Beragam Respons atas Kasus Polisi Tembak Polisi di Pondok Cabe

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Foto Bharatu Laurencius Valdo di kediamannya di Larantuka, NTT, Oktober 2026. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Foto Bharatu Laurencius Valdo di kediamannya di Larantuka, NTT, Oktober 2026. Foto: kumparan

Bharatu Laurentius Valdo Fernandez Lawai ditemukan meninggal dunia dalam kasus dugaan pembunuhan di Markas Ditpoludara, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, pada Jumat (16/10).

Korban diketahui bertugas sebagai tenaga administrasi pada bagian Pamperslog Ditpoludara.

Pengacara keluarga korban, Petrus Bala Pattyona, melalui keterangan tertulisnya, menjelaskan dalam laporan awal kepolisian, pelaku yang merupakan junior korban, Bharada Andika Rahmadani, diduga menembak korban berulang kali, kemudian melukai kepala, dan menggorok lehernya menggunakan senjata tajam.

Dalam kasus pembunuhan ini, pangkat Andika satu tingkat lebih rendah daripada pangkat korban.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto memastikan pelaku telah diamankan dan ditahan di Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

Penyidik masih memeriksa tersangka untuk mendalami rangkaian peristiwa tersebut. Polda Metro Jaya menyatakan penanganan perkara dilakukan secara profesional, objektif, dan akuntabel.

Desak Usut Tuntas

Anggota Komisi III DPR RI, Rudianto Lallo. Foto: Dok. Istimewa

Anggota Komisi III DPR RI Rudianto Lallo mendesak kepolisian mengusut tuntas kasus dugaan pembunuhan ini.

Rudianto mengatakan, penyidik perlu mengungkap penyebab kematian korban, termasuk motif serta pihak-pihak yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Menurutnya, kasus yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang tidak boleh dibiarkan tanpa kejelasan.

"Yang namanya perbuatan kriminal yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang, maka itu harus diungkap, harus dibongkar, siapa pelaku dan apa motif dari apa penyebab kematian tidak wajar dari seseorang tersebut," kata Rudianto, Senin (19/10).

Ia menegaskan, tidak ada alasan bagi aparat untuk membiarkan kasus tersebut berlarut-larut, terlebih peristiwa itu telah menjadi perhatian publik.

Menurut Rudianto, pengusutan menyeluruh diperlukan agar pelaku dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai dengan hukum yang berlaku.

"Jadi tanpa itu pun ya harus diusut tuntas. Ya karena ini menyangkut nyawa seorang warga negara, nyawa seseorang, yang mana pelakunya harus mendapatkan perlakuan setimpal," tambahnya.

Rudianto juga menanggapi dugaan bahwa peristiwa tersebut berkaitan dengan persoalan senioritas dan perundungan di lingkungan kepolisian. Ia meminta penyidik terlebih dahulu memastikan motif di balik kejadian tersebut sebelum menarik kesimpulan.

"Ya saya kira itu harus didalami, makanya kasus ini harus diungkap, dibongkar, supaya bisa didalami secara pasti apa yang menjadi motif," katanya.

Ia menegaskan, budaya perundungan tidak boleh terjadi di lingkungan kepolisian, baik antara anggota senior maupun junior. Namun, ia mengingatkan bahwa dugaan perundungan sebagai pemicu kejadian tersebut masih harus dibuktikan melalui penyidikan.

Selain meminta pengusutan tuntas, Rudianto turut menyoroti persoalan pengawasan penggunaan senjata api oleh anggota Polri. Ia menilai, kepolisian telah menerapkan pengetatan dalam pemberian senjata kepada personel.

Anggota Timwas Haji DPR 2026, Nasir Djamil. Foto: Dok. Timwas Haji DPR 2026

Anggota Komisi III DPR, Muhammad Nasir Djamil, prihatin atas kematian Bharatu Laurentius Valdo.

Politikus PKS ini meminta kasus tersebut diusut tuntas dan mendorong Polri mencegah perundungan di lingkungan kepolisian.

"Mengerikan," kata Nasir saat dikonfirmasi, Senin (19/10).

Nasir menyayangkan peristiwa tersebut melibatkan sesama anggota Polri. Menurut dia, kasus ini harus menjadi perhatian serius agar penyebab dan rangkaian kejadian yang berujung pada kematian korban dapat terungkap secara menyeluruh.

Nasir juga menyoroti pentingnya membangun komunikasi yang sehat antara senior dan junior di lingkungan kepolisian.

Sahroni Dorong Perketat Pengawasan Senpi

Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni memberikan klarifkasi terkait percobaan penipuan terhadap dirinya yang dilakukan oleh pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) gadungan di Jakarta, Sabtu (10/4/2026). Foto: Muhammad Iqbal/ANTARA FOTO

Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni menyoroti insiden polisi menembak polisi ini.

Sahroni menyampaikan duka atas anggota yang meninggal. Ia mengatakan, masalah ini harus diusut tuntas.

"Saya menyampaikan duka kepada korban atas kejadian ini. Tentunya pelaku harus diproses sebagaimana aturan berlaku," kata Sahroni kepada wartawan, Senin (19/10).

Sahroni menekankan, masalah senjata api ini harus dievaluasi. Ia meminta anggota yang diberi wewenang menggunakan senjata api diberikan evaluasi rutin dan pemeriksaan psikologis.

"Masalah senpi ini wajib dievaluasi dan uji psikologis buat para anggota yang memiliki senjata. Tentu harus diperketat," ucap Sahroni.

Bendahara Umum NasDem ini berharap insiden tersebut menjadi momentum perbaikan agar tidak kembali terulang.

Dudung: Kendalikan Emosi, Kalau Ada Masalah Lapor

Menkopolkam Dudung Abdurrahman di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (12/10/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan

Menko Polkam Dudung Abdurachman merespons kasus polisi menembak polisi di Mako Polairud, Pondok Cabe. Ia meminta anggota kepolisian mampu mengendalikan emosi ketika menghadapi persoalan.

Dudung mengatakan persoalan pribadi seharusnya dilaporkan kepada atasan, bukan diselesaikan dengan tindakan yang tidak terkontrol.

"Ya, memang kadang-kadang anak-anak di lapangan ya, ini perlu menyikapi lah ya masalah emosi yang harus dikendalikan, sehingga kalau ada masalah-masalah pribadi, harus laporlah kepada atasannya, ya, kepada pimpinannya, jangan melakukan tindakan-tindakan dengan emosi tidak terkontrol yang akhirnya seperti itu," kata Dudung di Kemenko Polkam, Jakarta, Senin (19/10).

Dudung juga ditanya mengenai dugaan perundungan yang disebut melatarbelakangi insiden tersebut. Namun, ia mengaku masih mencari informasi lebih akurat mengenai penyebab kejadian.

"Ya, saya masih cari informasi yang lebih akurat, nanti pasti akan dievaluasi, pasti akan dievaluasi," ujarnya.

Menurut Dudung, evaluasi nantinya juga dapat menyentuh sistem rekrutmen, termasuk aspek ideologi dan psikologi.

"Ya, sistem rekrutmen entah ideologi, psikologi itu pasti akan sangat dominan. Kita lihat gejala-gejalanya seperti itu, ya," pungkas Dudung.