Bupati Fawait Libatkan Pesantren dan Guru Ngaji dalam Pembangunan Jember
·waktu baca 2 menit

Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, terus berupaya memperluas akses partisipasi masyarakat dari berbagai lapisan. Termasuk kalangan pondok pesantren dan guru ngaji.
Hal itu dikemukakan oleh Bupati Jember, Muhammad Fawait atau Gus Fawait, melalui keterangannya usai membentuk Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) sekaligus juga Forum Komunikasi Guru Ngaji (FKGN).
"Kami ingin pembangunan Jember melibatkan banyak pihak termasuk guru ngaji dan pondok pesantren," terangnya, Selasa (16/6).
Keberadaan pesantren sangat lekat hubungannya dengan kehidupan masyarakat kota tembakau. Secara historis maupun kultural tertaut erat.
Gus Fawait pun menilai pesantren dan guru ngaji merupakan entitas penting. Pasalnya, keduanya menempati posisi dalam struktur sosial sampai ke akar rumput.
Jumlah pesantren yang terdeteksi oleh Kemenag mencapai 773 lembaga. Lebih dari tiga kali lipat jumlah desa dan kelurahan se-Jember.
Guru ngaji yang terdata di Pemkab Jember menembus angka 21 ribu orang. Setara dengan rata-rata 85 orang yang tersebar di 248 desa dan kelurahan.
Bagi Gus Fawait, pelibatan pesantren bersama guru ngaji sangat strategis. Manfaat untuk Pemkab Jember bisa mempermudah mendeteksi sekaligus menyerap aspirasi masyarakat.
Selaku pengambil kebijakan, Gus Fawait merasa bakal lekas memperoleh gambaran komprehensif tentang kebutuhan masyarakat untuk bahan menyusun program yang tepat.
"Saya berharap guru ngaji membantu kami untuk membangun Jember. Forum ini menjadi komunikasi antara Pemkab dengan semua elemen masyarakat," jelasnya.
Seluruh instansi di lingkungan Pemkab Jember oleh Gus Fawait diminta menjalin hubungan harmonis dengan pesantren dan guru ngaji. Memposisikan mereka sebagai subjek, bukan lagi objek pembangunan.
"Ke depan tidak ada pembatas. Kita melibatkan pondok pesantren dan guru ngaji agar para santri bisa mendapatkan hak dan akses yang sama, untuk program-program Pemkab Jember," tutur Gus Fawait.
Ke depan, Pemkab Jember mempersiapkan pesantren sebagai pusat pemberdayaan masyarakat. Bahkan, pesantren menjadi bagian dalam distribusi lapangan kerja.
Melalui kerja sama dengan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Pemkab Jember menyiapkan program pelatihan khusus untuk santri menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang kompeten.
"Seperti yang disampaikan Pak Wamen P2MI kemarin, kita pastikan santri yang ingin jadi PMI bisa kita fasilitasi. Jadi, bukan cuma bantuan kepada pondoknya saja, tetapi juga kepada santrinya," pungkas Gus Fawait.
