Ancaman Siber Makin Personal, Kesadaran Pengguna Jadi Kunci

Ancaman siber kini berkembang semakin kompleks dan personal. Serangan tidak lagi hanya menyasar sistem dan infrastruktur teknologi, tetapi juga memanfaatkan kelengahan pengguna melalui berbagai modus social engineering.
Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam seminar cybersecurity awareness bertajuk “Now You See: Now You Aware” yang diselenggarakan Akar Inti Enterprise pada Kamis (3/9) di CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat.
Seminar ini didasari semakin canggihnya ancaman siber yang semakin personal, dan tidak lagi hanya menyasar sistem, melainkan manusianya. Berbagai kajian menunjukkan faktor manusia, terutama melalui manipulasi yang dikenal sebagai social engineering, masih menjadi celah utama di balik sebagian besar insiden keamanan siber.
Astari Kartika Hadinata selaku CEO Akar Inti Enterprisse, menjelaskan kejahatan siber sejatinya terjadi lantaran kesadaran individu terhadap ancaman ini masih rendah."Kejahatan siber meningkat pesat dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, tetapi kesadaran atas ancaman tersebut belum tinggi,"ujar Astari Kartika Hadinata dalam keterangannya.
Di sektor perbankan, menurut Senior Adviser Fraud Banking Investigation BCA, Wani Sabu, kasus yang bermula dari social engineering bahkan disebut mencapai sekitar 99 persen. Social engineering merupakan bentuk kejahatan yang memanfaatkan emosi seseorang, baik rasa senang maupun cemas, misalnya dengan pengumuman mendapatkan voucher, undian berhadiah.
"Kejahatan siber yang menyasar melalui social engineering memang masih menjadi masalah krusial di Indonesia, terutama untuk beberapa kalangan. Banyak personal yang jarang periksa ulang apabila ada orang asing mengontak menawarkan hadiah, tautan tidak jelas. Biasakan jangan FOMO, jangan mengunduh aplikasi yang tidak perlu, pada intinya harus periksa ulang," kata Wani.
Metode social engineering ini termasuk cara yang paling sering digunakan pelaku penipuan untuk mengelabui calon korbannya. Para pelaku biasanya mengaku customer service atau support staff dari pihak bank, kartu kredit, asuransi dan instansi lainnya.
Sebagai system integrator, Akar Inti Enterprise memandang bahwa keamanan bukan semata soal teknologi. Secanggih apa pun sistem yang dibangun, kesadaran setiap individu tetap menjadi kunci utama dalam menjaga keamanan. Oleh karena itu, Akar Inti Enterprise hadir bukan sekadar penyedia teknologi, tetapi juga mitra yang mendorong budaya sadar keamanan.
"Ancaman siber hari ini tidak lagi hanya menyerang sistem, tetapi manusianya. Secanggih apa pun teknologi yang kita bangun, kesadaran setiap individu tetap menjadi kunci utama. Lewat 'Now You See: Now You Aware', kami ingin mengajak semua orang untuk lebih peka, karena langkah kecil yang kita ambil hari ini bisa menjadi pelindung di kemudian hari." ujar Astari Kartika, CEO Akar Inti Enterprise.
Seminar ini menghadirkan perspektif yang saling melengkapi dari dunia perbankan dan praktik keamanan siber dengan narasumber yang kompeten di bidangnya. Selain Wani Sabu, Ketua Komite Cyber Fraud Perbanas. Topik: "Inside Banking: How Fraud Really Happens and How to Stay Aware".
Sementara narasumber kedua, Dendi Zuckergates, Founder Orang Siber Indonesia sekaligus praktisi Cybersecurity dan OSINT, membawakan Topik: "Think Like Hacker, Protect Like a Defender"
Pada kesempatan yang sama, Akar Inti Enterprise juga memperkenalkan Mokio, produk API testing simulator yang dikembangkan untuk membantu proses pengujian API.
Produk ini dirancang agar dapat digunakan oleh siapa saja, bukan hanya developer, karena dapat digunakan tanpa menulis kode, memudahkan siapa pun dalam pengujian API. Pada acara ini, pengunjung dapat mencoba Mokio langsung di stan Akar Inti Enterprise.
