Berpacu dengan Waktu, Rekayasa Batang Air Dingin Dikebut Antisipasi Hujan Ekstrem Desember

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
BWS Sumatera Barat percepat normalisasi dan rekayasa aliran Sungai Batang Air Dingin senilai Rp380 miliar di Kota Padang guna mengantisipasi ancaman banjir dan cuaca ekstrem Desember 2026. Foto: Dok. Tim Media Satgas PRR
zoom-in-whitePerbesar
BWS Sumatera Barat percepat normalisasi dan rekayasa aliran Sungai Batang Air Dingin senilai Rp380 miliar di Kota Padang guna mengantisipasi ancaman banjir dan cuaca ekstrem Desember 2026. Foto: Dok. Tim Media Satgas PRR

Pemulihan pascabencana hidrometeorologi di Sumatera makin gencar. Di bawah koordinasi Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, pemulihan ditujukan antara lain untuk mengembalikan ketahanan lingkungan serta melindungi secara berkelanjutan keselamatan masyarakat dari ancaman bencana berulang.

Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera Barat termasuk yang kini sedang berada dalam pekerjaan besar ini. Mereka menunjukkan komitmen percepatan serta akuntabilitas pemanfaatan anggaran melalui penataan menyeluruh dan rekayasa aliran sungai di Kota Padang.

Total alokasi rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) pascabencana untuk dua sungai utama (Batang Kuranji dan Batang Air Dingin) di Kota Padang mencapai Rp782 miliar. Porsi sebesar Rp380 miliar dikonsentrasikan khusus untuk penanganan fisik Batang Air Dingin beserta anak sungai. Selain itu diperoleh juga dukungan awal Kementerian Pekerjaan Umum (PU) pada Tahun Anggaran 2026 sebesar Rp45,6 miliar untuk pembangunan pengendalian banjir dan sedimen Batang Air Dingin dan anak sungainya.

Pekerjaan fisik sektor sumber daya air ini berlokasi persis di sepanjang koridor Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Air Dingin. Ini mencakup titik kritis di kawasan permukiman Lumin Park, Sungai Lareh, Lubuk Minturun, Kecamatan Koto Tangah, hingga ke muara Muaro Panjalinan, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat. Normalisasi aliran sungai ini menembus panjang 5,7 kilometer untuk pengerukan endapan material pasir.

Urgensi perbaikan dan rekayasa sungai di titik ini sangat mendesak menyusul rentetan bencana banjir berulang. Pengerukan sedimen pascabencana November 2025 tercatat telah mengeluarkan 700 ribu meter kubik pasir, disusul munculnya kembali sedimen baru sebanyak 500 ribu meter kubik saat banjir berulang Oktober 2026.

Di kawasan permukiman Lumin Park, kondisi luapan air berada pada tingkat kedaruratan tinggi karena berpotensi membuat satu perkampungan hanyut dan tenggelam bila penanganan terlambat dilakukan.

Merespons kondisi tersebut, tahapan penanganan permanen yang semula ditargetkan pada November 2026 dieksekusi lebih awal pada Oktober 2026. Sebanyak 30 unit alat berat telah diterjunkan ke lapangan dan akan terus ditambah guna mempercepat pengerjaan secara paralel dari hulu hingga hilir.

Struktur penanganan fisik mencakup pembangunan bendung penahan material (check dam), kantong sedimen (sand pocket), dua titik perkuatan tebing (revetment), hingga pembuatan jalan inspeksi.

Pengerjaan ini memberikan dampak manfaat nyata bagi masyarakat; selain menyelamatkan perkampungan warga Lumin Park dari ancaman luapan hulu, aktivitas perdagangan masyarakat muara Muaro Panjalinan kembali pulih. Material pasir kerukan dikoordinasikan penempatannya bersama Pemko Padang agar bernilai guna menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD).

"Lahan terdampak bekas banjir nantinya akan kita pertahankan menjadi daerah bukaan baru, serta kalau ada penyempitan akan kita potong,” kata . Reski Wahyudi selaku Pelaksana Tugas kepala BWS V Sumbar.

“Rekayasa sungai Batang Air Dingin membutuhkan ruang (space) minimal untuk antisipasi puluhan tahun mendatang. Untuk rumah warga yang terdampak, saat ini masih dalam pendataan, namun titik-titik yang menjadi fokus saat ini masih bisa dimaksimalkan untuk percepatan penanganan," lanjut Reski Wahyudi.

Reski mengantisipasi akan terjadi lagi hujan besar pada bulan Desember. Ini merupakan tantangan cuaca yang harus dihadapi.

