Ternyata Gen Z Masih Butuh Weton dan Pamali

Mahasiswa Sistem Informasi, Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Tika Ardianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjadi anak Gen Z di zaman sekarang, artinya kita hidup dalam dualisme yang unik. Satu sisi kita adalah generasi yang vokal akan kesehatan mental, hidup serba otomatis dengan ai, dan juga selalu berpikiran dengan logika sains. Tapi, di sisi yang lain kita masih menyimpan ketakutan dan harapan akan hal yang tidak bisa di jelaskan oleh teknologi. Nyatanya modernitas hanyalah bungkusan luar gen z. Karena masih banyak gen z yang mencari kepastian masa depan, dan juga memprediksi nasib sial menggunakan cara yang sama dengan kakek nenek mereka, yaitu berdasarkan perhitungan primbon dan juga patuh pada coretan pamali.
Relationship Compatibility Lewat Weton
Sadar atau tidak, kita sedang melihat bagaimana weton dan pamali dapat terhindar dari kepunahan akibat generasi yang paling hobi main media sosial. Sekarang banyak infografis kecocokan weton bertebaran di tiktok dan juga X dengan visual yang estetik.
Gen Z sekarang menjadikan weton sebagai relationship compatibility, karena terasa lebih personal dibandingkan dengan tarot dan zodiak. Padahal, bagi leluhur kita weton bukan sekadar tebak tebakan mistis, tapi sebagai sistem kosmologi dan ilmu titen (sains berbasis pengamatan alam) yang rumit. Lucunya, gen z yang katanya skeptis, justru menjadikan weton sebagai arah instan untuk mencari rasa aman di tengah dunia modern yang semakin tidak pasti. Memang untuk urusan restu semesta rasanya lebih mantap kalau menggunakan hitungan neptu dari leluhur kita sendiri.
Logika di Balik Pamali
Ternyata bukan Cuma urusan jodoh dan weton saja, dualisme insting gen z juga terlihat dari bagaimana cara mereka menyikapi “pamali” atau pantangan kuno. Yang menariknya, mereka mematuhi pamali bukan karena takut dihantui, tapi mereka berhasil menemukan alasan yang logis dibalik pamali tersebut. Contohnya larangan makan di pintu karena katanya “Takut jauh jodoh”, pamali ini di patuhi karena mereka menyadari etika bahwa menghalangi jalan itu tidak sopan. Dan juga larangan memotong kuku di malam hari di pahami sebagai tips keselamatan fisik agar tidak terluka saat minim pencahayaan. Sadar gak sadar, gen z tidak lagi melihat pamali sebagai takhayul yang mengekang, tapi sebagai kode etik kuno atau survival hacks warisan leluhur yang ternyata masuk akal untuk di praktikan.
Pada akhirnya, fenomena ini memperlihatkan bahwa tradisi itu gak harus dipaksa lewat buku biar lestari. Tapi tradisi bisa bertahan lewat jalur yang modern dan seru. Kita butuh weton dan pamali bukan karena kita percaya takhayul, tapi kita butuh sesuatu yang terasa dekat dan nyata untuk memandu hidup yang makin ruwet ini. Kita boleh saja bangga hidup di era digital, tapi begitu dihadapkan dengan ketidakpastian hidup, rasanya hitungan kuno leluhur masih jadi pegangan yang menenangkan.
