Wajah Kasih yang Otentik dalam Keluarga Modern di Tengah Distorsi AI

Biarawan Ordo Kapusin Provinsi Medan (OKPM). Anggota Justice, Peace, and Integrity of Creation (JPIC) Kapusin Medan. Penulis Opini.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Agustian Ganda Putra Sihombing tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Satu dekade telah berlalu setelah Paus Fransiskus (1936-2025) menerbitkan Seruan Apostolik Pascasinode Amoris Laetitia (Sukacita Kasih) pada 19 Maret 2016.
Amoris Laetitia (AL) terbit sebagai buah refleksi mendalam Paus Fransiskus atas Sinode Para Uskup tentang Keluarga pada 2014 dan 2015 (AL, art. 4).
Melalui AL, Fransiskus ingin menegaskan keindahan panggilan keluarga sebagai gereja domestik. Di dalamnya, cinta kasih Allah hadir meskipun keluarga tidak sempurna.
Identitas keluarga perlu diperkuat di tengah krisis modern yang menyebabkan perceraian, perkawinan ulang, individualisme, budaya instan, dan tekanan ekonomi dan sosial.
Keluarga tidak boleh selalu dihakimi. Keluarga mesti dipahami, didampingi, dan disembuhkan. Setiap orang didorong agar menjadi tanda kerahiman dan kedekatan, ketika keluarga tidak terwujud secara sempurna atau tidak berjalan dalam damai dan suka cita (art. 5).
Maka, mari membuka logika yang sehat, bahwa tidak mudah untuk membina wajah kasih yang otentik dalam keluarga modern apalagi di tengah distorsi revolusi digital, terutama artificial intelligence (AI).
Distorsi AI dan krisis relasi
Perkembangan AI saat ini sudah memasuki wilayah paling pribadi, yakni hubungan emosional. Kehadiran chatbot, pendamping virtual, dan sistem komunikasi berbasis AI perlahan mengubah cara manusia membangun kedekatan.
AI dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan emosional seseorang. Di titik ini, teknologi mampu menciptakan ilusi hubungan yang terasa hangat dan aman.
Inilah yang menjadi kegelisahan besar di zaman modern ini. Dr. A. Shaji George dalam artikelnya ”The Dual Partnership Future How Artificial Intelligence is Redefining Intimacy, Companionship, and the Institution of Marriage in the Digital Age” (2025), menuliskan bahwa manusia modern mulai terbiasa dengan hubungan tanpa risiko, konflik, dan pengorbanan.
AI menawarkan kedekatan (semu) yang selalu tersedia, responsif, dan seolah-olah memahami. Banyak orang yang lelah dengan keluarga yang rumit, akhirnya mencari kenyamanan dalam ruang virtual yang serba terkendali. Hal ini menyebabkan pelarian ke digitalisasi daripada komunikasi manusiawi.
Paus Leo XIV dalam Pesan Hari Komsos Sedunia ke-60 mengingatkan bahwa wajah dan suara manusia adalah esensi yang suci. Keduanya merupakan tanda kehadiran pribadi yang tidak tergantikan, bahkan oleh rekaman teknologi, sebab wajah dan suara manusia diciptakan menurut wajah dan suara Allah (bdk. Kejadian 1:26).
Ketika teknologi mulai meniru (memalsukan) wajah, suara, empati, bahkan perhatian manusia, terjadilah ancaman terhadap martabat manusia itu sendiri.
AI memang dapat menaruh perhatian, namun tidak sungguh-sungguh memberikan cinta manusiawi-ilahi. Ia hanya memberi empati imitasi, tetapi tidak dapat merasakan penderitaan manusia.
AI tidak dapat memberikan kearifan moral dan membentuk hubungan yang tulus. Relasi virtual yang dibangun melalui AI pada akhirnya berisiko membentuk karakter manusia yang hanya ingin dipahami, tetapi tidak memahami orang lain.
Padahal dalam keluarga, kasih semakin tumbuh melalui ketidaksempurnaan, perbedaan karakter, konflik, dan pengampunan.
