Konten dari Pengguna

Terinspirasi oleh Alam, untuk Iklim, dan Masa Depan Kita

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Agustian Ganda Putra Sihombing tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. "Inspired by nature. For Climate. For Our Future." Generated by AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. "Inspired by nature. For Climate. For Our Future." Generated by AI.

SETIAP tanggal 5 Juni, kita merayakan World Environment Day (Hari Lingkungan Hidup Sedunia).

Sejak ditetapkan oleh Majelis Umum PBB pada 1972 dan dirayakan pertama kali pada 1973 dengan slogan ”Hanya Satu Bumi” sampai saat ini (2026), perayaan ini sedikit banyaknya telah menyatukan banyak pihak untuk mencintai alam yang terancam oleh banyak krisis.

Dari tahun ke tahun, tema-tema yang  ditetapkan menunjukkan perkembangan kesadaran manusia terhadap persoalan lingkungan hidup.

Misalnya, PBB mengusung tema tentang permukiman manusia (1975 di Bangladesh), air (1976 di Kanada), lapisan ozon (1977 di Bangladesh), pembangunan tanpa penghancuran (1979 dan 1980 di Bangladesh), pemanasan global (1989 di Belgia), perubahan iklim (1991 di Swedia), kemiskinan dan lingkungan (1993 di China), bumi sebagai masa depan manusia (1999 di Jepang), dan seterusnya hingga kepedulian pada perubahan iklim dan pengaruh terhadap masa depan bumi (2026 di Azerbaijan).

Pada 2026, PBB melalui UNEP (United Nations Environtment Programme) mengusung tema ”Inspired by Nature. For Climate. For Our Future” (Terinspirasi oleh Alam. Untuk Iklim. Untuk Masa Depan Kita).

Tema ini bersumber pada situasi dunia yang mengalami krisis iklim yang luar biasa.

Akan tetapi, apakah tema tersebut telah dijangkau dan dihidupi banyak orang, sehingga bumi menjadi semakin baik?

Sungguhkah manusia telah mampu membaca tanda-tanda dari bumi atas situasi yang tidak baik, misalnya lewat perubahan iklim?

Sungguhkah manusia mampu belajar dari alam untuk masa depan yang lebih baik?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut, pada perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 ini, membawa kita masuk ke ruang refleksi yang lebih dalam.

Situasi terakhir iklim dunia

Iklim bumi sungguh berubah lebih cepat daripada waktu dalam sejarah manusia.

Keadaan ini memicu serangkaian tantangan dan kekhawatiran.

Pada Hari Meteorologi Sedunia (23 Maret 2026) yang telah lalu, World Meteorological Organization (WMO) merilis laporan Kondisi Iklim Global 2025.

Laporan ini berisi rincian lengkap tentang indikator perubahan iklim yang telah dimulai sejak 14 Januari 2026.

WMO menyampaikan bahwa dalam tenggat 2015-2025, suhu di atas permukaan bumi tercatat sebagai yang terpanas.

Suhu rata-rata global yang dicatat adalah 1,43-1,44 derajat Celcius (dengan margin ketidakpastian ± 0,13 derajat Celcius) di atas rata-rata rentang 1850-1900 dengan tahun 2025 sebagai tahun terpanas kedua atau ketiga dalam catatan 176 tahun.

Rata-rata suhu gabungan untuk 2023-2025 adalah 1,48 derajat Celcius (dengan margin ketidakpastian ± 0,13 derajat C). Kita telah merasakan betapa panasnya suhu itu saat ini.

Mengapa suhu di atas permukaan bumi semakin panas?

Dalam laman resminya, WMO menyatakan bahwa selain El Niño, emisi gas kaca semakin meningkat sejak pra-industri.

Dalam State of The Global Climate 2025, emisi karbon dioksida (CO2) adalah sebesar 423,9 ± 0,2 ppm atau 152% dari tingkat pra-industri.

Emisi metana (CH4) adalah 1942 ± 2 ppb atau 266% dari tingkat pra-industri. Dinitrogen oksida (N2O) adalah 338,0 ± 0,1 ppb atau 125% dari tingkat pra-industri.

Emisi gas rumah kaca yang tinggi memerangkap lebih banyak panas di bumi. Keseimbangan antara energi yang masuk dan keluar terganggu, sehingga menimbulkan ”the Earths energy imbalance”.

Lautan terus menghangat. Permukaan air laut terus naik. Gletser semakin mencair dengan kecepatan yang tak pernah terjadi.

