Ruang Diskusi yang Sunyi: Mengapa Mahasiswa Memilih Diam Meski Tahu Jawabannya

Saya mahasiswa Sistem Informasi Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Tiara Khoirunnafiss tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dosen baru saja melempar pertanyaan ke seisi kelas: "Ada yang mau menanggapi?" Detik berikutnya, ruangan hening total. Puluhan mahasiswa menunduk, sibuk pura-pura mencatat, menghindari kontak mata. Padahal beberapa dari mereka sebenarnya tahu jawabannya, bahkan sudah menyiapkan argumen di kepala. Tapi tidak ada satu pun yang mengangkat tangan, sampai akhirnya dosen menunjuk satu nama secara acak, dan barulah suasana kelas kembali "hidup" — dengan jawaban terbata-bata dari orang yang sebenarnya tidak berniat bicara sama sekali.
Kelas seperti ini terjadi di hampir setiap kampus, di hampir setiap mata kuliah. Dan anehnya, semua orang di dalamnya tahu ini pola yang berulang, tapi tidak ada yang benar-benar berusaha mengubahnya.
Takut salah lebih besar dari rasa ingin tahu
Ada satu ketakutan yang diam-diam dibawa hampir setiap mahasiswa ke ruang kelas: takut terlihat bodoh di depan teman-temannya. Ironisnya, ketakutan ini sering kali lebih besar dibanding rasa ingin tahu yang sebenarnya mendorong seseorang kuliah di bidang tersebut. Bertanya dianggap berisiko dicap "nggak paham hal dasar", sementara menjawab salah dianggap berisiko dipandang "sok tahu tapi ternyata keliru".
Akibatnya, banyak mahasiswa memilih jalan paling aman: diam, meski di dalam kepala sebenarnya ada banyak hal yang ingin disampaikan. Diskusi yang seharusnya jadi ruang bertukar pikiran berubah jadi monolog dosen yang sesekali diselingi jawaban singkat dari segelintir orang yang sama setiap pertemuan.
Budaya kelas yang diam-diam menghukum keberanian
Sialnya, ketakutan ini sering kali punya dasar yang nyata. Mahasiswa yang berani bertanya atau berpendapat kadang justru mendapat respons yang tidak suportif — baik dari dosen yang menjawab dengan nada meremehkan, maupun dari teman sekelas yang berbisik atau tersenyum sinis begitu ada yang "berani tampil". Pengalaman semacam ini, sekali saja terjadi, cukup untuk membuat seseorang kapok bersuara untuk waktu yang lama.
Dari sinilah lahir budaya kelas yang secara tidak sengaja menghukum keberanian alih-alih menghargainya. Semakin sering ini terjadi, semakin banyak mahasiswa yang belajar bahwa diam adalah pilihan paling rasional, meski itu berarti mengorbankan proses belajar yang sebenarnya membutuhkan dialog aktif.
Ketika penilaian keaktifan justru memperparah keadaan
Banyak dosen mencoba mengatasi masalah ini dengan memberi nilai tambahan untuk keaktifan di kelas. Niatnya baik, tapi implementasinya sering kali meleset. Alih-alih mendorong partisipasi yang tulus, sistem ini kadang hanya melahirkan partisipasi performatif — mahasiswa bicara bukan karena benar-benar ingin berkontribusi pada diskusi, melainkan sekadar mengejar poin tambahan, tanpa substansi yang benar-benar dipikirkan matang.
Di sisi lain, mahasiswa yang secara alami lebih pendiam atau butuh waktu lebih untuk merumuskan pikiran sebelum bicara, justru dirugikan oleh sistem penilaian yang lebih menghargai kecepatan merespons dibanding kedalaman pemikiran.
Membangun ruang yang aman untuk salah
Mengubah budaya kelas yang sunyi ini butuh usaha dari dua arah. Dosen perlu secara sadar menciptakan ruang yang benar-benar aman untuk salah — merespons jawaban yang keliru dengan cara yang membangun, bukan mempermalukan, serta memberi jeda waktu berpikir sebelum meminta tanggapan agar tidak semua orang merasa harus menjawab instan.
Di sisi lain, mahasiswa juga perlu pelan-pelan melatih diri bahwa bertanya atau menjawab salah bukan aib yang harus dihindari mati-matian, melainkan bagian wajar dari proses belajar itu sendiri. Justru dari pertanyaan yang terlihat "sederhana" atau jawaban yang ternyata keliru, muncul ruang diskusi yang lebih jujur dan mendalam, dibanding kelas yang tampak lancar di permukaan tapi sebenarnya kosong dari pertukaran pikiran yang sesungguhnya.
Pada akhirnya, kelas yang benar-benar hidup bukan diukur dari seberapa ramai suasananya, melainkan seberapa nyaman setiap orang di dalamnya merasa aman untuk berpikir keras — bahkan ketika pikirannya belum tentu benar.
Tiara Khoirunnafiss, Mahasiswi S1 Sistem Informasi Universitas Pamulang
