Lewis Hamilton Beri Sinyal Bertahan di F1 Demi Balapan di Afrika

kumparanSPORTverified-green

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pebalap tim Ferrari Lewis Hamilton saat balapan F1 Grand Prix Meksiko di Autodromo Hermanos Rodriguez, Mexico City, Meksiko, Minggu (26/10/2025). Foto: Henry Romero/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Pebalap tim Ferrari Lewis Hamilton saat balapan F1 Grand Prix Meksiko di Autodromo Hermanos Rodriguez, Mexico City, Meksiko, Minggu (26/10/2025). Foto: Henry Romero/REUTERS

Pembalap Formula 1 Lewis Hamilton memberikan sinyal untuk terus berkarier hingga usia 45 tahun demi mengabulkan impian lamanya membalap di benua Afrika. Seperti dikutip dari laporan ESPN, pengumuman kesepakatan sepuluh tahun Formula 1 dengan Rwanda menjadi alasan utama sang juara dunia tujuh kali mempertimbangkan perpanjangan kariernya.

Kontrak Hamilton bersama tim Ferrari saat ini menyisakan satu tahun lagi saat dirinya menginjak usia 41 tahun. Namun, kepastian gelaran balapan di Kigali yang direncanakan mulai berjalan dalam empat tahun ke depan mengubah rencana masa depannya.

Ambisi Besar Menjaga Kebugaran Demi Rencana Jangka Panjang

Hamilton menyampaikan keinginannya untuk tetap bersaing di lintasan bersama para pembalap muda dalam durasi yang lebih lama dari perkiraan semula. Kehadiran seri Afrika menjadi dorongan moral terbesar yang memicu semangat bertandingnya.

“Saya sekarang terpaksa harus bertahan jauh lebih lama karena kita memiliki balapan di Afrika dan membalap di sana adalah impian saya,” ujar Hamilton.

Sang pembalap menegaskan komitmennya untuk terus menjaga kondisi fisik agar tetap berada di tingkat kompetitif tertinggi. Ia bertekad memburu hasil terbaik pada musim mendatang demi memastikan tempatnya di grid Formula 1 tetap aman.

Gelombang Kritik dan Isu Sportswashing di Rwanda

Keputusan Formula 1 menjalin kemitraan jangka panjang dengan pemerintah Rwanda memicu perdebatan sengit dari berbagai organisasi hak asasi manusia. Penunjukan negara tersebut memicu kritik tajam mengenai upaya penutupan rekam jejak politik lokal.

Dikutip dari data Associated Press, Amnesty UK menilai kesepakatan ini sebagai bentuk pengalihan isu atas pelanggaran kebebasan berpendapat. Kepala Kampanye Amnesty UK Felix Jakens menyatakan, “Grand Prix sepuluh tahun yang dihadirkan oleh Visit Rwanda adalah hadiah sportswashing bagi otoritas Rwanda.”

Tudingan tersebut mencakup tindakan penahanan sewenang-wenang serta penyiksaan yang diduga dilakukan oleh pihak berwenang setempat. Kritik ini menjadi sorotan tajam di tengah klaim Formula 1 yang ingin membawa dampak positif bagi dunia olahraga.

Misi Edukasi dan Advokasi Perdamaian untuk Benua Afrika

Hamilton sendiri telah aktif melakukan komunikasi intensif dengan CEO Formula 1 Stefano Domenicali dan sejumlah kepala negara di Afrika selama bertahun-tahun. Ia meyakini bahwa kehadiran ajang balap jet darat dapat membuka mata dunia terhadap kekayaan budaya benua tersebut.

Pembalap asal Inggris ini juga menyoroti dampak sisa kolonialisme yang masih membebani wilayah Afrika hingga saat ini. Ia mendorong perubahan kurikulum pendidikan global agar lebih banyak mengajarkan sejarah nyata mengenai benua tersebut.

“Saya benar-benar berharap Afrika dapat bersatu karena mereka akan menjadi sangat kuat jika itu terjadi,” ungkap Hamilton.

Selain mengadvokasi persatuan Afrika, Hamilton turut menyerukan seruan perdamaian global untuk konflik di Kongo, Sudan, Suriah, hingga Palestina. Ia mengajak seluruh pihak untuk menyikapi setiap permasalahan dunia dengan rasa rendah hati demi terciptanya perdamaian.