Konten dari Pengguna

Potret Pembungkaman Perempuan dalam Cerpen ''Perempuan yang Terbungkam''

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tiara Salsabilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Perempuan yang Terbungkam. Foto: Mart Production/ Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Perempuan yang Terbungkam. Foto: Mart Production/ Pexels.

Di tengah derap modernitas yang serba digital, bayang-bayang budaya patriarki rupanya masih menjadi momok nyata yang mengintai ruang gerak perempuan Indonesia. Gambaran pilu mengenai belenggu sosial ini terekam dengan sangat apik dalam sebuah cerpen berjudul "Perempuan yang Terbungkam" karya Nazia Syauqilla. Jauh dari sekadar fiksi hiburan, cerita ini hadir sebagai potret sosial yang memotret bagaimana ekspektasi lingkungan sering kali memangkas mimpi-mimpi besar seorang gadis muda.

Pergolakan Jiwa dan Benturan Stigma

Cerita ini menjadi begitu memikat karena sejak awal pembaca langsung dihadapkan pada konflik batin yang luar biasa dari tokoh utama bernama "Aku". Penulis dengan cerdas membongkar masalah sosial yang sangat dekat dengan realitas kita: bagaimana keinginan seorang perempuan untuk menempuh pendidikan tinggi harus kandas akibat benturan stigma masyarakat di kampungnya yang masih konservatif.

Konflik sosial dan realitas yang diangkat penulis ini sejalan dengan teori Burhan Nurgiyantoro mengenai kebenaran dalam fiksi. Nurgiyantoro mengutip pandangan Wellek & Warren bahwa realitas dalam karya fiksi pada dasarnya merupakan "ilusi kenyataan" dan kesan meyakinkan yang ditampilkan, bukan selalu kenyataan sehari-hari, yang disebut sebagai kebenaran situasional. Lebih jauh, melalui fiksi ini, pengarang berhasil mengubah hal-hal yang terasa pahit dan sakit jika dialami dan dirasakan pada dunia nyata, namun menjadi menyenangkan untuk direnungkan dalam karya sastra. Melalui cerpen ini, realitas pahit tentang diskriminasi gender dan kungkungan tradisi patriarki diwujudkan ke dalam teks agar pembaca dapat merenungkan kembali problem tersebut secara lebih mendalam.

Mari kita simak bagaimana pergolakan jiwanya digambarkan dengan begitu getir:

"Aku menunduk, merasakan panas di dadaku, dan bagaimana air mata memaksa untuk jatuh. 'Yah, apakah aku terlalu memaksa?' Aku melirik kepada ayahku... 'Sekolah... bermimpi yang tinggi, mereka semua bilang itu akan sia-sia...'"

Kutipan tersebut menjadi tamparan keras. Faktor penceritaan yang emosional inilah yang membuat pembaca merasa terikat dan ikut merasakan ketidakadilan yang dialami tokoh utama. Kita dipaksa menyaksikan bagaimana seorang anak manusia harus memilih antara menyerah pada keadaan atau bangkit melawan bungkaman sosial demi sebuah cita-cita.

Sebuah Pesan Moral dan Gugatan Terhadap Tradisi Kuno

Setiap karya fiksi yang baik selalu membawa amanat yang ingin dititipkan kepada pembacanya. Hubungan antara penceritaan konflik dengan pesan yang ingin disampaikan ini berkaitan erat dengan hakikat sebuah karya fiksi sebagai sarana komunikasi pengarang. Menurut Nurgiyantoro, karya fiksi dapat dipandang sebagai bentuk manifestasi keinginan pengarang untuk mendialogkan, menawarkan, dan menyampaikan sesuatu, yang mana sesuatu itu dapat berupa pandangan tentang suatu hal, gagasan, moral, atau amanat.

Jika menarik benang merah dari cerpen ini, wujud pesan moral yang disarankan oleh pengarang terasa sangat mendalam. Melalui akhir cerita di mana tokoh "Aku" akhirnya memilih untuk menyuarakan keresahannya di atas mimbar pidato, pengarang sebenarnya sedang menyampaikan kritik sosial yang tajam kepada kita semua.

Pesan tersebut menjadi refleksi bagi masyarakat luas untuk berhenti memangkas mimpi-mimpi perempuan atas dasar tradisi kuno. Cerpen ini menegaskan sebuah nilai universal: bahwa setiap perempuan, dari latar belakang sosial apa pun, memiliki hak yang sama untuk mengenyam pendidikan tinggi, bersuara, dan menentukan masa depannya sendiri tanpa harus dihakimi.

Melalui kisah ini, terlihat jelas bahwa "Perempuan yang Terbungkam" berhasil menganyam cerita yang memikat sekaligus menyampaikan pesan moral yang sangat relevan bagi pembaca era modern. Perjuangan kesetaraan jender yang diwariskan sejak era Kartini nyatanya belum sepenuhnya usai. Cerpen ini hadir sebagai pengingat liris bahwa literasi dan keberanian adalah senjata terbaik untuk menolak sunyi dan meruntuhkan tembok diskriminasi.

Daftar Pustaka

Nurgiyantoro, Burhan. (2013). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, hlm. 6-7 & 335.

Syauqilla, Nazia. (2026). Cerpen Perempuan yang Terbungkam. Batam: SMP IT Ulil Albab.