Konten dari Pengguna

Sampai Kapan Kita Abai pada Krisis Iklim yang Kian Parah?

Agustian Ganda Putra Sihombing

Agustian Ganda Putra Sihombing

Biarawan Ordo Kapusin Provinsi Medan (OKPM). Anggota Justice, Peace, and Integrity of Creation (JPIC) Kapusin Medan. Penulis Opini.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Agustian Ganda Putra Sihombing tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

World Meteorological Organization (WMO) baru saja merilis laporan Kondisi Iklim Global 2025 pada Hari Meteorologi Sedunia (23/03/2026).

Laporan ini berisi rincian lengkap tentang indikator perubahan iklim yang telah diangkat pada 14 Januari 2026.

Sebelumnya, pada 14 Januari 2026, WMO telah menyampaikan laporan, bahwa sebelas tahun terakhir (2015-2025) suhu di bumi tercatat sebagai terpanas secara global.

Dalam laporan 14 Januari 2026 dan 23 Maret 2026, WMO mencatat bahwa suhu permukaan rata-rata global adalah 1,43-1,44 0C (dengan margin ketidakpastian ± 0,13 0C) di atas rata-rata rentang 1850-1900 dengan tahun 2025 sebagai tahun terpanas kedua atau ketiga dalam catatan 176 tahun.

Untuk tiga tahun terakhir (2023-2025), rata-rata suhu gabungan adalah 1,48 0C (dengan margin ketidakpastian ± 0,13 0C). Angka tersebut berada di angka era praindustri.

Kita dapat membayangkan bahkan merasakan, apa saja dampak buruk bila iklim di bumi semakin krisis.

Ilustrasi bumi yang hijau dan kritis. Foto: Generated by AI.

United Nations dalam Climate Action menyebut bahwa dampak buruk pertama adalah suhu di atas permukaan bumi semakin panas. Terutama, hal ini sangat terasa di 2015-2025.

Kedua, munculnya badai yang lebih intens dan dahsyat. Ini disebabkan oleh penguapan air di atas permukaan bumi.

Penguapan memperburuk curah hujan ekstrem. Siklon, angin topan, dan badai dahsayat memanfaatkan air hangat di permukaan bumi.

Ketiga, kekeringan semakin parah. Ini terjadi karena air semakin langka. Kekeringan pun dapat memicu badai pasir dan debu. Sekarang, banyak orang yang mengalami kelangkaan air (bersih).

Keempat, laut menjadi hangat dan permukaannya naik. Laut menyerap sebagian panas. Pencairan lapisan es membuat permukaan laut naik.

Kelima, spesies di darat dan laut mengalami kepunahan. Ada bahaya bahwa satu juta spesies akan punah dalam dekade mendatang, karena panas di bumi dan perubahan iklim.

Keenam, bencana ekologis dan kemiskinan. Tak mungkin terbantah lagi, bahwa ini adalah dampak yang menyengsarakan.

Bencana ekologis dapat menyapu bersih pemukiman masyarakat dan menghancurkan sumber pencaharian. Pada 2024, ada 45,8 juta orang yang mengungsi akibat bencana yang disebabkan oleh iklim bumi.

Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres–yang juga mewakili banyak orang yang prihatin pada bumi–menilai bahwa bumi sedang berada dalam bahaya akibat krisis iklim.

”Kondisi iklim global berada dalam keadaan darurat. Planet Bumi sedang didorong melampaui batas kemampuannya. Setiap indikator iklim utama menunjukkan tanda berbahaya,” kata Guterres saat siaran pers dengan tema Iklim Bumi semakin Tidak Seimbang (23/03).

Faktor-faktor terkini

Pertanyaan kedua, apa saja faktor yang menyebabkan iklim mengalami krisis yang kian parah? Mari kita lihat sembari menaruh empati lebih dalam terhadap bumi saat ini.

Pertama, kadar gas rumah kaca (karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida) mengalami peningkatan.

Dalam State of The Global Climate 2025, emisi gas kaca mengalami peningkatan dari pra-industri.

Emisi karbon dioksida (CO2) adalah 423,9 ± 0,2 ppm atau 152% dari tingkat pra-industri. Emisi metana (CH4) adalah 1942 ± 2 ppb atau 266% dari tingkat pra-industri. Dinitrogen oksida (N2O) adalah 338,0 ± 0,1 ppb atau 125% dari tingkat pra-industri.

Kadar gas rumah kaca yang tinggi memerangkap lebih banyak panas dalam bumi. Hal ini membuat keseimbangan energi yang masuk dan keluar berubah.

Keadaan ini disebut dengan ”the Earths Energy Imbalance” (ketidakseimbangan energi bumi) yang menjadi faktor baru dalam meningkatnya suhu di permukaan bumi. Ketidakseimbangan ini telah terjadi sejak 1960-an dan mencapai titik tertinggi baru pada 2025.