Lebih berbahaya lagi, budaya digital juga mendorong manusia untuk tidak peduli dengan keluarga sendiri. Umar Farisal menampilkan dalam penelitiannya ”The Impact of AI on Family Communication: A Narrative Review on Children’s Respect for Parents in Developing Southeast Asia” (Januari 2025), bahwa algoritma media sosial membentuk gelembung emosi secara instan, memperkuat kemarahan, dan mereduksi kemampuan mendengarkan.
Akibatnya, komunikasi dalam keluarga semakin dangkal. Orang tua sibuk dengan gawainya, anak-anak hidup di dunia digital mereka sendiri, sementara percakapan dari hati ke hati semakin langka.
Rumah diisi oleh anggota keluarga yang tidak peka dan peduli dengan keadaan masing-masing. Meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan yang lain dianggap sebagai pemborosan waktu pribadi, karena sudah kecanduan dengan hiburan digital.
Wajah kasih yang otentik
Di tengah situasi seperti ini, keluarga dipanggil untuk menghadirkan kembali wajah kasih sayang yang otentik. Kasih yang otentik hadir dalam bentuk kesediaan untuk mendengar, menemani, berkomunikasi, menegur dengan lembut, dan tetap bertahan ketika hubungan mengalami luka.
Keluarga harus menjadi tempat di mana setiap orang merasa diterima sebagai pribadi, bukan sebagai data atau objek konsumsi emosional.
Oleh karena itu, keluarga perlu kembali membangun budaya perjumpaan. Makan bersama tanpa gangguan gawai, doa keluarga yang intens, percakapan yang terus terang, dan perhatian sederhana menjadi sangat penting.
Anak-anak membutuhkan kepedulian dari orang tua, bukan sekadar respons digital (chat atau video call). Suami dan istri membutuhkan dialog yang hidup, bukan komunikasi singkat yang diperoleh dari komunikasi online. Kehangatan kemanusiaan seperti inilah yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh AI.
Paus Leo XIV juga mengingatkan bahwa manusia tidak boleh menyamarkan wajah dan membungkam suara otentiknya di hadapan mesin. Keluarga harus menjadi tempat pertama yang menjaga wajah dan suara manusia itu.
Di dalam keluarga, setiap anggota dipanggil untuk berbicara dengan kasih sayang, mendengarkan dengan hormat, dan belajar menerima perbedaan. Sebab, tanpa penerimaan terhadap perbedaan, tidak mungkin ada hubungan yang benar.
Kasih yang otentik selalu menuntut pengorbanan. AI mungkin menawarkan ilusi hubungan yang membuat manja-nyaman dan serba sesuai keinginan, tetapi tidak pernah bisa menggantikan persona manusia dengan kelebihan atau kekurangannya.
Hanya di dalam relasi yang otentik, pengorbanan akan bertumbuh dan berkembang. Kasih otentik membuat tiap persona berani memuji kelebihan anggota keluarga dan sekaligus memperbaiki kekurangan satu sama lain.
Akhirnya, keluarga modern dipanggil menjadi ’benteng terakhir’ yang mampu menjaga kemanusiaan di dunia yang semakin artifisial. Ketika dunia mulai sulit membedakan kenyataan dan ilusi, keluarga harus tetap menjadi ruang yang menghadirkan cinta nyata.
Perayaan 10 tahun AL oleh Paus Fransiskus dan pesan Paus Leo pada Hari Komsos Sedunia ke-60 pada 2026 menjadi motivasi bagi keluarga modern.
Dari Paus Fransiskus, keluarga belajar bahwa ”orang-orang yang kita cintai layak mendapatkan perhatian kita sepenuhnya. Yesus merupakan teladan kita [….]” (AL, 323).
Dari Paus Leo XIV, keluarga belajar bahwa ”transformasi penting ini membutuhkan tanggung jawab dan kebijaksanaan untuk memastikan bahwa AI dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kebaikan bersama [….] AI melayani kepentingan umat manusia secara keseluruhan” (ncronline.org, 11 Juli 2025). Pax et Bonum!
