Hari Kedua Pencarian KM Virgo 8: 114 Dievakuasi, 129 Masih Dicari

Operasi pencarian dan pertolongan kecelakaan KMP Virgo Transport 8 memasuki hari kedua pada Senin (14/9). Hingga malam, sebanyak 114 orang telah ditemukan dan dievakuasi, terdiri dari 108 orang selamat dan 6 orang meninggal dunia.
Sementara itu, 129 orang lainnya masih dalam pencarian dari total 243 orang yang tercatat dalam manifes kapal.
Basarnas memperluas pencarian dengan membagi wilayah operasi menjadi enam sektor. Pencarian di permukaan laut tetap dilakukan, sementara operasi bawah laut yang sedianya dimulai pada hari kedua ditunda karena kondisi cuaca.
Basarnas Bagi Pencarian Jadi 6 Sektor
Pada hari kedua, Basarnas mengubah pola operasi dari respons awal menjadi pencarian yang lebih sistematis dan terkontrol. Area pencarian laut mencapai sekitar 2.600 mil laut persegi.
Pencarian dilakukan dengan mempertimbangkan posisi terakhir kapal, lokasi penemuan korban selamat, prediksi pergerakan korban melalui SARMAP Prediction, serta informasi terbaru dari lapangan.
Enam sektor pencarian melibatkan sejumlah kapal, antara lain KRI Nala, KRI Pulau Fani-732, KN SAR Laksamana 241, KRI Canopus, KN SAR Wisanggeni, dan KRI GNR.
Operasi juga didukung tiga unsur udara, yakni pesawat HR 3601 Basarnas, helikopter Dauphin Mabes Polri 3103, dan pesawat CN-235 TNI AL. Ketiganya digunakan untuk pencarian visual, mendeteksi korban selamat maupun objek terapung, serta mengembangkan informasi pencarian.
Kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan dalam pencarian. Prakiraan pada Senin menunjukkan angin 15-25 knot, arus 0,4-1,2 knot, dan gelombang dalam kategori moderat.
114 Orang Ditemukan, 129 Masih Dicari
Hingga hari kedua operasi, Basarnas mencatat 114 orang telah ditemukan. Sebanyak 108 orang dievakuasi dalam kondisi selamat, sedangkan 6 orang ditemukan meninggal dunia.
Dari total 243 orang yang tercatat dalam manifes KMP Virgo Transport 8, sebanyak 129 orang masih dalam pencarian.
Pencarian terhadap korban yang masih hilang terus dilakukan terutama di permukaan air. Setiap temuan baru menjadi bahan evaluasi untuk menyesuaikan area operasi berdasarkan pergerakan arus dan angin.
Bangkai Kapal Bergeser 1,6 Mil Laut
Selain pencarian korban, posisi bangkai KMP Virgo Transport 8 juga menjadi perhatian tim SAR. Kapal yang berada dalam kondisi terbalik masih bergerak dan telah bergeser sekitar 1,6 *nautical mile* dari titik sebelumnya.
Kabasarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan kapal berada di kedalaman sekitar 30 meter dan masih memiliki sejumlah sekat atau ruang kosong.
“Saya sampaikan posisi datum atau titik letak dari Kapal Virgo Transport 8 ini ada pergeseran. Dari yang kemarin saya sampaikan, saat ini sudah bergeser kira-kira 1,6 nautical mile dalam kondisi terbalik,” kata Syafii.
Menurut Syafii, keberadaan ruang kosong di dalam kapal membuat bangkai kapal masih dapat bergerak melayang di bawah permukaan laut. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam pencarian.
“Artinya bahwa kapal ini di dalamnya masih ada sekat-sekat atau ruang-ruang kosong sehingga memungkinkan kapal ini masih bisa bergeser melayang. Dan ini menjadi kesulitan yang kedua,” ujarnya.
Kondisi tersebut juga membuat proses penyelaman harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Perubahan tekanan dapat terjadi apabila penyelam membuka sekat atau memasuki ruang kosong tertentu.
“Nah begitu juga pada saat ada ruang-ruang di kapal yang kosong ini, kalau kita sampai memaksakan untuk masuk, apabila kita membuka misalkan salah satu sekat dari ruang kosong ini, di situ ada perubahan tekanan yang luar biasa, tentunya ini akan sangat membahayakan,” jelasnya.
Pencarian Bawah Laut Ditunda karena Cuaca
Basarnas sebenarnya telah menyiapkan tim penyelam dari Kopaska TNI AL, unsur penyelam TNI AL, dan Basarnas Special Group (BSG) untuk melakukan pencarian bawah laut.
Namun, kondisi cuaca membuat penyelaman belum dapat dilakukan pada Senin.
“Karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan sehingga teman-teman yang sudah kita siapkan, baik itu dari Kopaska TNI AL, kemudian ada satu tim penyelam khusus juga dari disiapkan dari TNI AL, kemudian dari teman-teman Badan SAR Nasional, hari ini belum bisa kita turunkan karena memang kondisi cuaca,” kata Syafii.
Pencarian bawah laut direncanakan dilanjutkan pada Selasa (15/9), setelah KRI Canopus tiba di lokasi. Kapal tersebut membawa sejumlah teknologi pendukung, antara lain drone bawah laut, Multibeam Echo Sounder, dan remotely operated vehicle* (ROV).
“Kita merencanakan bahwa KRI Canopus yang masih dalam perjalanan, mudah-mudahan besok pagi sudah sampai di lokasi dan tahapan operasi yang akan kita laksanakan, kita akan melaksanakan pencarian underwater dengan menggunakan teknologi yang dimiliki oleh Kapal Canopus tersebut,” ujar Syafii.