Hal yang sejara dilampirkan oleh United Nations Environment Programme (UNEP) dalam Emissions Gap Report 2025. Krisis iklim dan peningkatan suhu di atas permukaan bumi terjadi karena hampir semua negara menjadi penghasil emisi karbon.

Kedua, suhu permukaan rata-rata global (GMST) pun turut meningkat terutama selama 176 tahun ini. Suhu rata-rata diukur dari kombinasi suhu udara di atas daratan dan permukaan laut wilayah samudra.

Wilayah yang mengalami anomali suhu hangat yang signifikan adalah Greenland, Kanada bagian utara, Eropa barat, Fennoscandia, Mediterania, dan banyak bagian Asia.

Ketiga, saat gas rumah kaca menumpuk di atmosfer, suhu meningkat pula di laut. Sekitar 90% panas berlebih yang terperangkap oleh gas rumah kaca diserap oleh lautan; menyebabkan laut menghangat dan memengaruhi kehidupan di dalamnya.

Keempat, menurut Emissions Gap Report 2025 oleh UNEP, krisis iklim dan peningkatan suhu di atas permukaan bumi disebabkan oleh emisi karbon.

Kelima, krisis iklim tak dapat dipisahkan dari perang. Ahmad Arif menuliskan dengan sangat tajam kaitannya (Kompas.id, 24/06/2025).

Perang tidak hanya menghancurkan manusia, tetapi turut memperparah krisis iklim lewat ekosida.

Aktivitas militer menyumbang sekitar 5,5% emisi karbon global. Operasi alat tempur menghasilkan lonjakan emisi yang drastis.

Selain itu, perang merusak lingkungan hidup secara langsung (hutan, tanah, air, dan infrastruktur energi).

Dampaknya bersifat panjang, seperti efek Perang Vietnam (1955-1975), di mana racun perang terus mencemari lingkungan dan memengaruhi kesehatan manusia hingga kini.

Penyembuhan bumi

Atas kondisi yang ada (berbasis data dan penelitian), apa yang mesti kita lakukan?

Apakah kita akan membiarkan krisis iklim semakin parah? Sampai kapan kita abai dan membiarkan kemungkinan buruk terjadi?

Kiranya, sebagai makhluk yang paling bermartabat di tengah kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, kita mesti menyembuhkan bumi. Krisis iklim merupakan salah satu dari luka-luka bumi.

Saat ini, kita sudah menemukan pengetahuan yang semakin maju tentang ekologi. Dengan kemajuan tersebut, kita semakin ditekan untuk mencegah krisis iklim yang semakin parah.

Akan tetapi, sering kali harapan ini gagal terwujud sebab lebih banyak kelompok manusia zaman sekarang yang mengalami erosi penghayatan ekologis.

Dapat kita lihat bagaimana pasar, ekonomi, dan keuntungan dikejar dengan menggebu-gebu bahkan harus dengan perang.

Dari terkikisnya kemampuan kita untuk merawat, muncullah kegagalan dalam menjalani tahap siklus kehidupan serta terkurasnya kekayaan ekologis kita.

Bila semakin dikendalikan (dikekang) oleh mesin, manusia akan semakin jauh dari bumi.

Untuk itu, sudah seharusnya kita yang hidup di tengah situasi yang tidak baik ini memperbaiki apa yang rusak. Yang kurang dari kita secara global adalah keberanian untuk bertindak: menahan diri dari konsumerisme, jejak karbon, dan memperkuat perdamaian.

Kita perlu mendesak perubahan struktural yang mengatur kebijakan tegas terhadap emisi, perlindungan lingkungan, dan eksploitasi lewat perang.

Krisis iklim pada akhirnya akan menjadi krisis hati. Kita tidak boleh (lagi) membiarkan iklim mengalami krisis. Kita tidak boleh gagal.

Bumi kita sedang menanti aksi bukan janji dan teori belaka seperti dinyatakan oleh Celesto Saulo, Sekretaris Jenderal WMO, ”Mari kita pastikan bahwa informasi tentang bumi tidak hanya dikumpulkan, tetapi juga dipahami, diakses, dan dapat ditindaklanjuti oleh semua orang”.

Marilah dengan penuh sadar kita resapkan dalam aksi tema Hari Meteorologi 2026 yakni ”Mengamati Hari Ini, Melindungi Hari Esok”.

Perlu kita ingat kembali bahwa kita dan bumi adalah masa depan. Data dan fakta yang tersaji menjadi landasan memulihkan iklim.

Sesungguhnya, tugas kita sudah jelas. Batasi besarnya dan durasi peningkatan suhu agar tidak melebihi target 1,5 0C.

Revolusi teknologi, kecanggihan AI, dan kedahsyatan komputasi menjadi sarana kita untuk mendukung adaptasi iklim, pengurangan risiko bencana, dan pembangunan berkelanjutan.

Mari kita mendorong inovasi yang bertanggung jawab. Mari tidak serakah! Mari melindungi iklim demi masa depan yang semakin membaik. Hari ini, kita tidak sekadar mengamati iklim, tetapi juga menentukan arah masa depan bumi.