"Secara teknis, untuk mengatasi hal serupa kita membutuhkan pengendali sedimen di bagian hulu, supaya saat terjadi hujan sedimen tidak turun lagi. Itu yang kami kejar dalam satu tahun anggaran untuk menyiapkan desain ideal yang bisa kita pertanggungjawabkan secara teknis. Dari waktu yang harusnya empat tahun, kami pangkas menjadi satu tahun untuk mempersiapkan desain dan lain-lain,” kata dia.

BWS Sumatera Barat percepat normalisasi dan rekayasa aliran Sungai Batang Air Dingin senilai Rp380 miliar di Kota Padang guna mengantisipasi ancaman banjir dan cuaca ekstrem Desember 2026. Foto: Dok. Tim Media Satgas PRR

“Pengerjaan ini akan kami lakukan secara komprehensif mengingat laporan BMKG memprediksi pada pertengahan Desember 2026 akan terjadi hujan besar lagi di Sumbar, khususnya Kota Padang. Jadi, kita sedang berpacu dengan waktu untuk mengangkut sedimentasi, menyiapkan check dam, dan penguatan tebing," lanjut dia.

Strategi pemulihan fisik di Batang Air Dingin ini sepenuhnya bersumber dan mengacu pada Rencana Induk (Renduk) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (PRRP) Sumatera 2026–2028. Dalam kerangka kerja Renduk, pemulihan sistem sungai dan pengendalian risiko banjir berbasis risiko diarahkan untuk memulihkan fungsi hidrologis dalam satu kesatuan DAS dengan memegang teguh prinsip Build Back Better, Safer, and Sustainable (BBBSS).

Strategi ini dilaksanakan melalui penanganan perubahan morfologi alur sungai pascabencana, penyesuaian desain kapasitas sungai yang adaptif perubahan iklim, rehabilitasi dan penguatan tanggul serta tebing pada segmen kritis, pembangunan pengendali sedimen dan sabo dam di hulu, serta pengerukan dasar dan muara sungai secara berkala.

Renduk juga menetapkan arahan tata ruang berbasis Zona Rawan Bencana (ZRB) dengan memprioritaskan pemanfaatan ruang sempadan sungai sebagai kawasan lindung, sabuk hijau, dan zona penyangga (buffer zone) guna mengendalikan ekspansi permukiman di kawasan berisiko tinggi.

Secara makro, data dukung pemulihan pascabencana memperlihatkan beban penanganan lintas sektor yang masif di tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional.

Di tingkat Kota Padang, meskipun pemenuhan sarana darurat telah selesai penuh, penanganan fisik jangka panjang terus dipacu di mana progres normalisasi aliran sungai baru terealisasi 17,24 persen (10 dari 58 titik selesai) dan progres fisik hunian tetap mencapai 9,2 persen (346 dari 3.742 unit).

Pada tingkat regional Provinsi Sumatera Barat, dokumen Rencana Induk mencatat kebutuhan pendanaan sektor infrastruktur mencapai Rp14,85 triliun (dengan alokasi 3 tahun kewenangan daerah di Sumbar untuk infrastruktur sebesar Rp7,66 triliun dalam 376 kegiatan) serta sektor perumahan/permukiman sebesar Rp1,44 triliun.

Pada tingkat nasional, pemerintah menyiapkan anggaran menyeluruh Rp100,1 triliun selama tiga tahun berdasarkan Rencana Induk untuk percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi di tiga provinsi. Pagu efektif penanganan bencana Sumatera di Kementerian PU sebesar Rp21,42 triliun dengan porsi sektor sumber daya air mencapai Rp7,85 triliun guna menangani infrastruktur perairan dan pengendali lahar.

Menteri Dalam Negeri selaku Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, mengakui tingginya tantangan cuaca ekstrem, tingginya sedimentasi, dan ancaman banjir bandang yang dihadapi dalam proses pemulihan di wilayah barat Sumatera.

"Jadi memang ironis di pulau Sumatera di sebagian timur kekurangan air dan menyebabkan karhutla, di bagian sebelah utara dan barat itu masih hujan. Contohnya di Kota Padang terjadi banjir bandang, kemudian di Solok, Tapanuli Tengah. Di Aceh sendiri, Aceh Tenggara banjir bandang, kemudian di jalan-jalan yang sudah dibangun, jembatan, itu juga banyak yang rusak kembali," tuturnya.

"Begitu sedimennya tinggi, ada curah hujan tinggi, dia meluber menjadi banjir. Artinya ada terus susulan-susulan bencana, dan kita sedang bekerja (mengatasinya)," pungkasnya.