Konten dari Pengguna

Manusia Penyuka Warna Terang, dengan Hati Tak Pernah Tenang

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tiara Khoirunnafiss tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada sebagian orang yang selalu memilih warna-warna cerah dalam hidupnya. https://pixabay.com/illustrations/diversity-people-heads-humans-5582454/
zoom-in-whitePerbesar
Ada sebagian orang yang selalu memilih warna-warna cerah dalam hidupnya. https://pixabay.com/illustrations/diversity-people-heads-humans-5582454/

Ada orang-orang yang selalu memilih warna-warna cerah dalam hidupnya. Kuning yang menyala, jingga yang hangat, atau merah muda yang riang. Bajunya cerah, kamarnya penuh warna, bahkan caranya tertawa pun terdengar begitu terang, seolah ingin memastikan semua orang di sekitarnya ikut merasa hangat oleh kehadirannya. Tapi ada yang jarang diketahui orang lain: semakin terang warna yang dipilihnya di luar, kadang semakin gelap dan gaduh yang tersembunyi di dalam. Hati yang tidak pernah benar-benar tenang, meski wajahnya selalu terlihat paling ceria di antara yang lain.

Warna Sebagai Perisai

Ada yang memilih warna terang bukan karena hidupnya selalu cerah, melainkan karena warna itu memberi semacam perisai — cara halus untuk menutupi apa yang sebenarnya berkecamuk di dalam. Semakin terang yang ditampilkan ke luar, semakin sedikit orang yang bertanya, semakin sedikit pula yang menyadari ada badai kecil yang terus berputar di dalam dada.

Warna cerah menjadi semacam bahasa yang lebih mudah dipahami orang lain dibanding kejujuran tentang apa yang sebenarnya dirasakan. Lebih mudah tersenyum dengan baju kuning menyala, daripada menjelaskan kenapa hati terasa selalu gelisah tanpa alasan yang jelas.

Ketika Riang di Luar Tak Selalu Sejalan dengan Dalam

Hati yang tak pernah tenang punya caranya sendiri untuk bertahan. Kadang ia disibukkan dengan hal-hal kecil supaya tidak sempat memikirkan yang lebih berat. Kadang ia memilih keramaian, bukan karena benar-benar menikmatinya, tapi karena diam terlalu lama hanya akan membuat kegelisahan itu terasa lebih keras terdengar.

Orang-orang seperti ini sering terlihat begitu hidup, begitu penuh energi, sampai jarang ada yang menyangka bahwa di balik semua warna cerah itu, ada bagian dari dirinya yang terus mencari-cari ketenangan yang belum juga ditemukan.

Gelisah Bukan Berarti Tidak Bahagia

Penting untuk dipahami, hati yang tidak tenang tidak selalu berarti hidup yang tidak bahagia. Ada kalanya seseorang benar-benar menikmati warna-warna cerah yang dipilihnya, benar-benar tertawa dengan tulus, namun tetap membawa semacam kegelisahan kecil yang entah kenapa tidak pernah benar-benar reda, seperti nyala lilin kecil yang terus berkedip meski ruangan sudah cukup terang.

Dua hal itu, kebahagiaan dan kegelisahan, ternyata bisa hidup berdampingan dalam satu hati yang sama, tanpa harus saling meniadakan.

Belajar Berdamai dengan Warna dan Gelisah yang Sama-Sama Nyata

Barangkali yang dibutuhkan bukan memilih salah satu — menjadi selalu tenang atau berhenti menyukai warna terang — melainkan belajar menerima bahwa keduanya boleh saja berjalan bersamaan. Menyukai warna cerah tidak harus menjadi topeng, dan hati yang gelisah tidak harus disembunyikan sepenuhnya di baliknya.

Ada keberanian tersendiri dalam mengakui bahwa di balik semua yang terang, tetap ada ruang gelap yang wajar dimiliki setiap orang, tanpa perlu terus-menerus ditutupi demi terlihat baik-baik saja di mata orang lain.

Penutup

Manusia penyuka warna terang dengan hati yang tak pernah tenang barangkali adalah gambaran paling jujur tentang bagaimana manusia sebenarnya bekerja — rumit, penuh kontradiksi, namun tetap berusaha mencari cahaya meski dari dalam dirinya sendiri sedang tidak baik-baik saja. Dan mungkin, justru dari sanalah lahir keindahan yang paling nyata: seseorang yang tetap memilih terang, meski hatinya sendiri masih terus mencari jalan pulang menuju tenang.

Tiara Khoirunnafiss, Mahasiswi S1 Sistem Informasi Universitas Pamulang