Konten dari Pengguna

Menatap Belitong dari Jendela Sekolah Ambruk: Ironi dan Cinta di Laskar Pelangi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tiara Salsabilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: Tiara Salsabilah

Ilustrasi: Kebersamaan anak-anak di sekolah kayu. (Sumber: Ilustrasi/Generatif AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Kebersamaan anak-anak di sekolah kayu. (Sumber: Ilustrasi/Generatif AI)

Siapa pun yang pernah membaca Laskar Pelangi karya Andrea Hirata pasti paham bahwa buku ini bukan cuma soal nostalgia masa kecil yang penuh gelak tawa. Di balik kelucuan polos sepuluh bocah Melayu itu, Andrea sebenarnya sedang menampar kita dengan sebuah realitas yang getir: ketimpangan sosial yang telanjang di atas tanah yang bergelimang kekayaan alam.

Pulau Belitong digambarkan sebagai negeri yang ganjil. Di atas tanahnya, triliunan rupiah hasil tambang timah dikeruk setiap hari. Namun, tepat di luar tembok-tembok tinggi milik korporasi, warga lokal hidup dalam lingkaran kemiskinan yang seolah tak punya pintu keluar. Fenomena ini terekam jelas saat Ikal, sang narator, melukiskan kontras antara dunia mereka dengan dunia orang-orang Gedong:

"Kekayaan ini adalah bahan dasar kaca berkualitas paling tinggi, bijih besi dan titanium yang bernas... Semua ini sangat kontradiktif dengan kemiskinan turun temurun penduduk asli Melayu Belitong yang hidup berserakan di atasnya. Kami seperti sekawanan tikus yang paceklik di lumbung padi."

Sekolah yang Nyaris Tumpah

Ketimpangan itu paling menganga ketika kita melihat urusan pendidikan. Di saat anak-anak pejabat tambang menikmati sekolah modern berfasilitas lengkap, anak-anak Melayu Belitong harus bersusah payah mempertahankan sebuah SD Muhammadiyah yang kondisinya mengenaskan. Andrea menggambarkan sekolah itu tanpa tedeng aling-aling:

"Tak susah melukiskan sekolah kami, karena sekolah kami adalah salah satu dari ratusan atau mungkin ribuan sekolah miskin di seantero negeri ini yang jika disenggol sedikit saja oleh kambing yang senewen ingin kawin, bisa rubuh berantakan."

Bahkan di hari pertama sekolah, kecemasan bukan timbul karena takut pada mata pelajaran, melainkan takut sekolah itu langsung dibubarkan hari itu juga hanya karena kekurangan satu orang murid untuk memenuhi kuota sepuluh anak.

Budi Pekerti dan Pendidik yang "Selesai" dengan Dirinya

Namun, di sinilah letak keajaiban Laskar Pelangi. Di tengah bangunan yang hampir tumpah itu, berdiri sosok Pak Harfan dan Bu Muslimah (Bu Mus). Mereka adalah tipe pendidik yang sudah selesai dengan urusan materi. Digaji dengan belasan kilo beras per bulan, Bu Mus tetap mengajar semua mata pelajaran dari pagi hingga siang, lalu menyambung hidupnya dengan menjahit pakaian hingga larut malam.

Pak Harfan menanamkan satu filosofi hidup yang kelak menjadi tiang pancang dalam karakter anak-anak Laskar Pelangi:

"Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya."

Pendidikan di SD Muhammadiyah tidak mendidik anak-anak menjadi mesin pencari uang, melainkan memanusiakan mereka. Bu Mus dan Pak Harfan mengajarkan integritas di atas papan tulis yang miring dan lantai tanah yang berserakan kapur.

Cahaya dari Pesisir dan Jiwa Seni yang Murni

Resistensi terhadap kemiskinan dalam Laskar Pelangi memuncak pada sosok Lintang dan Mahar. Lintang adalah bukti sahih bahwa otak encer dan dahaga akan ilmu tidak mengenal kasta ekonomi. Setiap hari, anak nelayan ini harus menempuh jarak 80 kilometer pulang-pergi dengan sepeda gembos, menerobos rawa-rawa yang dihuni buaya ganas, hanya demi tidak ketinggalan pelajaran. Ikal mengenang sosok kawan sebangkunya itu dengan decak kagum:

"Pagi itu aku menyaksikan seorang anak pesisir melarat—teman sebangku—untuk pertama kalinya memegang pensil dan buku, dan kemudian pada tahun-tahun berikutnya... ia akan berkembang menjadi manusia paling genius yang pernah kujumpai seumur hidupku."

Sementara Lintang berdiri sebagai benteng logika dan ilmu pengetahuan, Mahar hadir sebagai penyeimbang lewat keindahan seni. Lewat ide-ide gila dan nyentriknya seperti tarian suku Masai yang mengguncang karnaval kabupaten, Mahar membuktikan bahwa kreativitas tidak bisa dipenjara oleh keterbatasan biaya.

Sebuah Catatan Akhir

Membaca kembali Laskar Pelangi hari ini membuat kita sadar bahwa pesan novel ini tidak pernah usang. Andrea Hirata berhasil menyentil nurani kita: bahwa pendidikan bukan sekadar urusan gedung megah, kurikulum mentereng, atau seragam mahal. Pendidikan adalah soal memberi hati, menyalakan api harapan, dan meyakinkan setiap anak, seberapapun miskinnya mereka bahwa mereka berhak memiliki cita-cita.

Laskar Pelangi adalah monumen kecil tentang kemanusiaan. Sebuah pengingat bahwa di balik tumpukan angka-angka statistik kemiskinan negeri ini, ada jiwa-jiwa murni yang terus berjuang merebut masa depan mereka dengan tawa, air mata, dan keikhlasan.