4 Sekolah Rakyat Raih Penghargaan Mandaya Awards 2026

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Empat Sekolah Rakyat meraih penghargaan Penyelenggara Sekolah Rakyat Terbaik dari Kemenko PM dalam ajang Mandaya Awards 2026 di Jakarta, Selasa (27/10/2026). Foto: Dok. Kemensos
zoom-in-whitePerbesar
Empat Sekolah Rakyat meraih penghargaan Penyelenggara Sekolah Rakyat Terbaik dari Kemenko PM dalam ajang Mandaya Awards 2026 di Jakarta, Selasa (27/10/2026). Foto: Dok. Kemensos

Sebanyak empat Sekolah Rakyat meraih penghargaan sebagai Penyelenggara Sekolah Rakyat Terbaik dalam ajang Mandaya Awards 2026. Apresiasi ini diberikan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM).

Adapun empat sekolah tersebut, yakni Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Kediri, SRT 1 Kabupaten Takalar, SRT 1 Kabupaten Bogor yang ketiganya dari jenjang SMA, dan Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 14 Bandung Barat.

Mandaya Awards 2026 adalah penghargaan bagi berbagai pihak yang dinilai telah memberi kontribusi nyata dalam pemberdayaan masyarakat, seperti pemerintah daerah, perguruan tinggi, pesantren, badan usaha, hingga masyarakat.

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar menekankan pentingnya pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan kemiskinan. Menurut dia, angka kemiskinan tidak dapat turun dengan sendirinya, tetapi perlu melibatkan banyak pihak. Mulai dari kontribusi kepala desa, dosen, mahasiswa, pengusaha, hingga pimpinan pesantren.

"Di balik turunnya angka kemiskinan ini, ada orang-orang yang mau turun tangan. Para kepala desa yang turun terus ke dusun masing-masing," kata Muhaimin di Ballroom Plaza BP Jamsostek, Jakarta, Selasa (27/10/2026).

"Bukan yang paling besar lembaganya, juga bukan yang paling mahal anggarannya. Tetapi yang paling kita harapkan adalah siapa yang dampaknya nyata dan dibuktikan," sambungnya.

Dia mengungkapkan, berdasarkan data BPS 2026, tingkat kemiskinan turun dari 8,57 persen menjadi 8,07 persen. Sedangkan kemiskinan ekstrem turun dari 2,8 juta menjadi 1,7 juta jiwa.

"Artinya, dalam dua tahun ini sekitar 1,1 juta saudara kita keluar dari kemiskinan ekstrem," jelas Muhaimin.

Selain itu, Muhaimin mengatakan, pemerintah juga berkoordinasi dalam menjalankan berbagai program pemberdayaan melalui pendidikan, pembiayaan usaha, pendampingan desa, dan program lainnya. Salah satunya melalui penyelenggaraan Sekolah Rakyat yang kini diikuti 44.200 anak.

"Ada satu cerita yang paling menarik dan membanggakan bahwa hari ini 44 ribu anak-anak yang telantar dan kurang beruntung dari keluarga yang paling miskin, hari ini telah bersekolah di Sekolah Rakyat dengan fasilitas yang lengkap dan memadai," ujarnya.

Menurut Muhaimin, para murid telah menunjukkan perkembangan positif setelah bersekolah di Sekolah Rakyat.

"Saya sendiri amat sangat kaget, 6 bulan yang lalu dibanding dengan yang sekarang, anak-anak yang bersekolah di Sekolah Rakyat sudah berubah segalanya. Semuanya menjadi segar, motivasinya tinggi, hari ini sudah mengalami berbagai kemajuan," katanya.

Disisi lain, Muhaimin menjelaskan, pemerintah juga membekali para orang tua murid Sekolah Rakyat dengan beragam pendidikan dan kemampuan baru agar dapat meningkatkan produktivitas serta membangun kemandirian ekonomi keluarga.

"Orang tua keluarga miskin yang sedang bersekolah di Sekolah Rakyat kita bekali, kita didik dan kita mandirikan melalui Program LAKSMI. Anaknya belajar, orangtuanya memiliki kemampuan baru. Dan insyaallah, tahun ini kita akan berhasil. Anaknya bersekolah dengan masa depan yang cerah dan orangtuanya mandiri menjadi orang yang produktif," ungkap dia.

Melalui Sekolah Rakyat, pemberdayaan diharapkan berlangsung dalam satu kesatuan keluarga. Anak memperoleh akses pendidikan dan kesempatan memperbaiki masa depan, sementara orang tua didorong meningkatkan kemampuan agar lebih produktif dan mampu menopang kesejahteraan keluarga.

