Konten dari Pengguna

Sungai Tanah Kilap dan Krisis Sampah yang Kita Biasakan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tia Amelia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah hiruk-pikuk aktivitas masyarakat dan lalu lintas di kawasan Tanah Kilap, terdapat satu pemandangan yang ironis: aliran sungai yang dipenuhi sampah plastik. Kantong sekali pakai, bungkus makanan, dan limbah domestik terlihat mengapung, seolah menjadi bagian “alami” dari lanskap kota.

Padahal, kawasan ini berada di ruang yang tidak asing bagi kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Bali. Di sekitarnya berdiri bangunan adat dan tempat ibadah yang dijaga kesakralannya. Namun, hanya beberapa meter dari sana, sampah dibiarkan menumpuk tanpa rasa bersalah.

Masalah sampah di Bali sebenarnya bukan hal baru. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika kondisi ini mulai dianggap biasa. Sungai yang kotor tidak lagi memicu rasa risih, apalagi kemarahan. Kita melewatinya setiap hari, melihatnya sekilas, lalu melupakannya.

Sungai sejatinya bukan tempat pembuangan akhir. Ia adalah jalur kehidupan—mengalirkan air, menopang ekosistem, dan menjadi bagian dari keseimbangan lingkungan. Ketika sungai dipenuhi sampah, dampaknya tidak berhenti pada estetika. Ia membawa ancaman kesehatan, menyumbat aliran air, meningkatkan risiko banjir, dan perlahan merusak ekosistem perairan.

Ironisnya, kawasan seperti Tanah Kilap sering menjadi lintasan wisata dan wajah kota. Sampah-sampah yang mengapung ini bukan hanya mencemari air, tetapi juga mencoreng citra Bali sebagai pulau yang menjunjung harmoni antara manusia dan alam.

Masalah ini tentu tidak bisa dibebankan pada satu pihak. Kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan, minimnya pengawasan, serta pengelolaan sampah yang belum maksimal semuanya berkontribusi. Tanpa perubahan perilaku dan komitmen bersama, sungai akan terus menjadi korban.

Sampah mengapung di aliran sungai kawasan Tanah Kilap, Bali (Dokumentasi penulis, 2026)

Foto ini bukan sekadar dokumentasi, tetapi pengingat. Bahwa di balik rutinitas harian kita, ada lingkungan yang pelan-pelan rusak karena kelalaian. Jika sungai saja kita abaikan, sulit membayangkan bagaimana masa depan ekosistem perkotaan Bali ke depan.

Sudah saatnya sungai tidak lagi diperlakukan sebagai halaman belakang yang kotor. Menjaga kebersihan bukan soal slogan, melainkan tindakan sederhana yang konsisten. Karena alam yang rusak tidak pernah diam—ia selalu menagih kembali.