Sambil menunggu pencarian bawah laut, tim SAR tetap melakukan penyisiran di permukaan air.
Puan Minta Tak Ada Korban Terlewat
Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pencarian dan penyelamatan korban KMP Virgo Transport 8 dilakukan secara maksimal hingga tuntas.
Puan meminta Basarnas, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), serta seluruh pihak terkait mengoptimalkan operasi pencarian terhadap korban yang belum ditemukan.
“Saya minta Basarnas, KSOP, dan seluruh pihak terkait untuk terus memprioritaskan dan mengoptimalkan operasi pencarian serta penyelamatan terhadap korban yang masih belum ditemukan,” tegas Puan.
Ia juga meminta proses evakuasi dan pendataan dilakukan secara menyeluruh dan akurat agar seluruh penumpang KMP Virgo Transport 8 diketahui keberadaannya.
“Proses evakuasi dan pendataan yang masih berlangsung ini harus dikawal sampai tuntas, jangan sampai ada korban yang terlewat dari pencarian,” ungkap Puan.
Puan turut menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan meminta pemerintah segera melakukan investigasi menyeluruh untuk mengetahui penyebab kecelakaan, termasuk kemungkinan faktor alam, teknis, maupun manusia.
“Pemerintah agar segera melakukan investigasi menyeluruh atas penyebab kecelakaan ini, baik dari faktor alam, teknis, maupun manusia,” sebut Puan.
Menurut Puan, investigasi tersebut diperlukan sebagai bahan evaluasi untuk mencegah kecelakaan serupa kembali terjadi.
“Kejadian kecelakaan di laut sudah terlalu sering berulang, dan ini tidak boleh dibiarkan terus terjadi,” ujar Puan.
Ia juga mendorong perbaikan menyeluruh terhadap sistem keselamatan pelayaran nasional.
“Saya minta ada perbaikan sistem keselamatan pelayaran nasional secara menyeluruh, agar peristiwa serupa tidak kembali memakan korban jiwa,” pungkas Puan.
Kapal Berusia 39 Tahun, Perusahaan Bantah Jadi Patokan
Di tengah proses pencarian, usia KMP Virgo Transport 8 turut menjadi sorotan. Berdasarkan data VesselFinder, kapal dengan nama Virgo Transport 8 dan nomor IMO 8625179 tersebut diproduksi pada 1987. Dengan demikian, usia kapal mencapai sekitar 39 tahun pada 2026.
General Manager PT Virgo Karya Shipping, Yoel Rihi, mengatakan usia kapal tidak dapat dijadikan patokan untuk menentukan penyebab kecelakaan. Menurut dia, berbagai komponen kapal dapat diperbaiki atau diganti.
"Nah, ini sebenarnya mau saya luruskan. Untuk kapal ini jangan kita perlakuan itu seperti manusia. Barang-barang organik. Makin tua itu makin jelek. Kapal itu mesin, mesin itu bisa di re-build, mesin itu bisa di-tuning up lagi, bisa diganti. Plat yang tipis pun bisa di-double," kata Yoel.
Ia mengatakan perusahaan tidak akan mengoperasikan kapal yang tidak memenuhi ketentuan.
"Kita enggak mungkin berani memelayarkan kapal yang tidak sesuai dengan perundang-undangan. Tentu, banyak penyesuaian yang perlu dilakukan. Itu sudah kita lakukan, sudah sesuai standar, maka kita bisa putuskan kapal itu siap berlayar," ucapnya.
Terkait penyebab kecelakaan, Yoel menyebut dugaan awal mengarah pada kondisi gelombang dan cuaca buruk. Namun, pernyataan tersebut masih berupa dugaan awal.
"Kalau untuk dugaan awal ini ya, ini masih dugaan awal, ini tuh karena cuacanya buruk, gelombang. Saya dapat laporan itu jam 01.00 itu karena ada gelombang. Sesuai dengan laporan dari Basarnas juga memang posisi gelombang itu sekitar 1,5 sampai 2,5 meter. Itu kondisi moderat, sih," ujar dia.
"Memang sesuai pas dicek, di-cross-check pun memang segitunya kondisinya. Emang dugaan pertama ini gara-gara gelombang, itu aja, cuaca buruk," imbuhnya.
Penyebab pasti kecelakaan masih menjadi bagian dari proses investigasi.
Pencarian Berlanjut hingga Hari Ketiga
Dengan 129 orang masih dalam pencarian, operasi SAR akan berlanjut. Fokus pencarian tetap dilakukan di permukaan laut sembari tim mempersiapkan pencarian bawah laut.
Kondisi bangkai kapal yang masih bergerak menjadi salah satu pertimbangan penting. Basarnas bersama TNI AL juga mempertimbangkan sejumlah opsi terkait posisi kapal, termasuk kemungkinan mengubah posisi kapal agar lebih mudah ditangani.
“Bahkan kita berpikir bagaimana kita bisa mengubah posisi dari tengkurapnya kapal ini untuk kita balik. Itu yang pertama,” tutur Syafii.
Tim juga mempertimbangkan opsi menarik kapal dari lokasinya. Namun, seluruh langkah masih dikaji dengan memperhatikan kondisi bangkai kapal dan keselamatan operasi.
Hingga Senin malam, 114 orang telah ditemukan, 108 selamat, 6 meninggal dunia, dan 129 lainnya masih dalam pencarian. Operasi SAR dijadwalkan berlanjut pada hari ketiga dengan pencarian bawah laut menggunakan dukungan teknologi dari KRI Canopus, jika kondisi memungkinkan.
