AHY Tawarkan Kerja Sama Infrastruktur, Logistik hingga Giant Sea Wall ke Rusia
·waktu baca 5 menit

Pemerintah Indonesia membuka peluang kerja sama yang lebih luas dengan Rusia dan negara-negara Eurasia di bidang infrastruktur, maritim, pelabuhan, logistik, perkeretaapian, energi berkelanjutan, hingga pembangunan Giant Sea Wall.
Peluang kerja sama tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat menjadi pembicara dalam sesi EAEU–ASEAN pada rangkaian St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026 di St. Petersburg, Rusia, Kamis (4/6).
Dalam forum tersebut, AHY menegaskan dunia saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi global, gangguan rantai pasok, hingga dinamika geopolitik yang memengaruhi stabilitas dan pembangunan berbagai negara.
Menurutnya, ketahanan tidak lagi dapat dipandang sebagai pilihan, melainkan harus menjadi bagian dari desain pembangunan nasional yang terencana dan berkelanjutan.
"Ketahanan harus dirancang secara sadar melalui pembangunan infrastruktur yang kuat, ketahanan energi, ketahanan pangan dan air, serta kemitraan internasional yang dapat dipercaya,” ujar Menko AHY.
Ia menegaskan Indonesia terus mengedepankan kerja sama dan kolaborasi sebagai bagian dari solusi menghadapi tantangan global.
“Sebagaimana disampaikan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia memilih untuk membangun persahabatan dengan semua bangsa. Kita percaya pada dialog di atas konfrontasi, kerja sama di atas persaingan, serta kemitraan yang saling menguntungkan bagi semua pihak,” lanjutnya.
Dalam kesempatan tersebut, AHY memaparkan tiga prioritas utama pembangunan infrastruktur Indonesia. Pertama, dekarbonisasi sektor transportasi sebagai bagian dari upaya mencapai target Net Zero Emissions.
Kedua, penguatan konektivitas strategis melalui integrasi pelabuhan, sistem logistik, dan jaringan perkeretaapian nasional. Ketiga, pembangunan infrastruktur yang tangguh terhadap perubahan iklim, termasuk perlindungan kawasan pesisir melalui proyek Giant Sea Wall.
Menurut AHY, perubahan iklim telah menjadi tantangan nyata yang dihadapi Indonesia. Banjir, abrasi pantai, cuaca ekstrem, kenaikan muka air laut, hingga penurunan muka tanah di sejumlah wilayah pesisir memerlukan langkah mitigasi yang terukur, terpadu, dan berjangka panjang.
“Indonesia sedang mematangkan rencana pembangunan Giant Sea Wall sebagai bagian dari agenda perlindungan pesisir yang lebih luas, khususnya di wilayah Pantai Utara Jawa. Langkah ini bukan sekadar menghadirkan perlindungan fisik, tetapi juga menjaga denyut nadi kehidupan masyarakat, melindungi mata pencaharian, serta memastikan keberlanjutan ekosistem sosial dan ekonomi di kawasan pesisir,” tutur AHY.
Ketum Demokrat itu menjelaskan kawasan Pantai Utara Jawa merupakan salah satu pusat aktivitas ekonomi nasional yang memiliki peran penting dalam mendukung industri, perdagangan, logistik, pelabuhan, dan mobilitas masyarakat. Oleh karena itu, perlindungan kawasan pesisir menjadi bagian penting dari strategi menjaga keberlanjutan pembangunan nasional dalam jangka panjang.
Menurut AHY, proyek Giant Sea Wall membuka peluang kolaborasi internasional yang luas, mulai dari rekayasa pesisir, teknologi perlindungan pantai dan penghalang laut, sistem operasi dan pemeliharaan, teknologi pemantauan lingkungan, hingga penelitian dan pengembangan bersama.
Selain itu, Indonesia juga membuka peluang kerja sama pada sektor energi bersih, transportasi rendah karbon, infrastruktur tahan iklim, sistem logistik berbasis teknologi, serta ekonomi maritim berkelanjutan yang menjadi kebutuhan bersama negara-negara ASEAN dan Eurasia.
