Konten dari Pengguna

”Magnifica Humanitas” dan Urgensi Ekologi Komunikasi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Agustian Ganda Putra Sihombing tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

”Our first task is neither to demonize nor idolize technological tools, but to utilize on the basis of a fundamental principle, namely that truth is a common good and not the property of those with power or influence. We must therefore promote an ecology of communication.” (Magnifica Humanitas, artikel 137)

Pasca terbitnya pada 25 Mei 2026, ensiklik pertama Paus Leo XIV–Magnifica Humanitas (MH)–telah menarik perhatian dunia. Ensiklik ini sedang menyuguhkan tanda zaman, bahwa manusia modern menghadapi situasi paradoksal, yakni kekurangan kebijaksanaan di tengah kecerdasan artifisial.

Di tengah kemajuan teknologi, muncul pertanyaan fundamental: bagaimana manusia sebagai ’ciptaan yang agung’ mampu menggunakan alat-alat canggih dalam mengkomunikasikan situasi bumi yang sedang menanggung beban atas kemajuan teknologi modern?

Ilustrasi Ekologi Komunikasi. Generated by AI.

Perhatian yang serius

Dalam beberapa kesempatan, Paus ke 267 dalam Gereja Katolik ini menyampaikan perhatian serius terhadap keadaan bumi. Misalnya, dalam Pesan Untuk Hari Doa Sedunia ke 10 untuk Perawatan Ciptaan (1 September 2025), Leo XIV mengungkapkan bahwa Allah menitipkan bumi dan segala isinya kepada ”laki-laki dan perempuan yang diciptakan-Nya menurut gambar-Nya” bukan untuk dirusak.

Alkitab tidak memberikan pembenaran bagi manusia untuk melakukan ’tirani atas ciptaan’. Sebaliknya, bumi harus diolah dan dipelihara dalam hubungan tanggung jawab timbal balik antara manusia dan alam.

Sebulan kemudian, dalam peringatan 10 tahun Laudato Si’ dan adopsi Perjanjian Paris di Italia, Paus Leo XIV kembali menyerukan pertobatan ekologis dan aksi lingkungan tetap hidup.

Leo juga menyerukan supaya pemerintah mengembangkan dan menerapkan peraturan, prosedur, dan kontrol yang lebih ketat pada produksi barang-barang dan konsumsi berlebihan.

Poin menarik berikutnya adalah Paus Leo XIV meminta agar warga negara perlu dilibatkan secara aktif juga dalam pengambilan keputusan di tingkat nasional, regional, dan lokal.

Dalam Forbes.com (20 Mei 2025), Monica Sanders pun menuliskan bahwa Paus Leo XIV memiliki komitmen untuk meneruskan seruan moral Paus Fransiskus agar dunia menaruh perhatian serius pada bumi yang sedang dirongrong kerusakan.

Pasar, keuntungan, teknologi, dan inovasi tak terkendali mesti ’didisplinkan oleh keadilan, dipandu oleh kebijaksanaan, dan diikat pada kebaikan bersama’.

Hal ini amat perlu, karena adanya korelasi kuat antara ketidakmampuan manusia untuk mengendalikan kecerdasan artifisial dalam memajukan ekonomi terhadap efek ekologis yang ditimbulkan terhadap masyarakat kecil dan lemah.

Maka, masuk akal, bahwa krisis di bumi tidak sekadar masalah teknis, melainkan keadilan. Efeknya menyebar ke banyak dimensi seperti krisis iklim, ancaman pada keanekaragaman hayati, konflik perebutan sumber daya alam, hingga pola konsumsi tak terkendali.

Sayangnya, efek itu tidak diperbaiki dengan sistem yang tepat dan prinsip solidaritas, keadilan sosial, subsidiaritas, dan kebaikan bersama. Inilah yang harus diperbaiki.

Teknologi komunikasi yang canggih jangan sampai ”membungkus” kerusakan di bumi dengan sistem yang tidak ekologis agar bumi tidak memikul beban-beban yang semakin overload.

Ekologi komunikasi

Di dalam komunikasi tentu ada pertukaran pesan. Akan tetapi, komunikasi juga membentuk cara pandang. Apa yang manusia katakan tentang alam, kelompok-kelompok masyarakat, kemajuan, dan kebenaran akan menentukan bagaimana ia bertindak.

Krisis ekologis hari ini menunjukkan bahwa kerusakan di bumi tidak hanya dihasilkan oleh teknologi atau ekonomi, tetapi juga pada cara berpikir dan bahasa yang membentuk keputusan manusia.

Misalnya, bila hutan dipandang sebagai ”lahan kosong”, sungai sebagai ”sumber daya”, dan masyarakat kecil sebagai ”hambatan pembangunan”, maka eksploitasi menjadi sesuatu yang dinilai wajar.

Efek dari sistem komunikasi yang tidak ekologis sungguh mengerikan. Dan ini tidak boleh diabaikan. Ekologi komunikasi semakin urgen. Manusia di era digital mesti semakin kritis sebagai makhluk yang paling agung dalam menggunakan teknologi di tengah ekosistem komunikasi.

Lebih dalam lagi, manusia mesti sampai pada cara memandang dan berbicara tentang sesama manusia, bumi, dan segala kondisi yang ada di dalamnya tanpa manipulasi (Marshall McLuhan: 1964).

Sebenarnya, sistem komunikasi canggih saat ini menjadi gerbang besar untuk menghadirkan perubahan seturut hakikat ekologi komunikasi. Teknologi dan kecerdasan artifisial tidak boleh digunakan menjadi alat untuk membungkus kerusakan bumi dengan narasi indah.

Sebaliknya, kecerdasan artifisial mesti menjadi sarana menampilkan kebenaran yang sesungguhnya. Sistem komunikasi yang tidak ekologis dan jujur hanya akan memperpanjang ketidakadilan.

Dari Paus Leo XIV, manusia era digital dituntun untuk berani mengkomunikasikan situasi bumi yang sedang menanggung beban atas kemajuan teknologi.

Kebijaksanaan dan tanggung jawab moral perlu diperkuat dan dipatrikan lagi. Segala keputusan tidak boleh diserahkan kepada mesin, sebab manusia memiliki keagungan pikiran, perasaan, dan kebebasan.

Bagaimana mewujudkannya? Pertama, masyarakat perlu membangun literasi digital yang mengajarkan cara menggunakan teknologi dan kritis terhadap informasi.

Kedua, lembaga pendidikan, media, dan komunitas agama perlu membentuk budaya komunikasi yang menghargai fakta dan menghindari manipulasi. Ketiga, pengembangan teknologi, termasuk AI, harus diarahkan dalam prinsip etika: transparansi, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap manusia.

Pada akhirnya, keagungan manusia terletak pada kemampuan menguasai dunia dan mengelolanya. Bumi membutuhkan pertobatan cara berpikir. Sebelum menyelamatkan bumi, manusia harus menyelamatkan cara mendengarkan, menyelidiki, dan mewartakan bumi, sesama, dan segala kepentingan di dalamnya agar terkontrol dalam kasih.