tiap program.

Akankah model tatap muka ini tergerus zaman digital? Justru sebaliknya, wajahnya makin terasa lewat lapisan digital sebagai penopang, bukan pengganti: undian topik via bot WhatsApp yang otomatis mengingatkan jadwal; dashboard pemetaan keluhan warga terhubung Sistem Informasi Keluarga (SIGA) BKKBN, sehingga klaster masalah wilayah terbaca cepat sebagai dasar evaluasi; sistem apresiasi bagi warga dan kader aktif; arsip tanya-jawab yang bisa diakses ulang; hingga analitik lintas wilayah untuk replikasi program. Lapisan ini menutup celah lama tata kelola, namun kehangatan tatap muka tetap inti, teknologi hanya alat bantu.

Sumber Foto : Miliki Pribadi

Mengapa ini layak disebut inovasi? Bukan pada elemennya, arisan dan penyuluhan KB sudah lama berjalan, melainkan pada cara keduanya dikombinasikan: dari memaksa warga beradaptasi ke sistem baru, menjadi menjemput kebiasaan yang sudah mereka percayai; dari forum bersekat satu isu, menjadi satu kerangka lintas program yang hemat sumber daya. Dampaknya terasa pada partisipasi: forum yang dinanti membuat kehadiran bukan lagi beban, posisi warga bergeser dari objek penyuluhan menjadi peserta aktif yang saling belajar, sementara pembekalan fasilitasi partisipatif turut meningkatkan kapasitas SDM petugas. Klaim ini hipotesis menjanjikan, dengan uji coba dan monitoring-evaluasi berkelanjutan sebagai langkah berikutnya.

Pada akhirnya, inovasi pelayanan publik tidak lahir dari besar anggaran atau canggih sistem, melainkan dari keberanian keluar dari kursi berjajar rapi dan duduk sejajar dengan warga yang kita layani. Arisan Program hanyalah satu cara sederhana untuk sampai ke sana: mengubah forum sunyi menjadi forum dinanti, mengubah data telat terbaca menjadi suara terdengar sejak dini. Ketika lapisan digital ikut menopangnya, gaung arisan itu tidak akan berhenti di satu RT atau satu desa, melainkan menjalar menjadi gerakan pelayanan publik yang tumbuh dari akar rumput. Maka pertanyaannya bukan lagi mengapa harus arisan, melainkan: siapa yang berani mencobanya lebih dulu?