Kumparan Logo

Ego Besar yang Merusak Akhir Indah Karier Cristiano Ronaldo

kumparanBOLAverified-green

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Cristiano Ronaldo merayakan kemenangan Al Nassr setelah pertandingan melawan Abha. Foto: Hamad I Mohammed/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Cristiano Ronaldo merayakan kemenangan Al Nassr setelah pertandingan melawan Abha. Foto: Hamad I Mohammed/REUTERS

Cristiano Ronaldo memicu krisis akhir karier yang pelik bersama tim nasional Portugal akibat perselisihan tajam dengan pelatihnya baru-baru ini. Megabintang berusia 41 tahun tersebut kini berada di ambang perpisahan yang menyakitkan setelah menolak kenyataan bahwa fisiknya mulai tergerus usia. Sikap keras kepala ini membuat akhir perjalanan sang legenda tidak lagi seindah yang diharapkan para penggemar sepak bola.

Ketegangan memuncak ketika sang penyerang menunjukkan rasa frustrasi ekstrem hingga sempat meninggalkan kamp latihan tim nasional di tengah situasi krusial. Alih-alih menerima peran baru sebagai pemain pengganti, mantan pilar Real Madrid tersebut justru memilih menentang keputusan taktis demi mengejar rekor pribadi 1000 gol.

Keangkuhan yang Merusak Akhir Indah Sang Legenda

Konflik internal dengan pelatih Jorge Jesus menjadi pemantik utama retaknya hubungan harmonis yang sebelumnya terjalin sangat erat. Sang juru taktik awalnya didatangkan ke Al-Nassr atas rekomendasi langsung Ronaldo sebelum akhirnya hubungan profesional mereka berubah menjadi medan pertempuran ego. Ronaldo sempat menyatakan bahwa dirinya akan “mengungkapkan kebenaran pada waktu yang tepat” guna meluruskan segala tudingan miring yang menyudutkan namanya.

Rasa bangga berlebihan yang dahulu membantu mantan pemain Manchester United ini bangkit dari cedera kini justru berbalik menjadi belenggu yang membutakan batas kemampuannya. Pada usia berkepala empat, tidak ada jaminan bagi pesepak bola mana pun untuk terus mempertahankan status sebagai pilihan utama di atas lapangan hijau. Penolakan terhadap kenyataan biologis inilah yang membuat babak penutup karier internasionalnya terasa begitu hambar dan penuh friksi.

Belajar dari Keputusan Cerdas Lionel Messi

Pemandangan kontras terlihat jelas dari cara rival abadinya yaitu Lionel Messi dalam menentukan momen terbaik untuk gantung sepatu. Pemain jenius asal Argentina tersebut memilih mengakhiri petualangan internasionalnya pada usia 39 tahun setelah melewati laga final Piala Dunia yang dramatis melawan Spanyol. Messi memutuskan pergi bukan karena terusir oleh performa buruk atau instruksi pelatih, melainkan karena kesadaran penuh bahwa kisahnya telah tuntas.

Penghormatan besar akan segera tersaji ketika peraih Ballon d'Or tersebut memainkan laga perpisahan emosional melawan Benin di Stadion Monumental pekan depan. Ronaldo kemungkinan besar akan merasakan penyesalan mendalam saat menyaksikan rivalnya pergi dengan kepala tegak dalam pelukan hangat pendukung setianya. Perbedaan mencolok ini memperlihatkan betapa pentingnya bagi seorang bintang besar untuk mengetahui kapan harus meletakkan senjatanya.

Ketelatan Zidane dan Kebijaksanaan Mutlak Pele

Legenda sepak bola Prancis yaitu Zinedine Zidane juga memberikan contoh nyata mengenai pentingnya batas waktu meski dengan akhir yang kurang sempurna. Meskipun ternoda oleh kartu merah akibat insiden tandukan di final Piala Dunia 2006, gelandang elegan tersebut tetap memilih pensiun pada usia 34 tahun sebelum menjadi pemain semenjana. Zidane menolak berjuang keras hanya untuk membuktikan kelayakannya di tim nasional ketika fisiknya sudah tidak lagi mendukung performa puncaknya.

Langkah paling bijaksana ditunjukkan oleh ikon sepak bola dunia asal Brasil yaitu Pelé yang memilih pensiun internasional pada usia sangat muda. Setelah membawa negaranya merengkuh trofi Piala Dunia ketiga pada tahun 1970, sang striker legendaris memutuskan menyudahi kariernya satu tahun kemudian saat baru menginjak usia 30 tahun. Pelé sengaja menutup pintu sendiri demi menjaga kesucian warisannya agar tidak sempat tergerus oleh penurunan performa akibat usia senja.