Konten dari Pengguna

Gen Z Bukan Malas, Hanya Sedang Berjuang Menemukan Arah Hidup

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tiara Puti Alzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

AI Ilustrasi
zoom-in-whitePerbesar
AI Ilustrasi

Generasi Z sering dianggap sebagai generasi yang mudah menyerah, kurang sabar, dan ingin mendapatkan sesuatu secara instan. Ketika seorang anak muda belum mendapatkan pekerjaan, masih menyelesaikan kuliah, atau belum mandiri secara finansial, tidak sedikit yang langsung menilainya sebagai orang yang kurang berusaha. Padahal, kehidupan generasi muda tidak sesederhana penilaian tersebut. Ada banyak hal yang harus mereka pikirkan, mulai dari pendidikan, pekerjaan, kondisi ekonomi, hingga tuntutan lingkungan.

Bayangkan seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi. Setiap minggu ia berusaha menyelesaikan revisi, mencari referensi, dan berkonsultasi dengan dosen pembimbing. Di sisi lain, ia mulai memikirkan biaya hidup, peluang kerja setelah lulus, dan harapan keluarga agar dirinya segera menyelesaikan pendidikan. Ketika melihat teman-temannya sudah wisuda atau mendapatkan pekerjaan, ia mungkin merasa tertinggal. Namun, bukan berarti ia tidak berusaha. Ia sedang menjalani proses yang membutuhkan waktu, tenaga, dan kesabaran.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa perjalanan menuju masa depan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada mahasiswa yang dapat fokus menyelesaikan kuliah, tetapi ada pula yang harus bekerja sambil belajar. Ada anak muda yang sudah mengetahui bidang pekerjaan yang diinginkan, sedangkan yang lain masih mencoba memahami kemampuan dan minatnya. Perbedaan kondisi ini membuat setiap orang memiliki tantangan yang tidak selalu sama.

Tekanan Finansial dan Ketidakpastian Masa Depan

Kekhawatiran generasi muda terhadap masa depan juga terlihat dalam penelitian. Deloitte melalui laporan 2025 Gen Z and Millennial Survey melibatkan 23.482 responden dari 44 negara, termasuk 14.751 responden Gen Z. Hasil survei menunjukkan bahwa 48 persen responden Gen Z merasa belum memiliki keamanan finansial. Selain itu, lebih dari 80 persen responden Gen Z dan milenial menyebut kondisi keuangan sehari-hari serta masa depan finansial sebagai faktor yang berkontribusi terhadap stres atau kecemasan mereka. (Deloitte, 2025).

Deloitte. (2025). 2025 Gen Z and Millennial Survey: Growth and the Pursuit of Money, Meaning, and Well-being.

Data tersebut memperlihatkan bahwa persoalan keuangan menjadi salah satu kekhawatiran penting bagi generasi muda. Keinginan untuk memperoleh pekerjaan bukan semata-mata demi terlihat sukses, melainkan juga untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membangun kemandirian. Meskipun survei tersebut dilakukan di berbagai negara sehingga tidak mewakili seluruh Gen Z di Indonesia, temuannya memberikan gambaran mengenai tantangan yang dihadapi generasi muda.

Dalam kondisi seperti ini, melabeli Gen Z sebagai generasi malas tentu bukan solusi. Kita perlu melihat apakah mereka memiliki akses terhadap pendidikan, kesempatan kerja, informasi, dan dukungan yang memadai. Usaha pribadi memang penting, tetapi kesempatan dan kondisi lingkungan juga dapat memengaruhi perjalanan seseorang.

Media Sosial dan Perasaan Tertinggal

Selain masalah finansial, media sosial dapat membuat tekanan tersebut terasa semakin besar. Setiap hari, anak muda dapat melihat teman sebaya yang berhasil menyelesaikan kuliah, memperoleh pekerjaan, membangun bisnis, atau mencapai target tertentu. Pencapaian tersebut dapat menjadi inspirasi, tetapi juga dapat memicu kebiasaan membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain.

