Konten dari Pengguna

Kenapa Pendidikan Lingkungan Sering Berhenti di Tempat Sampah?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tiara Khoirunnafiss tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan Lingkungan Sering Berhenti di Tempat Sampah? Foto oleh Mario Spencer dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/petugas-pembersih-jalan-di-hari-hujan-di-alajuela-kosta-rika-29446319/
zoom-in-whitePerbesar
Pendidikan Lingkungan Sering Berhenti di Tempat Sampah? Foto oleh Mario Spencer dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/petugas-pembersih-jalan-di-hari-hujan-di-alajuela-kosta-rika-29446319/

Di sekolah, kita mungkin sudah sangat familiar dengan tulisan “Buanglah Sampah pada Tempatnya”. Kalimat itu bisa ditemukan di depan kelas, dekat kantin, bahkan di dinding toilet. Tempat sampah juga biasanya tersedia dalam berbagai warna dengan tulisan organik dan anorganik.

Namun, pertanyaannya sederhana: apakah keberadaan semua itu otomatis membuat seseorang peduli terhadap lingkungan?

Belum tentu.

Pendidikan tentang lingkungan sering kali dianggap selesai ketika siswa sudah mengetahui bahwa membuang sampah sembarangan itu tidak baik. Padahal, mengetahui dan melakukan adalah dua hal yang berbeda. Seseorang bisa saja hafal dampak sampah terhadap lingkungan, tetapi masih meninggalkan gelas plastik di meja setelah selesai makan.

Di sinilah pendidikan lingkungan sebenarnya memiliki tantangan yang lebih besar.

Bukan Sekadar Mengajarkan Mana Sampah yang Benar

Lingkungan seharusnya tidak hanya menjadi materi yang dibahas ketika ada pelajaran tertentu atau kegiatan kerja bakti. Lingkungan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari yang dapat menjadi ruang belajar.

Misalnya, ketika kantin menghasilkan banyak sampah plastik, siswa tidak hanya perlu diminta untuk membuang sampah pada tempatnya. Mereka juga dapat diajak melihat dari mana sampah tersebut berasal, mengapa penggunaannya terus bertambah, dan apa yang terjadi setelah sampah meninggalkan tempat sampah.

Cara seperti ini membuat siswa tidak sekadar menerima aturan, tetapi memahami alasan di balik sebuah kebiasaan.

UNESCO juga menekankan bahwa pendidikan untuk keberlanjutan perlu menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan nyata. Artinya, isu lingkungan tidak harus selalu disampaikan melalui teori, tetapi dapat diterjemahkan menjadi pengalaman dan tindakan sehari-hari.

Sekolah Sebenarnya Bisa Menjadi Laboratorium Lingkungan

Sekolah memiliki ruang yang cukup luas untuk mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan secara langsung.

Halaman sekolah dapat menjadi tempat belajar mengenai tanaman. Kantin dapat menjadi contoh untuk memahami sampah dan konsumsi. Penggunaan listrik di kelas dapat menjadi bahan diskusi mengenai penghematan energi. Bahkan kondisi toilet sekolah dapat mengajarkan bahwa kebersihan fasilitas umum merupakan tanggung jawab bersama.

Dengan begitu, pendidikan lingkungan tidak terasa seperti nasihat yang harus dihafalkan.

Beberapa sekolah di Indonesia juga mulai menghubungkan kegiatan belajar dengan konservasi dan keberlanjutan. Di Wakatobi, misalnya, UNESCO menjalankan program yang menghubungkan pembelajaran siswa dengan konservasi laut agar isu lingkungan lebih dekat dengan kondisi nyata di sekitar mereka.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa lingkungan dapat menjadi bagian dari proses pendidikan, bukan sekadar latar belakang tempat siswa belajar.

Kebiasaan Kecil Justru Menentukan

Pendidikan lingkungan tidak selalu membutuhkan program besar.

Menghabiskan makanan secukupnya, membawa botol minum sendiri, menggunakan kertas seperlunya, mematikan lampu ketika ruangan tidak digunakan, serta tidak membiarkan sampah berserakan merupakan tindakan sederhana.

Masalahnya, kebiasaan sederhana sering dianggap terlalu kecil untuk memberikan dampak.

Padahal, pendidikan pada dasarnya memang dibangun melalui kebiasaan yang dilakukan berulang. Jika seorang siswa terbiasa menjaga lingkungan di sekolah, kebiasaan tersebut berpotensi terbawa ke rumah, kampus, tempat kerja, dan ruang publik.

Karena itu, ukuran keberhasilan pendidikan lingkungan seharusnya tidak hanya dilihat dari seberapa banyak siswa yang bisa menjawab soal tentang pencemaran atau sampah. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah pengetahuan tersebut terlihat dalam perilaku mereka.

Jangan Hanya Membuat Sekolah Terlihat Hijau

Sekolah yang memiliki banyak tanaman, tempat sampah berwarna-warni, atau poster bertema lingkungan memang terlihat menarik. Namun, lingkungan sekolah yang baik bukan hanya persoalan tampilan.

Yang lebih penting adalah apakah seluruh warga sekolah memiliki kebiasaan untuk merawatnya.

Kemendikdasmen sendiri menempatkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari pembentukan karakter siswa. Dalam program MPLS Ramah 2025, pengenalan dan perawatan lingkungan sekolah juga menjadi bagian dari pengalaman awal peserta didik.

Artinya, kepedulian terhadap lingkungan dapat dibangun melalui budaya sekolah yang dilakukan secara terus-menerus, bukan hanya melalui kegiatan tertentu.

Pada akhirnya, pendidikan lingkungan bukan tentang membuat siswa takut melihat sampah. Pendidikan lingkungan adalah tentang membuat seseorang memahami bahwa setiap kebiasaan memiliki konsekuensi.

Tempat sampah hanyalah salah satu fasilitasnya. Pelajaran sebenarnya dimulai ketika seseorang bertanya, “Setelah sampah ini saya buang, apa yang terjadi?”

Jika pertanyaan tersebut mulai muncul dalam kehidupan sehari-hari, mungkin saat itulah pendidikan lingkungan benar-benar berjalan.