Di Tengah Penanganan Gempa, Tawa Anak-anak Menjadi Tanda Harapan di NTT

Langit biru membentang di atas pesisir Labuan Bajo. Embusan angin terasa sejuk, sementara suara deburan ombak berpadu dengan tawa anak-anak yang bermain dan bercanda.
Sejenak, suasana itu membuat mereka melupakan pengalaman menghadapi bencana yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur.
Di tempat tersebut, anak-anak dari Madrasah Nurul Iman, SDI Munting Kajang, SDK Sok Rutung, hingga SLB Negeri Komodo mengikuti Layanan Dukungan Psikososial (LDP) yang digelar KemeKemensos, Rabu (16/9/2026).
Mereka tidak hanya bermain. Anak-anak juga diajak mengobrol ringan, mengikuti sesi tanya jawab santai, bernyanyi bersama, hingga menerima hadiah hiburan. Lagu “Di Sini Senang, Di Sana Senang” serta berbagai lagu lain dinyanyikan bersama, menghadirkan suasana hangat dan penuh keceriaan.
Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemensos Fatma Saifullah Yusuf bersama Wakil Penasihat DWP Kemensos Intan Agus Jabo turut hadir dalam kegiatan tersebut. Keduanya berinteraksi langsung dengan anak-anak sekaligus menyerahkan santunan dan bantuan bagi masyarakat terdampak bencana.
"Hari ini kami mengadakan kegiatan sosial bagi masyarakat yang terdampak gempa, banjir dan kebakaran, khususnya di Manggarai Barat dan Manggarai Timur," jelas Fatma.
Kehadiran Kemensos tidak hanya membawa bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memastikan anak-anak dan kelompok rentan tetap mendapatkan perhatian dalam proses pemulihan pascabencana.
Dalam kegiatan bertema “Menguatkan Sesama, Menumbuhkan Harapan”, Kementerian Sosial menyalurkan bantuan dengan total nilai Rp1.215.280.000.
Bantuan tersebut mencakup santunan bagi 16 korban meninggal dunia dan 42 korban luka dengan total nilai Rp 450 juta.
Khusus bagi masyarakat di Kabupaten Manggarai Barat, Kemensos menyalurkan bantuan senilai Rp156.200.000. Bantuan tersebut terdiri atas santunan bagi dua korban meninggal dunia, 300 paket sembako, serta 200 paket perlengkapan sekolah.
Selain itu, Kemensos juga menyalurkan bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) senilai Rp609.080.000 bagi masyarakat di Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, Ngada, dan Nagekeo.
Bantuan ATENSI ditujukan untuk mendukung kebutuhan masyarakat, khususnya kelompok rentan, sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabencana.
Perhatian juga diberikan kepada penyandang disabilitas dan lanjut usia melalui bantuan ATENSI berupa dua kursi roda cerebral palsy, sembilan alat bantu dengar, bantuan nutrisi, dan hygiene kit.
Sementara untuk mendukung kebutuhan masyarakat lainnya, bantuan yang disalurkan juga mencakup 20 pax masker, 420 amplop bantuan tunai, serta 400 tumbler.
Dengan demikian, bantuan Kemensos dalam kegiatan tersebut terdiri atas Rp 450 juta untuk santunan korban meninggal dunia dan luka, Rp 156,2 juta untuk bantuan bagi masyarakat Kabupaten Manggarai Barat, serta Rp 609,08 juta untuk bantuan ATENSI di empat kabupaten, dengan total keseluruhan mencapai Rp 1.215.280.000.
Bantuan tersebut disalurkan berdampingan dengan dukungan dari berbagai organisasi dan komunitas yang turut mengambil bagian dalam penanganan dampak bencana.
Palapa (Perempuan Laju Perkasa) Peduli NTT memberikan bantuan kemanusiaan berupa makanan siap saji, barang maupun uang tunai senilai Rp82.120.000. Sahabat Wonderful, Kartini dan Lovely senilai lebih dari Rp.100.000.000 serta Rotary Club of Jakarta Menteng senilai Rp 27 juta, di berikan secara langsung kepada masyarakat dan melalui beberapa organisasi Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI), PMKRI, Persatuan Cricket Indonesia Provinsi NTT, Lamahu dan lainnya.
Keterlibatan berbagai pihak menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak berhenti pada bantuan yang diberikan pemerintah. Semangat gotong royong terus bergerak melalui organisasi, komunitas, dan masyarakat yang bersama-sama berupaya meringankan beban penyintas.
Ketua Umum Palapa Hetty Andika Perkasa mengatakan, meskipun kehadiran sejumlah pihak dalam kegiatan tersebut dilakukan secara simbolis, dukungan untuk masyarakat terdampak bencana tetap berjalan melalui para relawan di lapangan.
"Kita memang hanya hadir hari ini, karena hanya secara simbolis, tapi setiap hari teman-teman kita di lapangan tetap membagikan bantuan yang kita bawa," imbuh Hetty.
Sementara itu, di tengah rangkaian penyaluran bantuan, suasana terasa berbeda ketika Fatma dan Intan bercengkerama dengan anak-anak. Tidak ada jarak. Anak-anak bebas bercerita, menjawab pertanyaan, dan tertawa bersama.
Bagi mereka, momen sederhana seperti mengobrol dan bernyanyi bersama menjadi kesempatan untuk kembali merasakan suasana yang menyenangkan setelah menghadapi situasi bencana.
"Saya lihat anak-anak sudah gembira, sudah lebih baik kondisinya dan semuanya sehat. Itu yang patut kita syukuri," ucap Fatma.
Melalui LDP, anak-anak juga diperkenalkan pada pengetahuan dasar kebencanaan. Mereka belajar mengenai hal-hal yang perlu dilakukan ketika gempa terjadi, sekaligus mendapatkan ruang untuk mengekspresikan perasaan melalui permainan dan aktivitas bersama.
Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam pemulihan anak setelah bencana. Sebab, selain kebutuhan fisik, anak-anak juga membutuhkan rasa aman, perhatian, dan kesempatan untuk kembali menjalani aktivitas dengan ceria.
Kegiatan turut dihadiri oleh Ketua Wonderful Hana Hasanah Fadel, President Rotary Club of Jakarta Menteng Laxmi Jaiswal, serta perwakilan Lovely, Lamahu, Sahabat Kartini dan IWAPI serta berbagai pihak yang mendukung upaya pemulihan pascabencana.
Hari itu, bantuan memang menjadi bagian penting dari penanganan dampak bencana. Namun, di pesisir Labuan Bajo, ada hal lain yang tidak kalah berarti: anak-anak kembali tertawa, bernyanyi, bermain, dan berani bercerita.
Di tengah proses pemulihan, tawa mereka menjadi tanda bahwa harapan masih tumbuh. Dan harapan itu dijaga melalui kepedulian yang hadir bersama, dari pemerintah, masyarakat, komunitas, hingga para relawan.
