Langkah-langkah Pemerintah Hadapi Karhutla

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago menyampaikan keterangan pers usai rapat koordinasi penanganan kebakaran hutan dan lahan di Gedung Utama Kemenko Polkam, Jakarta, Senin (10/8/2026). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago menyampaikan keterangan pers usai rapat koordinasi penanganan kebakaran hutan dan lahan di Gedung Utama Kemenko Polkam, Jakarta, Senin (10/8/2026). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang meningkat saat musim kemarau ditambah fenomena El Nino.

Apa saja langkah-langkah yang dilakukan? Berikut kumparan rangkum.

107 Ribu Hektare Hutan Terbakar

Sejumlah petugas gabungan berupaya memadamkan Karhutla di Jambi. Foto: Dok. Istimewa

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam), Djamari Chaniago membuka data terkait karhutla. Ia menyebut, saat ini, total terdapat 107 ribu hektare luas lahan hutan Indonesia terbakar.

“Sampai dengan hari ini, wilayah kita di Indonesia ini yang terbakar hutan 107 ribu hektare sampai dengan hari ini,” ujar Djamari saat konferensi pers di kantor Kemenko Polkam, Jakarta, Senin (10/8).

Dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tengah berlangsung, operasi udara dan darat dilakukan secara paralel untuk memadamkan titik api.

Di udara, 43 helikopter dikerahkan untuk lebih fleksibel mencapai area titik api dan menyemburkan air.

“Sebagai catatan, dalam melaksanakan operasi udara yang dilakukan oleh satgas udara, kita mengerahkan sekitar 43 helikopter,” ucapnya.

Sementara di darat, upaya terbatas pada sumber perairan darat dan pengerahan unit flexible tank. Metode ini dibantu oleh pembukaan sumur-sumur di sekitar lokasi kebakaran.

“Sementara air sudah kurang di darat kita temukan tapi kita masih punya menggunakan flexible tank yang bisa kita bawa,” sambungnya.

“Bahkan, kita juga bisa membuat sumur di daerah-daerah itu. Sumur buatan yang bisa mengeluarkan air,” lanjutnya.

Terkait efektivitas kedua metode tersebut, Djamari menyebut operasi udara lebih ampuh untuk lebih cepat memadamkan titik api.

“Upaya paling tepat adalah yang efektif operasi udara sebenarnya sangat efektif membuat hujan buatan oleh BNPB,” ungkapnya.

Waspadai Ancaman El Nino Terkuat

Ilustrasi El Nino. Foto: Toa55/Shutterstock

Djamari juga menjelaskan jika saat ini Indonesia tengah menghadapi ancaman El Nino terkuat.

“El Nino itu ada yang dimulai sampai dengan yang terkuat. El Nino terkuat itu adalah suatu keadaan di mana sangat membuat kekeringan dan mudah sekali kebakaran. Kemarau akan lebih panjang,” terangnya.

Menurutnya kondisi ini sangat berpengaruh pada lambannya pemadaman kebakaran hutan yang tengah diupayakan.

“Cuaca ini sangat sangat menentukan upaya keberhasilan kita,” ujarnya.

Petakan Wilayah Rawan Karhutla

Petugas Manggala Agni Daops Kota Jambi memadamkan api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut Desa Gambut Jaya, Muaro Jambi, Jambi, Kamis (24/7/2025). Foto: Wahdi Septiawan/ANTARA FOTO

Djamari menyebut terdapat 6 provinsi yang dipantau ketat karena rawan kebakaran hutan. Provinsi-provinsi yang dimaksud meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

“Kemudian, dari daerah yang kita waspadai sebagai daerah yang paling kritis. Ada 6 provinsi,” ujar Djamari.

“Yang kita waspadai di 6 provinsi itu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalbar, Kalteng, dan Kalsel,” sebutnya.

Namun demikian, dari seluruhnya, Djamari menyebut pemerintah telah melakukan upaya pemadaman secara optimal dan mengendalikan kebakaran yang terjadi agar tidak meluas.

Teranyar, seperti di Gunung Bromo dan Gunung Gede Pangrango, ia sebut titik api telah dipadamkan.

“Itupun sudah kita kendalikan semuanya. Seperti misalnya di Bromo, Semarang, di Jawa Barat juga sudah diselesaikan itu Gede Pangrango. Kemudian di sekitar Jambi juga sudah selesai,” ujarnya.

Siapkan Skema Modifikasi Cuaca

Prajurit TNI AU menaburkan garam saat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan menggunakan pesawat NC-212i Cassa di kawasan udara Kalimantan Tengah, Selasa (9/7/2024). Foto: Auliya Rahman/ANTARA FOTO

Djamari menekankan pentingnya keberadaan awan hujan sebagai syarat mekanisme hujan buatan. Menurutnya, pemadaman karhutla dengan metode operasi udara lebih efektif lewat pemanfaatan mekanisme rekayasa hujan buatan.

