Menolak Lupa Moralitas: Urgensi Pendidikan Karakter di Era Gen Z

Saya mahasiswa Sistem Informasi Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Tiara Khoirunnafiss tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada yang aneh dari generasi yang tumbuh dengan akses informasi paling luas sepanjang sejarah manusia, tapi justru sering dituding paling rapuh secara moral. Gen Z dibesarkan oleh algoritma, bukan lagi sepenuhnya oleh orang tua atau guru. Dari situ, muncul pertanyaan yang tidak bisa terus ditunda: siapa sebenarnya yang mengajarkan mereka soal benar dan salah hari ini?
Fenomena ini bukan tuduhan generasi ini "rusak." Justru sebaliknya, ini alarm bahwa sistem pendidikan kita belum sepenuhnya siap menghadapi cara hidup yang benar-benar baru.
Ketika Nilai Bersaing dengan Notifikasi
Dulu, anak belajar moral dari cerita orang tua, teguran guru, atau pengalaman langsung di lingkungan sekitar. Sekarang, mereka belajar "nilai" dari konten yang muncul di linimasa, yang tidak selalu benar, dan sering kali dirancang untuk viral, bukan untuk mendidik.
Ironisnya, banyak nilai yang dulunya dianggap dasar, seperti empati, kesabaran, atau menghargai proses, kini terasa "kalah cepat" dibanding budaya serba instan yang dibentuk media sosial. Validasi berupa likes dan views perlahan menggeser validasi dari nilai moral yang sesungguhnya.
Krisis yang Sering Diabaikan
Kita cenderung sibuk membicarakan skor PISA, ranking sekolah, atau prestasi akademik, tapi lupa bertanya: seberapa jujur, seberapa peduli, dan seberapa bertanggung jawab generasi ini terhadap sesama? Padahal, gejalanya sudah ada di depan mata, mulai dari maraknya ujaran kebencian di kolom komentar, rendahnya empati terhadap isu sosial di luar circle sendiri, sampai fenomena "cancel culture" yang kadang lebih soal ramai-ramai menghakimi daripada benar-benar mendidik.
Ini bukan salah generasi Z semata. Ini gejala bahwa pendidikan karakter belum benar-benar dianggap mendesak, kalah prioritas dibanding target kurikulum dan nilai ujian.
Pendidikan Karakter Bukan Lagi Pilihan, Tapi Kebutuhan Mendesak
Di era di mana anak muda menghabiskan waktu berjam-jam di dunia digital, pendidikan karakter tidak bisa lagi berjalan dengan cara-cara lama yang sekadar normatif dan satu arah. Generasi ini butuh pendekatan yang relevan dengan cara mereka berpikir dan mengkonsumsi informasi, misalnya lewat diskusi terbuka soal dilema moral di dunia nyata, bukan hanya teori di buku paket.
Sekolah dan pendidik perlu berani masuk ke ruang yang selama ini dianggap "bukan wilayah mereka," seperti literasi media sosial, etika berdiskusi online, dan cara berpikir kritis terhadap informasi yang viral. Karena kalau bukan pendidikan yang mengisi ruang itu, algoritma yang akan mengambil alih sepenuhnya.
Jangan Sampai Terlambat
Menolak lupa moralitas berarti menolak menyerahkan pembentukan karakter generasi muda sepenuhnya kepada layar gawai. Ini soal keberanian untuk kembali menaruh pendidikan karakter sebagai prioritas, bukan pelengkap kurikulum yang dikorbankan ketika waktu belajar dianggap kurang.
Generasi Z bukan generasi yang harus disalahkan, tapi generasi yang harus diberi ruang dan bimbingan yang tepat, sebelum krisis moral ini benar-benar menjadi warisan permanen.
