Stop Child Marriage: Membangun Dunia Tempat Anak-Anak Boleh Tetap Jadi Anak

Saya mahasiswa Sistem Informasi Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Tiara Khoirunnafiss tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan sebuah dunia di mana setiap anak perempuan bangun pagi, memakai seragam sekolah, bukan gaun pengantin. Di dunia itu, mimpi seorang anak diukur dari cita-citanya, bukan dari usia berapa ia "siap" dinikahkan. Sayangnya, dunia itu belum sepenuhnya ada — tapi kita bisa membangunnya, sedikit demi sedikit, dimulai dari kesadaran.
Realita yang Masih Terjadi
Pernikahan anak bukan cerita masa lalu. Di banyak wilayah, termasuk Indonesia, praktik ini masih berlangsung karena kombinasi kemiskinan, tekanan budaya, minimnya akses pendidikan, dan kesalahpahaman bahwa menikahkan anak lebih awal akan "melindungi" mereka dari aib atau kesulitan ekonomi. Padahal yang terjadi justru sebaliknya.
Anak yang menikah di usia dini kehilangan banyak hal sekaligus: pendidikan, kesehatan reproduksi yang aman, kebebasan mengembangkan diri, dan yang paling mendasar — masa kecilnya sendiri. Secara fisik, tubuh mereka belum sepenuhnya siap untuk kehamilan dan persalinan, sehingga risiko komplikasi kesehatan meningkat drastis. Secara psikologis, mereka dipaksa mengambil peran orang dewasa — sebagai istri, suami, bahkan orang tua — sebelum mereka sendiri selesai tumbuh.
Dunia yang Ingin Kita Bangun
Kalau kita membayangkan "dunia baru" sebagai gambaran cita-cita, dunia itu punya beberapa fondasi:
Pendidikan sebagai perisai utama
Di dunia itu, sekolah bukan barang mewah. Anak perempuan di desa terpencil punya akses yang sama dengan anak di kota besar. Pendidikan memberi mereka pilihan — dan pilihan adalah lawan utama dari pernikahan paksa.
Ekonomi keluarga yang tidak menjadikan anak sebagai solusi
Salah satu pendorong terbesar pernikahan anak adalah kemiskinan. Ketika keluarga kesulitan secara ekonomi, anak perempuan kadang dianggap "beban" yang bisa dikurangi lewat pernikahan. Dunia yang lebih baik punya jaring pengaman sosial sehingga tidak ada keluarga yang merasa harus mengorbankan anaknya demi bertahan hidup.
Hukum yang tegas dan benar-benar ditegakkan
Aturan yang melarang pernikahan di bawah umur harus lebih dari sekadar tulisan di atas kertas. Aparat, tokoh agama, dan tokoh adat perlu berjalan searah, bukan saling melempar tanggung jawab.
Suara anak yang didengar
Di dunia ideal ini, anak-anak tahu mereka punya hak untuk menolak, punya tempat mengadu, dan punya orang dewasa yang akan membela mereka — bukan memaksa mereka diam demi "menjaga nama baik keluarga".
Apa yang Bisa Dilakukan Mulai Sekarang
Edukasi lintas generasi. Ajak orang tua dan tokoh masyarakat berdiskusi, bukan menggurui. Perubahan pola pikir sering lebih efektif lewat dialog daripada larangan sepihak.
Perkuat akses pendidikan dan ekonomi keluarga rentan. Beasiswa, pelatihan keterampilan, dan bantuan sosial bisa menghapus alasan ekonomi di balik pernikahan anak.
Dukung korban, jangan hakimi. Anak yang sudah telanjur menikah dini tetap butuh akses pendidikan lanjutan dan pemulihan, bukan stigma tambahan.
Manfaatkan media dan kampanye kreatif. Cerita, ilustrasi, atau bahkan "dunia fiksi" seperti yang kamu bayangkan bisa jadi alat ampuh untuk menyentuh hati orang yang sulit dijangkau lewat statistik saja.
Penutup
Dunia tanpa pernikahan anak bukan fantasi yang mustahil — ia adalah tujuan yang bisa dicapai lewat pendidikan, kebijakan yang konsisten, dan keberanian untuk bicara. Setiap artikel, setiap kampanye, setiap percakapan seperti ini adalah satu batu bata kecil untuk dunia itu.