Mandaya Awards 2026 merupakan penyelenggaraan kedua dan diikuti lebih dari 2.146 peserta. Kegiatan tersebut juga melibatkan 1.245 mahasiswa yang tergabung dalam 415 tim.

Penghargaan tahun ini diberikan dalam beberapa kategori. Di antaranya pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, pemerintah desa, pesantren, perguruan tinggi, penggerak pemberdayaan, badan usaha, dan sekolah rakyat.

Sebagai informasi, penghargaan pada kategori Sekolah Rakyat diterima oleh perwakilan dari masing-masing sekolah. Rinciannya, Kepala SRT 1 Kabupaten Takalar, M Jufrianto; Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Kurikulum SRT 1 Kabupaten Bogor, Haris; Wakasek Kesiswaan SRMA 14 Bandung Barat, Dimas Mulyana; dan Wali Asrama SRT 1 Kabupaten Kediri, Moh Nursalim.

Kepala SRT 1 Kabupaten Takalar, M Jufrianto mengungkapkan, pihaknya menyediakan program-program pemberdayaan bagi para orang tua murid untuk mendukung kemampuan atau skill dalam peningkatan pendapatan. Salah satunya, pelatihan pembuatan kerupuk maupun makanan ringan lainnya yang digelar bersama dengan Sentra Pangurangi Takalar.

"Dibelikan bahannya, kemudian dibelikan alatnya oleh pihak sentra. Jadi alhamdulillah, mereka sekarang sudah biasa. Ada yang bahkan sudah jual di toko-toko kecil mereka di rumah, buka warung sendiri," ungkap Jufrianto.

Sementara itu, Wakasek Kurikulum SRT 1 Kabupaten Bogor, Haris menyampaikan, pihaknya tidak hanya berfokus dalam melatih kemampuan vokasi para siswa, tetapi juga mengajarkan proses mulai dari hulu hingga ke hilir. Sehingga kelak setelah mereka lulus sekolah, diharapkan mampu mengangkat derajat keluarga.

Adapun program pemberdayaan yang dilakukan di SRT 1 Kabupaten Bogor di antaranya Lelepreuner atau pelatihan pengelolaan budidaya lele hingga bidang kesenian, yakni belajar memainkan dan membuat angklung dengan menggandeng sanggar-sanggar seni lokal.

"Dari mulai penyiapan bahan baku hingga pengemasan produk jadinya dan kemudian bagaimana mereka memasarkan itu. Karena kalau berbicara pendidikan yang dinilai itu bukan instan, satu tahun, dua tahun, tapi jangka panjangnya, proses yang kita nilai," kata Haris.

"Sehingga kita beri siswa itu waktu untuk proses bahwa ketika kalian lulus, ya kalian harus bisa berdaya, kalian harus bisa graduasi menjadi ujung tombak pemutus mata rantai kemiskinan keluarga. Karena yang disiapkan bukan hanya akademik, vokasinya juga disiapkan, dan itu semua dikembangkan di sekolah rakyat," tambahnya.

Wakasek Kesiswaan SRMA 14 Bandung Barat, Dimas Mulyana menjelaskan, pihak sekolah memiliki 15 kegiatan ekstrakulikuler untuk memfasilitasi, memberi ruang bagi para siswa sesuai minat dan bakat nonakademik mereka masing-masing. Mulai dari olahraga, kesenian, keagamaan, hingga organisasi.

"Sehingga, melalui minat dan bakat ini, alhamdulillah, kepercayaan diri anak-anak meningkat melalui minat dan bakat karena kan sering action gitu. Jadi, alhamdulillah, prestasi meningkat, kepercayaan diri meningkat. Akhirnya yang tadi, pemberdayaan itu, yang akan kita (dorong), anak berani jadi juara satu di tingkat provinsi, di tingkat nasional," jelas Dimas.

Kemudian, Wali Asrama SRT 1 Kabupaten Kediri, Moh Nursalim menyebut, pihak sekolah juga fokus pada pendampingan bagi siswa-siswi. Mereka didorong untuk lebih aktif dan berprestasi, baik dalam hal akademik maupun non-akademik.

"Jadi slogan di kita, tidak ada anak tanpa kegiatan, tidak ada anak tanpa pendampingan," ujarnya.

"Nanti harapannya, ketika lulus, mereka tidak menganggur. Dan itu terbukti, sekarang, di (sekolah) kita sudah ada anak kelas 2 (SMA) yang mereka punya golden ticket ke kuliah, padahal masih kelas 2," pungkas Nursalim.