Konten dari Pengguna

Bercanda Berubah Jadi Tragedi: Bahaya Perundungan bagi Penderita Alergi Parah

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tiara Khoirunnafiss tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Edukasi anti-perundungan berbasis kondisi kesehatan sebelum terlambat. Foto oleh MART  PRODUCTION dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-perempuan-kaum-wanita-laba-laba-8459022/
zoom-in-whitePerbesar
Edukasi anti-perundungan berbasis kondisi kesehatan sebelum terlambat. Foto oleh MART PRODUCTION dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-perempuan-kaum-wanita-laba-laba-8459022/

Seorang remaja pernah bercerita bagaimana ia dipaksa teman-temannya untuk tidak menghindar saat serombongan lebah mendekat di sebuah acara kemah sekolah. "Gitu doang takut, lebay banget," ejek mereka, sambil menahannya agar tidak menjauh. Ia tahu risikonya, tapi rasa malu lebih besar dari rasa takutnya. Dalam hitungan menit setelah tersengat, wajahnya membengkak, napasnya memburu, dan ia harus dilarikan ke unit gawat darurat. Kisah semacam ini bukan fiksi belaka — ini adalah wajah nyata dari perundungan yang menyasar kondisi kesehatan seseorang, dan taruhannya bisa jadi nyawa.

Ketika Alergi Dianggap Lelucon

Bagi banyak orang, alergi terhadap sengatan serangga atau gigitan hewan kecil masih dipandang sebagai kerewelan, bukan kondisi medis serius. Komentar seperti "gitu doang kok takut", "cuma digigit semut aja lebay", atau candaan yang sengaja mendekatkan seseorang pada pemicu alergi mereka, sering dianggap keisengan biasa. Padahal bagi penderita alergi berat, satu sengatan atau gigitan kecil bisa memicu reaksi anafilaksis — kondisi di mana saluran napas menyempit, tekanan darah anjlok, dan tubuh bisa mengalami syok dalam hitungan menit jika tidak segera ditangani.

Yang membuat situasi ini lebih rumit, tekanan sosial kerap mengalahkan akal sehat. Demi diterima kelompok atau menghindari ejekan sebagai "penakut", sebagian orang—terutama remaja—memilih diam soal kondisinya, bahkan menahan diri untuk tidak menjauh dari sumber bahaya yang seharusnya mereka hindari.

Wajah-Wajah Perundungan Berbasis Kesehatan

Perundungan jenis ini sering tidak disadari sebagai kekerasan karena kemasannya terlihat "ringan":

  • Menjadikan alat medis sebagai bahan ejekan. Epinephrine auto-injector atau obat darurat yang selalu dibawa penderita alergi kadang dianggap sebagai barang aneh yang layak ditertawakan, padahal itu adalah penyelamat nyawa dalam keadaan darurat.

  • Tantangan berbahaya berkedok candaan. Sengaja mendekatkan seseorang pada serangga, hewan, atau benda pemicu alergi lain, lalu merekam reaksi ketakutannya untuk konten media sosial, adalah bentuk kekejaman yang menyamar sebagai keisengan.

  • Meragukan keluhan yang disampaikan. Frasa "ah paling cuma cari perhatian" membuat korban enggan bersuara saat benar-benar membutuhkan pertolongan.

  • Pengucilan dari aktivitas kelompok. Karena dianggap merepotkan, penderita alergi kadang sengaja tidak diajak kegiatan luar ruangan atau dibiarkan tanpa perlindungan yang seharusnya ia butuhkan.

Batasan yang Wajib Dijaga dalam Berinteraksi

Membangun interaksi yang aman bagi semua orang, termasuk mereka dengan kondisi kesehatan sensitif, dimulai dari beberapa prinsip dasar:

Percaya pada apa yang disampaikan seseorang tentang kondisinya, tanpa perlu dibuktikan atau diuji. Tidak menjadikan pantangan atau ketakutan kesehatan seseorang sebagai bahan tantangan, taruhan, atau konten hiburan. Menghormati kebutuhan penyesuaian—seperti menjauhkan seseorang dari pemicu alergi saat kegiatan bersama—sebagai bentuk kepedulian dasar, bukan kerepotan. Menjaga privasi kondisi medis seseorang dan tidak menjadikannya bahan pembicaraan tanpa izin.

Batasan-batasan ini terdengar sederhana, tapi pelanggarannya bisa berakibat fatal bagi orang yang menjadi sasarannya.

Taruhan yang Terlalu Mahal untuk Diabaikan

Dampak dari perundungan berbasis kesehatan jauh melampaui rasa tersinggung sesaat:

Secara medis, korban berisiko mengalami reaksi alergi berat hingga kematian akibat dipaksa menghadapi pemicu alerginya demi diterima lingkungan. Secara psikologis, muncul trauma, kecemasan sosial, dan keengganan untuk terbuka soal kondisi kesehatan—bahkan kepada guru atau tenaga medis yang seharusnya bisa membantu. Secara sosial, korban cenderung menarik diri dari pergaulan demi menghindari situasi berisiko, yang pada akhirnya memengaruhi kualitas hidup mereka secara keseluruhan.

Edukasi sebagai Garis Pertahanan Pertama

Mencegah tragedi ini membutuhkan langkah nyata, bukan sekadar imbauan:

Sekolah perlu mengajarkan siswa mengenali tanda-tanda reaksi alergi dan cara bersikap suportif terhadap teman yang memiliki kondisi tersebut. Guru dan pendamping kegiatan luar ruangan harus dilatih untuk menindak tegas segala bentuk tantangan berbahaya atau ejekan terkait kondisi kesehatan siswa. Orang tua perlu membuka ruang diskusi agar anak merasa aman menceritakan tekanan sosial yang mereka alami, alih-alih memendamnya sendiri. Media sosial, sebagai ruang yang kerap melahirkan tren "prank" berbahaya, membutuhkan kampanye kesadaran yang lebih masif soal risiko nyata di baliknya.

Penutup

Ada garis tipis antara bercanda dan mempertaruhkan nyawa orang lain, dan garis itu paling sering dilanggar tanpa disadari. Menghormati kondisi kesehatan seseorang bukan soal berlebihan atau kurang seru dalam pergaulan—itu soal kemanusiaan paling dasar. Edukasi anti-perundungan berbasis kondisi kesehatan bukan lagi wacana yang bisa ditunda, melainkan kebutuhan mendesak yang bisa menyelamatkan nyawa, dimulai dari hal sesederhana memilih untuk percaya dan menghormati, bukan menguji dan meremehkan.