Luas es laut di Arktik maupun Antartika terus mengalami penurunan.

Situasi iklim ini menjadi alarm. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, bahkan mengingatkan bahwa planet bumi sedang mengirim sinyal bahaya.

”Kondisi iklim global berada dalam keadaan darurat. Planet bumi sedang didorong melampaui batas kemampuannya. Setiap indikator iklim utama menunjukkan tanda berbahaya,” kata Guterres saat siaran pers dengan tema Iklim Bumi semakin Tidak Seimbang (23/03/2026).

Tanggung Jawab Bersama

Dampak atas krisis iklim sungguh luas. Krisis iklim menyentuh lingkungan, kemiskinan, ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, migrasi, stabilitas ekonomi, bahkan keamanan global.

Misalnya, kekeringan yang disebabkan krisis iklim membuat petani mengalami gagal panen, menyebabkan nelayan kehilangan hasil tangkapan, membuat ribuan keluarga kehilangan rumah akibat banjir dan badai, dan sebagainya.

Melihat situasi yang saling terkoneksi, pada Mei 2026, Majelis Umum PBB mendukung resolusi penting yang menyatakan bahwa negara-negara memiliki kewajiban untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang mempercepat krisis iklim.

Meski tidak mengikat, resolusi ini mengandung tujuan yang sangat besar.

Dunia memiliki tanggung jawab bersama untuk mengatasi krisis iklim, bukan sebagai pilihan politik dan agenda pembangunan, melainkan tanggung jawab moral dan hukum terhadap generasi sekarang maupun mendatang.

Sebab, krisis iklim mengarah pada persoalan keadilan. Orang-orang miskin dan kecil sering sekali menjadi pihak yang paling menderita.

Belajar dari Alam untuk Masa Depan

Kembali lagi pada tema Perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. Kita diminta untuk belajar lagi dari alam. Apa sebenarnya yang perlu dipelajari?

Pertama, alam mengajarkan kita untuk hidup dalam keseimbangan. Setiap unsur di bumi saling terhubung.

Kerusakan pada satu elemen sudah pasti memengaruhi elemen lainnya, termasuk kehidupan manusia.

Kedua, alam mengajarkan bahwa pemulihan di bumi selalu mungkin terjadi ketika ada ruang bagi proses regenerasi.

Maka, solusi perbaikan iklim bumi dan penataan lingkungan hidup untuk masa depan tidak dapat dibebankan pada satu kelompok saja.

Setiap elemen memiliki cakupan peran yang saling terkait. Misalnya, pemerintah pusat perlu memperkuat target iklim, mempercepat transisi menuju energi terbarukan, melindungi ekosistem penting, dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Pemerintah daerah perlu memperluas ruang hijau, memperkuat transportasi publik, dan membangun kota yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim.

Pelaku usaha dan bisnis mesti berinvestasi dalam efisiensi energi, inovasi rendah karbon, dan model ekonomi sirkular yang mengurangi limbah.

Perguruan tinggi dan lembaga peneliti perlu terus-menerus menghasilkan ilmu pengetahuan dan inovasi yang mendukung adaptasi serta mitigasi iklim.

Masyarakat sipil harus mengawal akuntabilitas, memperkuat pendidikan lingkungan, dan memastikan bahwa suara kelompok rentan tidak diabaikan.

Setiap individu memiliki peran yang tidak kalah penting dengan menghemat energi, mengurangi konsumsi berlebihan, memilih transportasi yang ramah lingkungan, menjaga ruang hijau, mengurangi produksi sampah, dan menggunakan suara untuk mendukung kebijakan yang berkelanjutan.

Oleh sebab itu, krisis iklim tidak hanya berada pada frame krisis lingkungan, melainkan krisis cara pandang kita terhadap lingkungan hidup.

Selama kita masih memandang bumi semata-mata sebagai objek eksploitasi, selama itu pula kita merusaknya.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 mengingatkan kita bahwa alam bukan sekadar korban perubahan iklim.

Alam mau menyampaikan bahwa ia adalah guru yang mengajarkan bagaimana kehidupan dapat bertahan, beradaptasi, dan dipulihkan.

Bumi ini tidak sedang berdebat dan bernegosiasi. Bumi sedang mengirimkan sinyal-sinyal.

Masih ada waktu bagi kita untuk memperbaiki arah.

Masih ada kesempatan bagi kita untuk bergerak lebih jauh dan mengarahkan bumi menjadi lebih baik. Bumi punya masa depannya sendiri.