“Melihat situasi seperti sekarang ini, upaya paling tepat adalah yang efektif operasi udara sebenarnya sangat efektif membuat hujan buatan oleh BNPB,” ujarnya.

Namun, satu masalah vital dari metode ini adalah syarat adanya awan hujan. Awan hujan adalah satu-satunya tipe awan yang dapat disemai.

“Tetapi ada satu persyaratan yang harus kita hadapi yaitu kita harus menemukan ada awan hujan. Selama awan hujan itu tidak ada, kita tidak bisa membuat hujan buatan,” lanjutnya.

Sementara mengamati kondisi cuaca, unit pemadam bersiaga terhadap perubahan cuaca agar sesegera mungkin awan hujan muncul, operasi hujan buatan langsung dilaksanakan.

Melalui riset yang dilakukan pemerintah, terdapat potensi 3-4 hari awan hujan akan muncul sepekan ke depan yang mesti dimanfaatkan secara optimal dalam memadamkan titik-titik api yang tersisa.

Kebakaran Gunung Bromo Tinggal Satu Titik Api Lagi

Kebakaran hutan membumbung di atas kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dekat Gunung Bromo di Probolinggo, Jawa Timur, Senin (10/8/2026). Foto: Juni Kriswanto/AFP

Djamari juga menyinggung kebakaran lahan yang terjadi di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur. Ia bilang, kebakaran masih menyisakan satu titik api lagi.

“Kemarin misalnya yang terbakar di Bromo. Itu sudah segera kita tuntaskan. Semalam sudah hanya tinggal 1 titik api saja,” ujar Djamari.

Pada saat bersamaan, selain Bromo, Djamari menyebut kasus kebakaran di Gunung Gede Pangrango dan Gunung Rinjani juga telah diatasi.

“Di Jawa Barat juga sudah diselesaikan itu Gunung Gede Pangrango. Itu pun sudah selesai. Kemudian di Rinjani juga ada. Itu juga sudah selesai,” sambungnya.

Ada informasi, kebakaran di Gunung Bromo diduga akibat kelalaian manusia. Menanggapi hal itu, Djamari tak menampik dugaan itu.

“Gini ya, Bromo itu kan dingin, kemudian banyak orang di situ mungkin sampai kedinginan-kedinginan. Mungkin dia lupa memadamkan (api),” ucap dia.

“Seperti beberapa tahun yang lalu kan orang hanya berfoto (prewed) saja kan bisa terbakar begitu. Kira-kira begitu karena human error,” tuturnya.

Ingatkan Potensi Kebakaran TPA

Helikopter dikerahkan untuk memadamkan kebakaran sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, Senin (6/7/2026). Foto: BNPB

Djamari mengingatkan potensi kebakaran lahan selama kemarau melanda. Tak cuma lahan hutan, tempat pembuangan sampah juga harus diperhatikan.

“Kita juga harus memperhatikan tempat pembuangan akhir sampah. Itu jadi pengawasan kita, jangan sampai itu terbakar kita memikirkan yang sana (kebakaran hutan), yang sini (TPA) terbakar,” ujar Djamari.

Sejumlah langkah antisipasi terus dilakukan agar tidak ada TPA sampah yang terbakar. Mulai penyiraman air hingga mengawasi orang-orang yang beraktivitas di sekitar TPA.

“Upaya yang dilakukan untuk mengendalikan itu adalah di TPA itu selalu dibasahi agar tidak terbakar,” jelasnya.

“Selain itu juga diawasi, dicegah jika ada orang yang membuang puntung rokok di sekitar itu,” ucapnya.

Jika kecolongan, kebakaran TPA menimbulkan risiko kesehatan akibat adanya gas metana beracun yang terkandung dari sampah dan diperparah asap saat terbakar.

Kapolda-Pangdam Gagal Tangani Karhutla Bisa Dicopot

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago menyampaikan keterangan pers usai rapat koordinasi penanganan kebakaran hutan dan lahan di Gedung Utama Kemenko Polkam, Jakarta, Senin (10/8/2026). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Djamari menegaskan kegagalan penanganan karhutla bisa mengancam karier para Kapolda hingga Pangdam setempat.

Pernyataan itu disampaikan Djamari merespons pertanyaan wartawan soal Presiden ke-7 RI, Jokowi, yang pernah mengeluarkan kebijakan akan mencopot Kapolda hingga Pangdam yang gagal menangani karhutla.

"Masih berlaku (kebijakan tersebut). Pada saat saya berkeliling ke daerah, saya tekankan itu. Keberhasilan Anda mengendalikan (karhutla) tadi adalah bagaimana karier Anda ke depan," kata Djamari.

Menurut Djamari, tingkat keberhasilan itu diukur dari bagaimana aparat setempat bisa mengendalikan titik-titik api yang ada.

"Bukan hanya ada, kalau titik api kan bisa titik api banyak. Sekarang pun titik api ada. Artinya, dalam upaya mengendalikannya disebut, diukur berhasil atau tidak berhasil. Kalau tidak berhasil, dia punya konsekuensi," jelasnya.