Konten dari Pengguna

"Sukacita Kasih" dan Keluarga yang Membumikan Kasih dan Keadilan

Agustian Ganda Putra Sihombing

Agustian Ganda Putra Sihombing

Biarawan Ordo Kapusin Provinsi Medan (OKPM). Anggota Justice, Peace, and Integrity of Creation (JPIC) Kapusin Medan. Penulis Opini.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Agustian Ganda Putra Sihombing tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Paus Fransiskus berada di tengah keluarga yang bahagia. Gambar diciptakan dengan bantuan AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Paus Fransiskus berada di tengah keluarga yang bahagia. Gambar diciptakan dengan bantuan AI.

Sepuluh tahun telah berlalu setelah Paus Fransiskus (1936-2025) menerbitkan Seruan Apostolik Pascasinode Amoris Laetitia (Sukacita Kasih) pada 19 Maret 2016.

Amoris Laetitia (AL) terbit sebagai buah refleksi mendalam Paus Fransiskus atas Sinode Para Uskup tentang Keluarga pada 2014 dan 2015 (AL, artikel 4).

Melalui AL, Fransiskus ingin menegaskan kembali keindahan dan panggilan keluarga sebagai gereja domestik. Di dalamnya, cinta kasih Allah hadir meski keluarga tidak sempurna.

Identitas keluarga perlu diperkuat lagi di tengah krisis modern yang menyebabkan perceraian, perkawinan ulang, individualisme, budaya instan, dan tekanan ekonomi dan sosial.

Keluarga tidak boleh selalu dihakimi. Keluarga mesti dipahami, didampingi, dan disembuhkan.

Setiap orang didorong agar menjadi tanda kerahiman dan kedekatan ketika keluarga tidak terwujud secara sempurna atau tidak berjalan dalam damai dan sukacita (artikel 5).

Akan tetapi, mari tetap membuka cakrawala dan logika yang sehat, bahwa membentuk keluarga yang penuh kasih dan damai tidak mudah.

Tak terhitung analisis yang dilakukan terhadap perkawinan dan keluarga. Hasil analisis selalu menampilkan sejumlah tantangan dan permasalahan konkret (artikel 6).

Realita yang mengguncang keluarga

Fransiskus melihat bahwa keluarga yang hidup di zaman ini mengalami situasi yang amat kompleks. Perubahan antropologis-budaya seolah memaksa keluarga untuk berubah pula.

Sikap paling terasa menguat akibat perubahan tersebut adalah individualisme. Sikap ini mengarahkan banyak orang (dalam keluarga) untuk hidup menurut keinginan sendiri, tanpa perlu berelasi dengan yang lain.

Maka, muncullah sikap intoleran dan agresif. Intoleran membuat tiap anggota keluarga tidak mau memberikan ruang berekspresi bagi yang lain.

Bila kenyamanan diusik, seseorang akan bersikap agresif. Akibatnya, kebebasan autentik dan gagasan bahwa setiap orang bisa bertindak sewenang-wenang menjadi rancu.

Kemerosotan moral seperti ini sungguh berbahaya dan melemahkan keluarga. Suara hati akan semakin tumpul. Narsisme menonjol.

Cepat atau lambat, masing-masing anggota keluarga keluarga memperalat orang lain dan memanipulasi cara berpikir yang sehat (bdk. artikel 39).

Krisis-kiris tersebut akan menjadi ombak besar yang menghantam kasih dalam keluarga. Apabila kasih memudar, terjadilah kekerasan, perpisahan, perselingkuhan, dan pembunuhan.

Ilustrasi keluarga yang mengalami masalah dan tata kelola yang buruk. Keluarga menjadi berantakan. Gambar diciptakan dengan bantuan AI.

Penelitian yang dilakukan oleh World Health Organization pada Maret 2024 mengungkapkan kesejajaran pemikiran dengan yang diungkapkan oleh Fransiskus.

Dalam keluarga (rumah tangga), yang paling sering diperlakukan secara tidak bermoral (kekerasan fisik, seksual, dan pembatasan hak) adalah perempuan.

Selain itu, Jean Twenge - profesor psikologi di Universitas Negeri San Diego - memperkuat apa yang dimuat dalam AL lewat penelitian dari sisi psikologi.

Dalam Modern Reformation (1 September 2020), Jean Twenge generasi sekarang ingin hidup dengan perasaan nyaman (individualistis) dan fokus pada individu (narsisme).

Banyak orang (yang membentuk keluarga) akhirnya terjerumus dalam gaya hidup individualistis, sombong, materialistis, dan rasa percaya diri yang semu.

Orang tua yang membesarkan anak-anak dengan selalu memberikan mereka materi yang diinginkan dan pujian yang tidak realistis akan membuat anak-anak hanya mengejar nilai (value) yang rendah. Ini akan dibawa pula hingga berumah tangga.

Seruan Paus Leo XIV

Atas dasar Seruan Apostolik tersebut dan pelbagai penelitian ilmiah terhadap realita dalam keluarga di zaman, Paus Leo XIV mengajak umat Katolik dan warga dunia untuk mendalami dan membarui keluarga.

Bagi Paus Leo XIV, keluarga adalah landasan masyarakat, rahmat Allah, dan sekolah pertama moral-iman.

Keluarga-keluarga mesti hidup dalam kasih dan keadilan, pendidikan anak, dan penguatan karakter positif.

Di tengah arus ombak perubahan budaya, sosial, dan teknologi, tiap orang dalam keluarga mesti memperkuat iman dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Keluarga: tempat membumikan kasih dan keadilan

Paus Fransiskus dan Paus Leo XIV sama-sama menekankan bahwa keluarga adalah sekolah pertama bagi setiap orang.

Di keluarga, setiap orang dididik dalam kasih dan keadilan. Di sinilah masing-masing orang belajar untuk menyalurkan dan merawat kehidupan dari Allah (bdk. AL, artikel 321).

Seluruh kehidupan di dalam keluarga merupakan "tanah penggembalaan" yang mesti dijiwai oleh kasih dan keadilan.

Ilustrasi keluarga bahagia. Gambar diciptakan dengan bantuan AI.

Nasihat spiritual ini juga digemakan oleh Nel Noddings (1929-2022) melalui gagasannya tentang kepedulian dalam Caring: A Feminine Approach to Ethics and Moral Education (1984).

Moralitas tidak lahir dari hukum atau norma semata, tetapi dari hubungan konkret yang diisi perhatian dan kepedulian.

Bagi Ne Noddings, seseorang tak boleh dijadikan sebagai objek aturan, melainkan subjek yang diperhatikan, didengarkan, dan dirawat.

Keluarga adalah tanah penggembalaan dan tempat membumikan kasih dan keadilan.

Untuk itu, keluarga mesti menghadirkan kepekaan hati dan kepedulian untuk merubah diri dari kekacauan ideologi dan moralitas.

Kasih dan keadilan bisa buram ketika hati dan pikiran kacau. Maka, sejak sebelum membina keluarga atau rumah tangga, tiap pasangan mesti belajar banyak hal (persaudaraan, relasi interpersonal-intrapersonal, penerimaan diri-pasangan, dan berjalan-bekerja bersama).

Bagi keluarga dan pasangan yang hendak membentuk keluarga, jangan kehilangan harapan karena keterbatasan atau berhenti mencari kepenuhan kasih dan keadilan!