Konten dari Pengguna

Lebaran Jadi Sidang Dadakan: Curhat Anak Hukum di Meja Makan Keluarga

Tiara Rahma Putri Hidayanti

Tiara Rahma Putri Hidayanti

Mahasiswa Ilmu Hukum, Universitas Pamulang

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tiara Rahma Putri Hidayanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jujur ya, tiap Lebaran aku selalu siap mental. Bukan siap ditanya "kapan nikah", tapi siap disidang. Baru juga duduk, ambil ketupat, sendok opor belum sampai ke piring, tiba-tiba ada om yang nyeletuk, "Nah ini anak hukum, sini sini." Udah, habis itu mulutku lebih sibuk jawab daripada ngunyah.

Foto : DS Rexy/Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Foto : DS Rexy/Pexels

Kalau kamu juga anak hukum, pasti ngerti. Ini lima hal yang paling sering aku alami pas kumpul keluarga:

1. "Pasti hafal semua pasal, kan?"

Pernah ada berita kriminal lewat di TV, dan seisi ruang tamu kompak noleh ke aku. "Itu kena pasal berapa, Nak?" Aku cuma bisa nyengir. Om, otakku bukan mesin fotokopi. Yang kami pelajari di kuliah itu cara berpikir hukum, bukan hafalan pasal kayak cerdas cermat. Dosen aja buka kitab dulu kok.

Foto : Alwi Hafizh Al Mumtaz/Pexels

2. "Pasti jago debat dong."

Karena keluarga pernah lihat aku ikut debat di kampus, mereka kira aku selalu siap perang. Padahal pas ada saudara yang ngomongnya sok tahu, aku cuma senyum misterius sambil ngomong dalam hati, "Lagi libur, males pakai asas praduga tak bersalah." Debat soal siapa yang duluan nikah? Mending aku ngalah demi menyelamatkan opor.

3. "Nanti jadi pengacara artis, ya?"

Tante pasti nanya ini. Jawaban jujurku: "Lulus tepat waktu aja udah mukjizat, Tan." Orang sering ngira lulusan hukum cuma jadi hakim atau pengacara. Padahal banyak jalannya: legal perusahaan, notaris, diplomat, peneliti kebijakan, sampai staf hukum di pemerintahan. Tapi ya, susah jelasinnya sambil makan.

4. "Tolong urusin dong, gratis kan?"

Mendadak aku jadi konsultan hukum keluarga. Dari urusan tilang, tanah warisan kakek, sampai harta gono-gini tetangga. Bayarannya? "Makasih ya, Nak" plus tambahan kuah opor. Padahal ilmu ini dibayar pakai uang semesteran yang nggak murah, lho.

5. "Anak hukum itu kaku dan suka cari salah orang."

Di kampus memang serius. Tapi pulang ke rumah, aku ya rebahan, maraton drakor, baca AU di Twitter, dan lemah banget sama diskon makanan. Sikap kritis itu cuma keluar pas kuliah dan ujian, kok.

Buat kamu sesama pejuang toga

Hadapi aja semua pertanyaan dengan senyum dan sabar. Kalau mulai kebanyakan, bilang aja: "Asas praduga tak bersalah dulu ya, Om/Tante. Aku mau ambil es buah dulu. "