Misalnya, seorang mahasiswa yang sedang berjuang menyelesaikan skripsi melihat unggahan temannya tentang kelulusan. Ia mungkin mulai bertanya-tanya mengapa dirinya belum mencapai tahap yang sama. Padahal, ia tidak mengetahui seluruh proses yang telah dilalui temannya, sebagaimana orang lain juga belum tentu memahami kesulitan yang sedang ia hadapi.

Menurut saya, persoalannya bukan terletak pada keberhasilan orang lain, melainkan ketika keberhasilan tersebut dijadikan satu-satunya ukuran untuk menilai diri sendiri. Akibatnya, seseorang bisa merasa gagal hanya karena jalannya lebih lambat. Padahal, setiap orang memiliki latar belakang, tanggung jawab, dan kesempatan yang berbeda.

Karena itu, media sosial perlu digunakan secara bijak. Kita dapat mengambil pelajaran dari pencapaian orang lain tanpa harus menjadikannya sebagai alasan untuk merendahkan diri sendiri. Fokus pada perkembangan pribadi akan lebih bermanfaat daripada terus membandingkan hasil yang terlihat di layar.

Bukan Berarti Gen Z Boleh Berhenti Berusaha

Memahami tantangan generasi muda bukan berarti membenarkan kebiasaan menunda pekerjaan atau menghindari tanggung jawab. Mahasiswa tetap perlu menyelesaikan skripsinya, pencari kerja perlu meningkatkan keterampilannya, dan setiap orang perlu berusaha memperbaiki kondisi hidupnya. Perbedaannya, usaha tersebut perlu didukung oleh target yang realistis dan langkah yang dapat dilakukan.

Mahasiswa yang kesulitan menyelesaikan skripsi, misalnya, dapat membagi pekerjaannya menjadi beberapa tahap, mulai dari mencari referensi, menyusun kerangka penelitian, mengolah data, hingga memperbaiki hasil bimbingan. Sementara itu, anak muda yang sedang mencari pekerjaan dapat memperbaiki CV, mempelajari keterampilan baru, dan memperluas kesempatan melamar kerja. Langkah-langkah tersebut tidak selalu memberikan hasil secara langsung, tetapi dapat membantu mereka bergerak menuju tujuan.

Dukungan keluarga, kampus, dan lingkungan juga tidak kalah penting. Pertanyaan tentang kapan lulus atau kapan bekerja mungkin dimaksudkan sebagai bentuk perhatian. Namun, jika disampaikan terus-menerus tanpa memahami keadaan seseorang, pertanyaan tersebut justru dapat menambah tekanan. Memberikan dukungan, mendengarkan kesulitan, dan membantu mencari solusi akan lebih bermanfaat daripada sekadar membandingkan pencapaian.

Menemukan Arah Hidup Membutuhkan Proses

Menentukan arah hidup bukan perkara yang selalu dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Ada orang yang sejak awal sudah mengetahui cita-citanya, tetapi ada pula yang baru memahami minat dan kemampuannya setelah mencoba berbagai hal. Keduanya merupakan bagian dari proses belajar.

Gen Z tetap perlu memiliki tujuan dan tanggung jawab terhadap masa depannya. Namun, tujuan tersebut tidak harus mengikuti standar keberhasilan orang lain. Lulus tepat waktu, mendapatkan pekerjaan, dan mencapai kemandirian finansial memang merupakan hal yang baik, tetapi proses menuju pencapaian itu dapat berbeda bagi setiap orang.

Pada akhirnya, menurut saya, Gen Z tidak seharusnya dinilai sebagai generasi malas hanya karena belum mencapai sesuatu pada waktu yang sama dengan orang lain. Kritik tetap diperlukan, tetapi penilaian juga harus mempertimbangkan keadaan dan usaha yang telah dilakukan.

Daripada terus memberikan label, lebih baik kita mendorong generasi muda untuk mengenali potensinya, meningkatkan kemampuannya, dan berani mengambil langkah untuk masa depan. Sebab, belum berhasil hari ini bukan berarti tidak sedang berjuang. Menemukan arah hidup memang membutuhkan waktu, tetapi yang terpenting adalah tetap belajar, bertanggung jawab, dan terus bergerak maju.