"Indonesia terbuka terhadap berbagai bentuk kolaborasi yang mampu memperkuat kapasitas nasional sekaligus menghadirkan solusi yang berkelanjutan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim,” katanya.
Tawarkan Kerja Sama Pelabuhan-Logistik
Dalam forum yang sama, AHY juga menawarkan peluang kerja sama yang lebih luas dengan Rusia di bidang maritim, pelabuhan, logistik, dan perkeretaapian sebagai bagian dari upaya memperkuat konektivitas nasional, meningkatkan efisiensi logistik, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata dan berkelanjutan.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia membutuhkan sistem transportasi dan logistik yang semakin efisien, terintegrasi, dan mampu menjangkau seluruh wilayah Nusantara.
“Konektivitas adalah hal yang menyatukan Indonesia, memperluas peluang, dan memperkuat daya saing kita,” ucap AHY.
Pemerintah Indonesia saat ini terus memperkuat berbagai pelabuhan strategis, mengintegrasikan sistem logistik nasional, serta mengembangkan jaringan perkeretaapian di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan kawasan-kawasan pertumbuhan baru lainnya.
AHY menjelaskan agenda pembangunan tersebut membuka ruang kolaborasi yang luas bagi mitra internasional, termasuk Rusia dan negara-negara anggota Eurasian Economic Union (EAEU).
“Hal ini membuka peluang dalam manufaktur bersama peralatan kereta api dan pelabuhan, transfer teknologi dalam persinyalan dan logistik digital, serta pengembangan koridor kereta api, pelabuhan, dan logistik yang terintegrasi,” jelas dia.
Selain sektor transportasi dan logistik, Indonesia juga membuka ruang kolaborasi yang lebih luas di bidang kemaritiman. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia terus mendorong modernisasi pelabuhan, penguatan konektivitas antarpulau, pengembangan industri galangan kapal, serta peningkatan efisiensi rantai pasok nasional.
AHY menilai Rusia memiliki pengalaman dan kapasitas teknologi yang kuat dalam bidang transportasi, logistik, manufaktur, rekayasa infrastruktur, dan industri maritim. Oleh karena itu, kerja sama Indonesia–Rusia memiliki potensi besar untuk berkembang lebih jauh, tidak hanya dalam bentuk perdagangan, tetapi juga investasi, transfer teknologi, pengembangan industri strategis, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
“Tujuan kami adalah menciptakan mobilitas manusia dan logistik yang lebih efisien guna membuka potensi ekonomi baru di seluruh wilayah Nusantara,” tegasnya.
Lebih lanjut, AHY menekankan bahwa pembangunan konektivitas harus berjalan seiring dengan agenda keberlanjutan. Menurutnya, kerja sama yang dibangun harus mampu menghasilkan manfaat yang nyata bagi masyarakat.
“Bagi Indonesia, yang terpenting bukan sekadar membangun hubungan antarnegara, tetapi memastikan setiap kerja sama dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” kata AHY.
AHY menambahkan bahwa tantangan global tidak dapat dijawab hanya dengan pernyataan dan niat baik. Diperlukan implementasi nyata yang mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Kita perlu bergerak dari dialog menuju aksi, dari kerangka kerja menuju proyek nyata, dan dari komitmen menuju hasil yang dapat dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Menutup paparannya, AHY mengajak negara-negara ASEAN dan Eurasia untuk memperkuat semangat kolaborasi dan kemitraan jangka panjang dalam menghadapi berbagai tantangan global.
"Mari menjadi generasi yang memilih kerja sama di atas fragmentasi, ketangguhan di atas kerentanan, serta kemitraan jangka panjang di atas keuntungan jangka pendek. Mari kita bangun bukan hanya ekonomi yang lebih kuat, melainkan juga kepercayaan yang lebih kokoh di antara bangsa-bangsa,” pungkas AHY.
